
Cairan merah itu terlihat pada salah satu tubuh dari anggota mereka, cairan itu mengalir dengan cukup banyak, sehingga kemeja putih berubah menjadi merah.
" Rayyan!!" Teriak Daffa dengan cukup keras, melihat anggota satu timnya tertembak.
Azzam yang saat itu ingin menelfon sang istri, untuk memastikan keadaannya. Dalam situasi tersebut, Rayyan yang melihat seorang musuh yang ternyata belum tewas, mengarahkan senjatanya kepada bos mereka. Dengan begitu cepat Rayyan menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi tuannya, dan hasilnya dialah yang tertembak.
" Rayyan." Azzam cukup tercengang melihat Rayyan tertembak.
Azzam segera mengambil langkahnya dan menghampiri orang tersebut, gerakan memutarkan kepala hingga terdengar suara tulang patah. Membuat orang tersebut tewas seketika.
" Kau tidak apa-apa?". Azzam memastikan keadaan Rayyan.
" Ak aku tidak apa-apa tuan." Namun baru saja ia berkata, darah segar dengan mudahnya keluar dari mulut Rayyan.
" Bawa kerumah sakit sekarang!" Bentakkan Azzam membuat Daffa tersadar, jika ia hanya berdiam diri seperti ini. Maka nyawa Rayyan akan hilang.
Disaat yang bersamaan, ponsel Azzam bergetar. Terlihat satu nama sang penelfon, Kenan. Azzam pun segera mengangkatnya, rasa khawatir pun tak luput dari dirinya.
" Hem."
" Tuan! Kita diserang!" Suara Kenan begitu jelas di telingga Azzam, seketika tubuh Azzam menengang mendengar perkataan Kenan saat itu.
" Kiya! Istriku, istriku bagaimana." Sesaat melihat kepergian Daffa yang membawa Rayyan menuju rumah sakit, Azzam memberikan kode dengan tangannya kepada yang lainnya untuk segera menarik diri dan menuju rumah utama.
" Nona maaih berada didalam kamar bersama bik Ipah tuan." Kenan menjelaskan situasi yang terjadi didasana.
Tanpa berbicara lagi, Azzam langsung saja memutuskan pembicaraan secara sepihak. Lalu ia memasuki mobil yang ia bawa, melajukannya dengan kecepatan yang sangat cepat menuju rumahnya.
__ADS_1
......................
Dor
Dor
Brak!
Suara tembakan dan kegaduhan terjadi di rumah utama milik Azzam, hal itu membuat Kiya yang sedang berada di ruang dapur bersama Ipah menjadi kaget
" Astaghfirullah, ada apa itu bik?" Kiya memegang dadanya, jantungnya menjadi berdetak lebih cepat.
" Bibik tidak tau non, lebih baik kita bersembunyi saja." Ipah merasa khawatir dengan pendengarannya saat itu.
Kiya pun mengikuti apa yang Ipah katakan, mereka memasuki kamar milik Kiya, lalu menutupnya serta menguncinya. Tiba-tiba mereka mendengar lagi kegaduhan dari luar kamarnya, lalu terdengar ketukan pintu dari arah luar.
Tok
Tok
Tok
" Nona! Nona! Saya Dzac!"
" Bik." Kiya menatap Ipah, ia takut itu hanya jebakan.
" Sepertinya itu benar tuan Dzac, nona. Biar bibik saja saja yang membukanya, percayalah." Ipa melepaskan genggaman tangan Kiya dari tangannya.
__ADS_1
Klek!
" Bik, nona bagaimana? Sebaiknya kita keluar dari sini, tuan Azzam sedang dalam perjalanan. Nona, nona Kiya!" Dzac menerobos memasuki kamar tersebut dengan wajah begitu tegang.
" Nona, lebih baik kita keluar dari sini. Situasi dan kondisi di sini sudah tidak memungkin untuk berlindung, tenang saja. Tuan Azzam sedang dalam perjalan menuju kesini. Ayo nona!" Dzac melihat situasi di luar kamar.
" Bik, aku takut. Akh! Sa sakit!" Kiya merintih kesakitan dan menahan perut bagian bawahnya dengan menggunakan tangannya.
" Nona!" Teriak Ipah dan Dzac bersamaan.
Mereka begitu khawatir, dengan kondisi nona mereka saat itu. Bagaimana bisa mereka membawa Kiya untuk berpindah tempat, Kenan pun sedang berusaha mengamankan situasi di luar rumah.
" Akh! Tidak apa-apa, ayo kita keluar. " Kiya berusaha untuk kuat melawan ketakutan dan rasa sakit pada perutnya.
" Baiklah, nona dan bik Ipah berjalan dibelakangku. Dan jangan berhenti jika aku tidak memerintahkannya, keadaan diluar semakin tidak baik." Dzac menerangkan proses evakuasi mereka.
Kiya dan Ipah menganggukkan kepalanya, mereka perlahan mulai berjalan menelusuri setiap ruangan. Perut Kiya semakin keram, namun hal itu tidak ia perlihatkan. Ia tidak ingin membuat yang lainnya menjadi khawatir disaat seperti ini, suara tembakan dan juga berbagai suara serangan sangat terdengar jelas.
Ketika Azzam melihat dari kejauhan, begitu banyak sekali kelompok yang menyerang rumahnya. Mencari jalan lainnya untuk masuk ke dalam, melalui jalan rahasia yang ia miliki. Setelah ia memasuki rumahnya, dengan bergegas ia mencari keberadaan istrinya. Namun hal itu tidak dapat ia temukan, hingga ia melihat Kenan dan menariknya untuk menanyakan keberadaan Kiya.
" Tuan!" Kenan tampak terkejut namun juga merasa lega.
" Dimana istriku?" Azzam langsung menanyakan hal tersebut.
" Nona bersama Dzac tuan, mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat persembunyian." jelas Kenan dengan wajah yang begitu tegang.
__ADS_1
" Baiklah, pastikan keadaannya. Bagaimana situasi diluar?"
Kenan membisikkan sesuatu kepada Azzam, langsung saja hal itu membuat darah Azzam mendidih.