
Saat memasuki waktu subuh, Kiya yang sebelumnya baru saja terlelap sebentar dari aktivitas malam bersama suaminya. Terasa sangat melelahkan, jika sang suami sudah dalam mode 'ingin'. Disaat akan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, tiba-tiba Kiya merasakan pusing yang teramat sakit di bagian kepalanya.
" Kok tiba-tiba sakit kepala, semalam tidak apa-apa??" Kiya bertanya pada dirinya sendiri, sedangkan sang suami masih asik dalam balutan dunia mimpi dan selimutnya.
Kiya pun mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi, lalu ia membangunkan suaminya.
" Mas, mas Azzam. Bangun mas!" tangan mungil itu menggoyang-goyangkan tubuh Azzam dengan perlahan.
Azzam mengeliat dari tidurnya, mendapatkan Kiya yang sudah terlebih dahulu bangun dari tidurnya. Namun keningnya berkerut, saat melihat Kiya aeperti lagi menahan sesuatu.
" Sayang! Ada apa? Wajah kamu terlihat sedikit pucat." Ada rasa kecemasan yang Azzam rasakan.
" Kepalaku sedikit sakit mas, sudah mau masuk waktu subuh. Mas bisa bantu kekamar mandi nggak?" Masih memejamkan matanya, Kiya sangat tidak sanggup jika harus berjalan sendirian ke kamar mandi.
" Hem, ayok mas bantuin." Perasaan tak tega dengan keadaan sang istri, Azzam tidak mau jika terjadi sesuatu kepada Kiya.
" Ya ampun, mas mas. Semangat bener, tuh pakaiannya dipakek dulu." Kiya menunjuk ke arah tubuh suaminya yang masih polos tanpa sehelai benangpun.
" Hehehe, kan mau sekalian bersih-bersih Yang. Tanggung kalau pakek pakaian." Azzam langsung saja mengendong Kiya menuju kamar mandi, membantah Azzam pun tidak akan membuahkan hasil.
Setelah selesai membersihkan diri, mereka pun melaksanakan sholat subuh berjama'ah. Karena tidak sanggup untuk berdiri, maka Kiya pun mengerjakan sholat dengan keadaan duduk.
" Kita panggil dokter saja ya, biar kamu diperiksa. Mas khawatir!" Terlihat di wajah Azzam, tampak kecemasan dengan keadaan Kiya.
" Nggak apa-apa kok mas, mungkin hanya kelelahan dan kurang istirahat saja. Insyaa Allah nanti sembuh kok, mas maaf ya nggak bisa nyiapin pakaian dan sarapannya hari ini." Kiya menggenggam tangan Azzam dengan lembut.
__ADS_1
Cup!!
" Tidak apa-apa, mas seharusnya tidak membuat kamu kelelahan. Maaf ya sayang! Istirahat ya, nanti kalau ada apa-apa. Bilang saja sama bik Ipah, ponselnya dideketin. Biar mas mudah menghubungi. Mas berangkat kerja dulu, setelah semuanya selesai mas akan segera pulang. Istirahatlah!" Azzam melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan menuju meja makan untuk sarapan. Dimana disana sudah ada Daffa yanh menunggu.
" Selamat pagi tuan, Nona tidak ikut sarapan?" Tanya Daffa yang merasa heran, karena Azzam hanya seorang diri.
" Istriku sedang tidak enak badan, kau harus mengurangi jadwalku hari ini. Aku hanya akan menghadiri rapat dan selebihnya, kau atur sendiri." Titah Azzam kepada Daffa.
" Baik tuan." Daffa hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar, dengan begitu kerjaannya akan semakin padat.
" Bik Ipah, aku titip Kiya ya. Bawa saja sarapan dan keperluannya ke kamar, kalau ada apa-apa segera hubungi saya. Ayo Daff!" Azzam menyudahi sarapannya dan beranjak menuju mobilnya.
" Iya tuan." Jawab Ipah dengan rasa khawatir, setelah mendengar kabar Nona mereka sedang tidak sehat.
Tok
Tok
Tok
" Non, ini bik Ipah. Bik Ipah masuk ya." Ipah membuka pintu kamar sang tuan, dan betapa kagetnya dia melihat Kiya sudah berada dilantai bersandar dibahu tempat tidur.
" Nona!!" Dengan cepat Ipah meletakkan nampan berisikan sarapan dan menghampiri Kiya.
" Bik Ipah. Bik, tolong bantuin ya." Kiya meminta tolong untuk dibaringkan ditempat tidur.
__ADS_1
" Aduh non, badannya dingin sekali. Apa bibik telfon tuan Gabriel saja ya, biar non diperiksa." Rasa cemas itu semakin besar Ipah rasakan.
" Tidak apa-apa kok bik, ini hanya kelelahan saja. Istirahat sebentar, nanti juga sembuh. Terima kasih ya, oh ya bik. Bisa minta tolong pijitin nggak? rasanya sakit semua sendi-sendinya." Kiya berusaha tetap kuat, tidak ingin terlalu memanjakan dirinya.
" Baik non, non sambil istirahat ya." Ipah memulai memijit tubuh bagian belakang Kiya dengan menggunakan minyak angin, setelah beberapa saat. Rupanya Kiya tertidur, dan Ipah pun meninggalkannya agar istirahatnya tidak terganggu.
Sepertinya, non Kiya bukan masuk angin biasa. Ya Rabb, semoga saja perkiraanku ini benar. Aamiin. Ipah.
......................
Waktu pun terus berjalan, setelah menyelesaikan rapatnya. Azzam mencoba menghubungi ponsel istrinya, namun sudah beberapa kali tidak ada jawaban. Rasa cemas itu kembali meliputi dirinya, kemudian ia menghubungi telfon rumahnya.
" Hallo bik, Kiya ada?" tanya Azzam dengan nada khawatir.
" Iya tuan, non Kiya tadi lagi tidur setelah bibik pijitin. Ada apa tuan?"
" Oh syukurlah. Tolong jagain ya bik, aku akan pulang secepatnya."
" Iya tuan, bibik akan menjaga nona dengan baik."
Azzam memutuskan panggilan telfonnya, disaat meletakkan ponselnya. Pintu ruangannya terbuka dengan sedikit kasar, tampaklah dua orang berjalan dengan elegan dan anggunnya menghampiri Azzam.
" Kalian!!!." Rahang Azzam menggeras, setelah melihat siapa yang datang.
......................
__ADS_1