
Kini waktu berjalan begitu cepat, tak terasa usia baby memasuki tahun ke enam . Mereka tumbuh dengan begitu menggemaskan, hampir setiap orang yang melihatnya akan meresa ingin sekali mencubit pipi gembul dan ketampanan mereka.
Ansel Arsalaan, biasa akan dipanggil abang. Sifatnya mendominasi sang mommy, namun jiwanya seperti daddynya. Yang kedua adalah Arick Arsalaan, tidak ada yang bisa membedakan sifat asli dari dirinya dan juga sang daddy.
" Abang, sudah siap nak?" Kiya memasuki kamar si sulung, untuk memastikan jika ia telah bersiap untuk kesekolah.
" Iya mom, abang sudah siap." Ansel segera menyambar tasnya dan menghampiri Kiya.
" Alhamdulillah, kita kekamar Arick dulu ya." Kiya menggandeng tangan Ansel dan berjalan menuju kamar puteranya yang kedua.
Ketika pintu kamar telah terbuka, terlihatlah pemandangan yang begitu menakjubkan. Membuat Kiya menggelengkan kepalanya dan tersenyum, ia pun meminta agar Ansel untuk terlebih dahulu menuju meja makan.
" Abang duluan saja ya, daddy sudah menunggu untuk sarapan. Nanti mommy menyusul, oke sayang."
" Baiklah mom." Ansel berjalan dengan malasnya menuju meja makan.
Azzam yang sudah terlebih dahulu berada disana, dengan menikmati secangkir teh hangat dan melihat beberapa email yang masuk menggunakan ponselnya. Melihat putera sulungnya datang sendirian dan dengan wajah yang begitu masam dan bertekuk, lalu ia meletakkan ponselnya.
__ADS_1
" Ansel, ada apa nak?" Menyapa putera sulungnya yang masih berdiam diri.
Tidak ada tanggapan dari sang putera, ia hanya berdiam diri dengan sifat dinginnya. Bagaikan pinang dibelah dua dengan dirinya, Azzam hanya tersenyum renyah melihatnya. Hanya mommy yang bisa menakhlukkan hati sang putera, walaupun Azzam sudah membujuknya. Hal itu tidak akan berhasil.
......................
Melihat Ansel telah berlalu, Kiya memasuki kamar putera keduanya. Begitu dirinya masuk ke dalam kamarnya, masih terlihat tubuh kecil itu meringkuk dibawah selimut.
" Arick, bangun nak. Nanti kalian bisa terlambat ke sekolahnya, hayolah sayang." Kiya bersuara sembari membuka gorden kamar tersebut.
" Ergg, mom! Ini masih awal." Arick menolak untuk bangun.
" Akh, tidak! Baiklah, mommy menang." Dengan penuh rengekkan, Arick tetap menjalankan apa yang mommynya katakan.
Menunggu Arick siap, Kiya sedikit membereskan kamar sang putera. Karena kedua puteranya tidak mau jika kamarnya disentuh oleh orang lain, selain mommynya. Bahkan sang daddy pun akan kena omelan mereka, jika berani memasuki kamar mereka secara diam-diam. Setelah beberapa menit, akhirnya Arick telah siap dan mereka pun segera bergabung bersama yang lainnya.
" Abang, kenapa belum sarapan nak?" Saat tiba di meja makan, Kiya melihat sang putera belum menyentuh apapun.
__ADS_1
" Ah, sayang! Kenapa mereka saja yang mendapatkan perhatianmu, membuat daddy cemburu saja." Azzam memberikan protesnya kepada sang istri.
" Iii, daddy seperti anak kecil saja." Arick mencela perkataan Azzam.
" Jika daddy seperti anak kecil, kau tidak akan ada boy." dengan dinginnya Azzam menjawab perkataan Arick.
" Sudah-sudah, tidak baik berbicara seperti itu dihadapan rezeki yang ada. Ayo bang, sarapannya dimakan. " Kiya pun menemani ketiga prianya sarapan dengan perasaan yang bahagia.
Azzam dan Arick masih saling melempar pandangan yang sangat tajam, mereka berdua akan selalu bertengkar untuk mendapatkan perhatian dari Kiya. Namun tidam bagi Ansel, ia akan selalu menjadi perhatian sang mommy. Kerena mereka berdua memiliki sifat yang sama, tapi tidak untuk jiwanya.
Selesai dengam sarapannya, Kiya akan menghantarkan kedua puteranya untuk perfi ke sekolah dan Azzam akan pergi ke kantor. Mereka menuju kendaraannya, saat akan berpamitan kepada suaminya. Kiya tertahan oleh sikap Azzam yang pencemburu.
" Mas, malu ih dengan anak-anak." Kiya tersipu karena Azzam memeluknya.
" Kenapa harus malu, kamu lebih perhatian dengan anak-anak. " Azzam semakin mengeratkan pelukannya, dan sesekali ia menghujani Kiya dengan ciumannya.
" Mas, mas. Jadi ceritanya cemburu ni, sama anak sendiri kok cemburu. Kamu yang malahan mendapatkan perhatian lebih disaat malam hari, masih kurang ya." Kiya mencubit perut kotak-kotak sang suami.
__ADS_1
" Hahaha, kamu selalu benar sayang." Azzam tertawa penuh kemenangan.
" Aakkkhh!!"