
Prang!!!
Vas bunga itu hancur berantakan, dan berserakkan di lantai. Darah Andrian terasa sangat mendidih kala itu, begitu pula dengan Marsya. Ia sangat terkejut jika Andrian menyadari dirinya yang akan menyerangnya dengan bas bunga tersebut, menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Perlahan ia berjalan mundur, karena Andrian telah memposisikan tubuhnya berhadapan.
" Heh! Kau kira bisa membunuhku! Dan kau bisa bebas begitu saja, dasar bre***ek!!" Andrian menyadari jika Marsya akan menyerangnya dari pantulan bayangan pada cermin yang ada di hadapannya, dengan cepat ia bisa menghindar dari serangan tersebut.
" Tidak, tidak!!" Marsya berteriak disaat ia melihat Andrian tengan mengambil pecahan dari vas bunga itu, ia pun segera mundur dan berlari untuk menghindar.
Saat Marsya sudah berada di depan pintu keluar, tangannya terus bergerak membuka pinti tersebut. Walaupun dengan berbagai cara apapun ia membukanya, hal itu tidak akan terjadi. Karena Andrian sudah menyembunyikan kunci atau card yang digunakan untuk membuka pintu di balik jas yang ia pakai, dengan senyuman yang sangat mengerikan. Perlahan-lahan Andrian berjalan mendekati Marsya yang sudah terkunci pergerakannya, dengan pecahan vas bunga yang berada di tangannya.
" Heh! Mau kabur?! Tidak akan bisa kau kabur dariku, setelah apa yang kau perbuat selama ini. Jangan kau kira, aku akan melepaskanmu begitu saja."
" Ti tidak Andrian, aku begitu mencintaimu. Aku hanya kesepian, pri pria itu sudah membodohi aku. Percayalah, aku tidak membohongimu." Marsya dengan panik, ia terus berusaha menghindar dari Andrian.
" Hahaha! Mencintaiku?!!! Oh tidak, aku sungguh sudah muak mendengarnya!!" Melihat Marsya yang sudah terkunci pergerakannya di sudut ruangan, dengan cepat Andrian berlari mengejarnya dan menarik rambut Marsya yang terurai.
" Aargh! Lepaskan, Andrian sakit!" Teriak Marsya dengan meringgis.
" Diam!!! Atau kau mau aku lenyapkan, hah?!" Andrian menjatuhkan tubuh Masrya ke bawah, dengan menggunakan kakinya ia mengunci tubuh Marsya hingga tidak bisa bergerak.
__ADS_1
" Lepas Andrian, tolong lepaskan aku. Aku mohon, aku tidak akan menganggumu lagi. Tapi, tolong lepaskan aku" Marsya terus mencoba memberikan kata-kata manisnya kepada Andrian, agar ia melepaskannya.
" Akh!" Marsya semakin kuat berteriak, akibat dari rambut kepalanya yang ditarik Andrian.
" Aku tidak akan jatuh pada lubang sama untuk kedua kalinya." Dengan nada mengejek, Andrian membenturkan kepala Marsya pada lantai.
Dugh
Dugh
Dugh
Dengan dipenuhi rasa amarah yang sangat besar, Andrian semakin menggila untuk menyiksa Marsya. Bahkan untuk sekedar menggambil nafas pun, tidak Andrian berikan. Ia terus memberikan hukuman tanpa belas kasih, kini tubuh wanita itu sudah dipenuhi dengan luka lebam, dan beberapa luka itu mengeluarkan darah. Dan pecahan vas bunga itu mulai mengukir dengan begitu indahnya pada wajah yang cantik itu, terdengar suara yang sangat keras.
Brak!
Seorang pria masuk dengan begitu cepat menghampiri Andrian, menahan agar dirinya tidak lagi melukai Marsya.
" Lepas! Lepaskan! Jangan ikut campur, Tama!" Teriak Andrian, disaat tubuhnya dilerai.
__ADS_1
" Tidak tuan, anda bisa terkena jeratan hukum jika seperti ini." Tama, merupakan orang kepercayaan dari Andrian dalam mengurusi perusahaan dan lainnya.
" Akh! Bre***ek!" Dengan nafas yang masih memburu, Andrian melayangkan kepalan tangannya ke udara.
Tama mengambil alih untuk menangani Marsya, saat itu kondisinya sudah cukup mengenaskan. Beruntung saat tiba di perusahaan, ia melihat bosnya itu keluar dengan wajah yang sangat emosional. Lalu ia mengikutinya, hanya saja ia tidak bisa langsung masuk ke dalam apartemen itu. Ia harus menghubungi dan menyakinkan keamanan yang bertugas untuk mendapatkan kunci akses.
" Kali ini kau bisa lolos, tapi tidak untuk selamanya. Jika kau berulah kembali, aku tidak akan segan-segan untuk meleyapkanmu. Camkan itu ja***ang!! Tama, kau bereskan wanita ini. Jangan sampai dia masih berada disini, pastikan apartemen ini kau jual setelahnya." AndriN kemudian melangkah meninggalkan apartemen tersebut.
" Silahkan anda mengemasi barang-barang anda, nona. Jangan sampai, saya menggunakan kekerasan untuk hal ini. " Dengan tenangnya Tama berujar, dan Marsya. Dia tidak bisa untuk berkata-kata lagi, tubuhnya sangat terasa seperti mati.
Tama pun segera keluar dari apartemen tersebut, disaat Marsya sudah keluar dan pergi dari sama.
" Andrian, akan aku balas perbuatanmu ini. Lihat saja kau!" Marsya mengumpat dengan penuh kekesalan dan amarah.
" Jaga saja nyawa anda, nona. Jangan sampai anda buang dengan sia-sia!" Tama berbicara dari balik tubuh Marsya, mendengar suara itu. Marsya juga mengumpat Tama.
" Dasar bre***ek!" Dengan tertatih, Marsya meninggalkan tempat tersebut dengan disaksikan Tama yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Wanita aneh. Tama.
__ADS_1