Bertemu Di Tahun 1998

Bertemu Di Tahun 1998
133


__ADS_3

Diandra sudah berada di rumah setelah makan siang bersama mertuanya tadi.


Malam hari dia sedang memilih-milih undangan untuk pernikahan mereka.


Mike dan Diandra duduk berdampingan di ranjang, keduanya juga melihat model-model gaun pengantin.


"Mike lihat ini, ini bisa dipakai oleh keluarga biar mereka memakai yang seperti ini dengan sama," kata Diandra menunjuk model pakaian untuk para keluarga


Mike melihatnya, "Itu tidak perlu, keluarga kita hanya keluarga Om Heru dan keluarga Niko,"


"Papa?" tanya Diandra pelan


Mike mengangkat wajahnya menatap Diandra, dia hanya diam.


"Bisakah kita mengundang Papa sekeluarga?" tanyanya lembut


Mike memegang wajah Diandra, "Jika dia mau kenapa tidak?" ucapnya


Diandra tersenyum, "Terima kasih sayang," Diandra memeluknya dengan bahagia


"Papa pasti mau," ucapnya


"Darimana kamu tau, bukankah dia yang melarang kita menikah dan ingin memutus hubungan ayah anak?" tanya Mike


"Nanti lihat sendiri. Lusa kita memintanya mengukur badan bersama Om Heru sekeluarga dan Kak Niko sekeluarga, juga asisten kamu," kata Diandra senang

__ADS_1


Mike mengangguk, "Apa kamu menemui papa diam-diam?" tanyanya


"Papa yang diam-diam menemuiku di rumah sakit dan tadi pagi aku mengenalkan Alvaro pada Papa, dia sangat bahagia bertemu cucunya," kata Diandra bahagia saat mengingat tadi pagi


"Benarkah?" tanya Mike yang sedikit kurang percaya.


Diandra mengangguk, "Lihat saja lusa, kamu pasti akan percaya ucapanku," ucapnya yakin dan bangga.


"Ya ya aku percaya," kata Mike sambil mengelus rambut istrinya lalu dia turun dari tempat tidur mengatakan ingin cari angin dulu ke depan.


Mike berjalan ke depan dan mengambil sesuatu dari Dito yang baru datang.


Setelah Dito pamit pergi dia duduk sendiri di depan dan membuka bungkus rokok dan langsung memetik api.


Sudah lama dia tidak merokok, sejak kembali bersama Diandra ini pertama kalinya dia menyentuh rokok lagi setelah beberapa bulan.


Menghisap 2 batang rokok lalu akan kembali masuk, dia membuang bungkusan itu ke tempat sampah.


Sambil memainkan ponsel, dia naik keatas dan langsung masuk ke kamar, saat ini Diandra masih sibuk melihat-lihat contoh gaun. Di samping Diandra juga bersandar boneka besar yang dibawanya dari apartemen. Mungkin maksud Diandra boneka itu sebagai penggantinya saat dia pergi.


Diandra tersenyum melihatnya masuk, dia juga tersenyum lalu berjalan ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mandi sekali lagi biar bau rokoknya hilang.


Setelah memastikan baunya hilang dia kembali mendekati Diandra.


"Tidur dulu," ucapnya

__ADS_1


Diandra mengangguk lalu menyimpan majalah di meja dan juga menyimpan boneka di tepi.


Dia mendekat dan berbaring di samping Mike lalu memeluknya dan memejamkan mata sambil tersenyum bahagia.


Mike mengecup dahinya, "Mimpi indah," ucapnya


Diandra masih tersenyum, "Aku merasa aku adalah cinderella nyata bukan dongeng," ucapnya masih dengan mata tertutup


"Aku mendapatkan pangeran tampan yang diimpikan banyak gadis cantik, aku sangat beruntung, entah kebaikan apa yang kulakukan di kehidupan lalu hingga bisa seberuntung ini," katanya


"Kamu yang tercantik," ucap Mike


Tidak berapa lama nafas Diandra merata, dia tertidur nyenyak.


"Kamu salah, akulah pria yang beruntung mendapatkan wanita sebaik kamu," ucap Mike pelan


Mike tersenyum melihat wajah tidur istrinya, dia mengeratkan pelukannya dan ikut tertidur.


*


Tiba hari yang ditentukan untuk mengukur badan pembuatan baju yang seragam, Papanya Mike lebih banyak diam, dia sibuk bermain dengan cucunya.


Mike melihat kearah papanya sesekali, semua orang tau kekakuan 2 orang itu.


Diandra yang selalu memecah ketegangan, sesekali dia minta pendapat mertuanya dan langsung diberi solusi.

__ADS_1


Dia sengaja mendekatkan mereka supaya tidak terlalu kaku.


__ADS_2