BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 105


__ADS_3

" Arick!!!" dengan begitu kesalnya ia mengumpat sang adik.


Beberapa wali murid dengan gemasnya, mulai mentoel-toel pipi Ansel. Ada juga yang memeluk dan bergumam dengan ketampanannya.


" Kamu kenapa begitu tampan nak, nanti kalau sudah besar. Mau ya jadi menantu tante."


" Ganteng! Sini, duduk sama aunti ya. "


Masih banyak lagi yang bergumam mengenai ketampanan dari wajah Ansel, walaupun terlahir kembar. Arick juga mempunyai ketampanan yang hampir sama dengan Ansel, namun tidak melebihi sang abang. Karena sifatnya Arick yang mudah membaur dengan orang lain dan juga ia lebih sering mengumbarnya. Jadi, semua orang tidak begitu tertarik.


Ansel berjalan begitu saja melewati semua orang menuju kelasnya, selamat dari gangguan ibu-ibu yang mengaguminya. Kini Ansel harus menghadapi teman saku kelasnya yang suka sekali mendekatinya, dengan begitu malasnya Ansel duduk ditempatnya menunggu jam pelajaran berakhir.


" Ansel, sstttt. Ansel!!" Suara yang memanggil namanya.


" Woi, tuli apa lo. Ganteng-ganteng kok tuli, hahaha." sang anak perempuan itu mulai menggoda dan menjahili Ansel.


Seperti biasa, Ansel hanya akan berdiam diri untuk tidak menanggapi gangguan seperti itu. Hingga akhirnya, waktu pembelajaran pun telah usai. Ansel memilih untuk segera keluar dari ruang kelas tersebut, melewari jalan lainnya untuk menghindar dari berbagai gangguan dari orang yang gemas terhadap dirinya.

__ADS_1


Sedangkan Arick, ia memilih untuk melewati jalan biasanya. Sifat mereka berdua tidaklah sama, Ansel lebih cenderung introvet dari pada kembarannya.


" Paman Jaka, mommy kok tidak ikut menjemput?" Tanya Arick yang melihat tidak ada keberadaan Kiya.


" Oh itu, mommy kalian sedang beristirahat." Jawab Jaka sekenanya.


" Oh, kirain mommy kemana." Arick kembali melanjutkan tidurnya pada bangku disamping Jaka.


Mommy sedang istirahat? Apa mommy sakit? Atau karena sikapku tadi pagi yang membentak mommy? Ya ampun, gara-gara mereka aku jadinya membentak mommy. Akh! Maafin abang mom. Ansel.


Setibanya mereka dirumah, Ansel dan Arick berlalu menuju kamar mereka masing-masing. Setelah berganti pakaian, mereka segera menemui daddynya di ruang kerja.


Tok


Tok


" Masuklah nak." Azzam yang saat itu sedang duduk di sofa, menepuk tempat kosong didekatnya agar kedua puteranya segera ikut bergabung.

__ADS_1


Arick dan Ansel memasuki ruangan kerja milik Azzam dan duduk di dekat sang daddy, Azzam menatap keduanya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


" Daddy ingin mengetahui kegiatan kalian hari ini, bisa ceritakan apa saja yang kalian lakukan boy?" Azzam menopang dagunya dengan menggunakan tangan.


Wadauw, pasti daddy tau tentang masalah jaringan itu. Bisa kacau nih! Arick.


Ansel hanya menyandarkan punggungnya dan tetap saja dengan sikap dingin yang menurun dari daddynya, ia hanya menyaksikan sang adik menjelaskan kegiatan mereka disekolah, namun tidak untuk masalah hacker ataupun banyaknya fans dirinya.


" Hem, kau harus mempertahankan nilai itu boy. Ansel!" Ucapan itu akhirnya menyapa dirinya.


" Tidak ada dad, sama saja seperti yang Arick ceritakan." Dengan tenangnya ia menjawab perkataan Azzam.


" Kenapa sampai membentak mommy? Apa ada yang salah dari mommy, hingga harus hal itu terjadi boy?" Kini Azzam berpindah tempat duduk, dan berdampingan dengan si sulung.


Awalnya Ansel sangat malas untuk menjawab pertanyaan si daddy, namun ia juga merasa bersalah karena sudah membentak mommynya.


" Abang minta maaf dad."

__ADS_1


" Maaf? Karena apa?" Azzam memainkan perannya untuk memancing puteranya untuk bercerita.


" Abang dikejar-kejar sama tante-tante dad, guru-guru di sekolah juga, hahaha. Dan laginya, ada teman kita satu kelas yang selalu menjahilinya dan mengajak abang untuk bercerita." Arick sangat senang dengan ekpresi yang Ansel berikan, hal itu membuatnya ingin terus menjahilinya.


__ADS_2