
Sudah satu jam lamanya, tidak ada yang memberitahukan tentang keadaan Kiya. Azzam pun menjadi seperti orang gila menunggunya.
Brak!
Gabriel keluar dari ruangan tersebut, dengan cepat ia mendekati Azzam.
" Kiya sadar, kondisinya begitu lemah. Dia memintamu untuk menemaninya, kau!! Bersihkan diri terlebih dahulu, dan bergegaslah. Kita harus mengeluarkan anak-anak kalian segera." Gabriel begitu kaget melihat Azzam masih dengan pakaiannya.
Mendengar sang istri tersadar, Azzam langsung menuruti perkataan Gabriel. Kenan dan yang lainnya menghembuskan nafas, akhirnya bos mereka mau menuruti perkataan Gabriel. Disaat Azzam sedang membersihkan diriz mereka bertiga menanyakan kondisi dari nonanya.
" Bagaimana kondisi nona, tuan Gabriel?!" Ujar Daffa diikuti tatapan yang mata dari yang lainnya.
" hufh! Baru kali ini, aku menemukan pasien yang begitu kuat. Adikku sangat kuat, walaupun ia sempat mengalami syok. Kini dia sadar dan masih berjuang untuk melahirkan." Gabriel tidak dapat menahan dirinya untuk memuji sang adik dan air mata pun kembali menetes.
Mereka bertiga merasa sangat senang, ternyata nona mereka merupakan wanita yang begitu kuat. Kemudian terlihat Azzam yang sudah segar dan bersiap untuk masuk ke dalam ruangan tindakan.
" Aku sudah siap." Sapa Azzam kepada Gabriel.
__ADS_1
" Baiklah, dan kalian bantulah dengan terus berdo'a agar semuanya selamat." Gabriel dan Azzam pun berjalan memasuki ruangan.
" Ah, semoga saja nona dan keponakanku baik-baik saja. Oh Tuhan, selamatkanlah mereka. Aamiin." Dzac dengan mulut lemesnya berdo'a.
" Aamiin." Kenan pun mengaminkan do'a yang Dzac ucapkan.
Mereka berdua pun sama-sama tegangnya, menunggu hasil dari tindakan yang dilakukan kepada nonanya. Daffa pun akhirnya ikut bergabung, setelah melihat kondisi dari Rayyan.
......................
Saat memasuki ruang tindakan, jantung Azzam sudah tidak dapat diatur lagi detakkannya. Melihat wanita yang berada diatas brankar rumah sakit, dengan berbagai alat medis yang menancap pada tubuhnya. Berusaha kuat dihadapan wanita yang sangat ia cintai.
" Sayang! Iya, mas disini. Jangan takut." Azzam pun duduk disamping kepala Kiya, dengan tempat duduk yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
" Baby akan lahir." Kiya berujar dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Ssttt, jangan menanggis lagi. Airmata ini, tidak akan mas izinkan lagi untuk menetes, ia akan menetes hanya untuk kebahagiaan. Mas janji!!!" Azzam mengecup kening Kiya dengan perlahan.
__ADS_1
" Terima kasih mas." Kiya merasakan kebahagian yang luar biasa, rasa sakit yang ia rasakan sebelumnya. Kini, telah RabbNya gantikan dengan hilangnya kesedihan pada dirinya.
Dokter memutuskan untuk segera mengoperasi caesar, agar dapat mengeluarkan bayi-bayi tersebut. Kerena riwayat sang ibu yang mengalami plasenta previa dan pendarahan yang hebat, disertai air ketuban yang sudah berkurang drastis.
" Kita mulai ya, jangan tegang. Santai saja." Dokter memberikan arahan sebelum dilakukannya tindakan caesar.
Azzam menggengam jemari tangan mungil tersebut, sembari tangan lainnya menggusap kepala serta mencium sisi kepala milik sang bidadari hatinya. Luka yang terdapat pada tubuh Azzam masih begitu terbuka, namun luka itu tidak sebanding dengan luka yang istrinya alami. Mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan baby mereka.
Oek, oek...
" Baby pertama, tuan nona. Laki-laki." Dokter menunjukkan bayi laki-laki yang baru saja lahir kedunia, lalu bayi itu diberikan kepada perawat untuk dibersihkan.
" Sayang, terimah kasih." Azzam menanggis menyaksikan baby pertama mereka telah lahir, kecupan kembali ia berikan kepada istrinya. Kiya hanya tersenyum melihat kelahiran anaknya yang pertama, air mata pun mengalir tiada hentinya di sudut mata.
Setelah beberapa menit kemudin, terdengar kembali suara tanggisan bayi yang kedua. Hal itu membuat Kiya merasa teramat bahagia, kesempurnaannya sebagai wanita kini telah diberikan. Menjadi seorang ibu dari anak-anak yang ia kandung, Azzam pun ikut larut dalam suasana bahagia itu.
" Mas, ngantuk." Tiba-tiba Kiya berkata kepada Azzam seperti itu.
__ADS_1
" Sayang! Kenapa, apa ada sesuatu yang kamu rasain? Dokter! Dokter. " Azzam berteriak panik lalu menjadi ketakutan dengan kejadian tersebut, ia mengira terjadi sesuatu pada istrinya.