
Setelah beberapa hari mendapatkan perawatan dirumah sakit, Kiya pun diperbolehkan untuk pulang. Kembalinya Kiya di rumah, membuat penghuninya merasa sangat gembira. Terutama Kenan dan Dzac, kehadiran Kiya dalam kehidupan Azzam dan yang lainnya sungguh sangat berpengaruh besar.
" Nona!!!" Kenan dan Dzac berteriak bersamaan, mereka segera berlarian untuk menyambut kedatangan Kiya.
Tanpa diperhitungkan, Dzac melebarkan tangannya untuk memeluk Kiya. Dengan telak, pukulan dari kedua pria lainnya menghantam tubuh Dzac dengan sangat kuat. Membuat Dzac terhuyung mundur kebelakang, dan bokongnya terhembas ke bawah.
" Aaarrghh!! " Keluh Dzac.
" Mau mati kau Dzac, hah !!" Azzam mengepalkan tangannya dan menatap tajam kepada Dzac.
Begitu pula pada Kenan, wajah garangnya itu sangat mengerikan menatap Dzac. Sungguh pemandangan yang begitu miris untuk Dzac, sangat konyol.
" Mas!" Tangan mungil itu mengelus dada bidang sang suami, Kiya sangat ingin untuk tertawa melihat kekonyolan Dzac. Namun, paling utama ia harus menjinakkan sang suami yang terlihat sangat marah.
" Tapi Yang!" Azzam mengerti jika istrinya itu sangat tidak suka dengan kekerasan.
" Tidak baik marah-marah terus, nanti babynya ikut ketularan sifatmu itu mas. Dzac! Kamu tidak apa-apa kan?" Perhatian Kiya pun beralih kepada Dzac, yang masih mengelus-ngelus bokong dan tubuhnya.
" Ah nona, sakit nona. Tapi rasa sakitnya sudah hilang, saat melihat nona sudah pulih. Terima kasih nona, anda sangat perhatian." Dzac memulai dengan sifat tengilnya, dia tidak tau jika bosnya itu sedang menahan amarah yang sangat besar kepadanya dan dia malah asik tertawa kepada Kiya.
Plaakk!!!
Kenan kembali memberikan pukulan di kepala Dzac, lalu ia menarik telinganya dengan sangat kuat. Kiya pun kembali membelanya, tak hayal membuat Azzam diliputi rasa cemburu dan meninggalkan Kiya untuk memasuki rumahnya.
" Kenan, kasihan Dzac. Oh iya, terima kasih atas perhatian kalian ya. Maaf jika mas Azzam selalu suka berbuat kasar pada kalian berdua, saya masuk dulu ya." Kembali Kiya tersenyum dan berjalan memasuki rumahnya untuk menyusul sang suami yang sedang dilanda rasa cemburu.
Sepeninggalnya Kiya, Kenan kembali bertengkar pada Dzac. Sungguh membuat Kenan ingin sekali mengeksekusi temannya itu, tak tahan dengan sifat tengilnya.
__ADS_1
" Kau ini, benar-benar manusia atau bukan, hah! Mati saja kau!" Kenan dengan keras mengumpat Dzac.
" Ish, iri bilang bro. Kau memang cocok dengan Daffa, sama-sama nggak punya kepekaan terhadap wanita. Huh!" Dzac pun langsung berlari kabur, untuk menghindari serangan mendadak dari Kenan.
" Kau !!!" Kenan hanya bisa mengerang dan menahan amarahnya, melihat Dzac yang sudah duluan kabur.
Bik Ipah yang baru saja hadir untuk menyambut kepulangan Kiya, hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyol dari mereka. Lalu ia melanjutkan kembali pekerjaannya, semenjak kehadiran Kiya dirumah tersebut. Memberikan warna tersendiri bagi mereka yang berada disana.
......................
Kiya memasuki rumah dan menuju ke kamarnya.
Hufh! Sepertinya, harus ekstra tenaga untuk membujuk mas Azzam. Sikap posesif dan protectivenya itu sungguh melampaui batas, walaupun ada plus minusnya. Mas, mas. Kiya.
Klek!
Kiya membuka pintu kamar dengan perlahan, memasukinya dengan melemparkan pandangannya ke dalam ruangan tersebut. Terlihat sang suaminya itu baru saja keluar dari kamar mandi, dengan keadaan sudah berpakaian rapi.
" Hem." Azzam tidak terlalu menggubris panggilan dari Kiya, ia hanya fokus untuk dirinya sendiri.
" Mau pergi, mas?! " Ujar Kiya yang melihat dandanan dari suaminya.
" Hem." Hanya itu yang keluar dari mulut Azzam.
" Hem, baiklah! Jangan lupa bawa kunci rumah. Oke!" Kiya pun berjalan melewati Azzam menuju kamar mandi dan langsung mengunci pintunya dari dalam, rasa lengket pada tubuhnya sangat tidak enak.
Sejenak Azzam berfikir, ia merasa sedikit bingung dengan ucapan istri mungilnya itu. Saat pikirannya sudah bisa menerka arti dari perkataan sang istri, langsung saja ia mengetuk pintu kamar mandi dengan sangat kuat.
Tok tok tok
__ADS_1
" Sayang, buka pintunya!"
" Kenapa?" Jawab Kiya dari dalam kamar mandi, sambil menahan tawa.
Pasti mas Azzam baru sadar, rasain. Emang enak dikerjain! Kiya.
" Buka dulu Yang, kamu ngapain sih di dalam? Ayo buka Yang." Azzam masih berusaha untuk membujuk Kiya.
" Katanya tadi mau pergi! Sudah sana, pergi saja. " Tawa itu semakin ingin meledak dari mulut Kiya, ia terus saja melanjutkan tujuannya untuk membersihkan diri.
" Yang! Mas hanya bercanda, mas nggak pergi kok. Hanya membersihkan diri, ayolah Yang, buka pintunya." Azzam terus mengetuk pintu kamar mandi, berharap Kiya segera keluar.
Kiya pun tertawa dengan sangat puas, setelah selesai. Kiya membuka pintu kamar mandi, saat kakinya baru saja melangkah untuk keluar dari sana. Tubuhnya langsung saja mendapatkan serangan berupa pelukan dan kecupan dari sang suaminya, Kiya tidak bisa lagi untuk menahan tawanya.
" Hahaha, ampun mas!"
"Rasain, siapa suruh ngerjain mas, hah!" Serangan Azzam semakin gencar.
" Udah ah, kayak anak kecil saja. Makanya, jangan suka marah-marah terus. Udah mas, lepasin. Kasihan baby, nanti kejepit."
" Ah, hampir saja lupa. Maafin daddy ya nak, mommy kalian ini sudah membuat daddy cemburu. Sehat-sehat ya didalam perut mommy." Cup, Azzam mencium perut Kiya.
Mereka berdua pun kembali seperti semula, dan saat ini mereka sedang melaksanakan kewajibannya untuk sholat. Setelah sholatnya ditunaikam, terdengar suara ponsel Azzam yang berbunyi. Langsung saja Azzam menyambarnya dan menjawab panggilan telfon tersebut.
" Hallo."
" Bos! ...." Kenan yang menelfon, membuat rahang azzam mengeras dan menimbulkan suara. Lalu sambungan telfon itu terputuskan.
" Ada apa mas?" Tanya Kiya saat menghampiri suaminya, dan terlihat wajah Azzam seperti menahan amarah.
__ADS_1
" Kamu tetap disini, jangan keluar kamar. Ingat, jangan keluar dari kamar." Azzam mengelus puncak kepala Kiya, berjalan menuju pintu untuk keluar dan langsung menguncinya.
......................