BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 85


__ADS_3

Dengan mengendarai mobilnya sendiri, Andrian dengan penuh rasa amarahnya melajukan kecepatan mobilnya dengan sangat cepat. Tidak membutuhkan waktu yang lama, ia telah sampai di sebuah apartemen yang cukup mewah. Langkah kakinya begitu cepat berjalan, hingga akhirnya ia telah tiba pada salah satu hunian.


Menekan bel dengan cukup kuat dan ia lakukan berulang kali, namun belum ada satu pun tanggapan dari penghuninya. Andrian terus menekan tombol tersebut secara kasar, tangan satunya menggenggam ponsel dan menghubungi salah satu kontak nama yang ada.


" Akh! Bre****ek, tidak di angkat. Kemana dia, dasar benalu!" Andrian mengumpat dengan menggunakan suara yang sangat besar.


Suara bel apartemen itu terus berbunyi, membuat pasangan yang baru selesai dengan kegiatan olahraga ranjangnya terusik. Sang wanita segera menggunakan pakaiannya, lalu ia berjalan keluar dari kamarnya untuk membukakan pintu, membiarkan sang pria terlelap dalam tidurnya.


" Ah, siapa sih yang kurang kerjaan gini. Tidak sopan sekali, pencet-pencet bel tempat orang kayak itu." Marsya mengumpat orang yang dikira iseng dengan memainkan bel apartemennya, dia tidak tau jika orang tersebut adalah Andrian.


Klek!!!


" Hei! Kurang kerjaan baget sih, dasar si..." Betapa kagetnya Marsya melihat siapa yang sedang berdiri dihadapannya saat itu.


" Ho honey!!" Mata Marsya melebar dan tubuhnya mendadak menjadi kaku.


Andrian menatap Marsya dengan tatapan sangat tajam dan dipenuhi dengan amarah, tangannya terkepal dengan begitu kuat.

__ADS_1


" Dasar wanita sialan!" Andrian langsung mencengkram leher Marsya dengan erat, tubuh wanita itu sontak saja terhuyung mundur kebelakang, hingga mereka berdua masuk ke dalam apartemen.


" Akh! Aaakk.." Marsya berusaha untuk melepaskan tangan Andrian dari lehernya. Dengan memukulkan tangannya kepada tubuh Andrian, namun bagaimana juga ia kalah dalam kekuatan.


" Kau benar-benar wanita tidak tau malu! Sungguh aku sangat menyesal telah mengenal kau!" Andrian semakin kalap dengan amarahnya.


Tubuh Marsya kini terhempas ke lantai dengan begitu kuat, di saat ia akan mencoba berlari untuk menghindar dari amukan Andrian. Terdengar suara pintu terbuka, dan terlihat seorang pria dengan kondisi tubuh yang sangat polos tanpa sehelai benang pun. Mata Andrian menangkap pemandangan tersebut, hal itu semakin membuat amarahnya memuncak dan pecah.


" MARSYA!!!" Tangan itu mengepal dan suara teriakan itu sangat menyakitkan telingga.


Marsya begitu ketakutan melihat wajah Andrian, tubuhnya bergetar dn semakin terpojok. Perlahan-lahan Andrian berjalan mendekati pria tersebut, dengan amarah yang sudah besar. Tangan itu langsung memberikan pukulan yang begitu telak kepada pria tersebut, hingga tak di sadari jika pria itu sudah babak belur.


" Pergi kalian dari sini!! Pergi!!" Andrian semakin tidak terkendali.


" Ho honey!" Ucap Marsya dengan tubuh yang bergetar ketakutan, ia masih ingin berusaha menyakinkan Andrian.


" Pergi!! Dasar ja**ang tidak tau diri!" Andrian menghampiri Marsya dengan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Plak!!!


" Aku sungguh menyesal sudah mengenalmu, aku sungguh bodoh jatuh cinta dengan wanita seperti kau, Marsya! Pantas saja Azzam begitu jijik melihat dirimu, ternyata kau sudah membodohi aku selama ini!" Semakin besar amarah Andrian kepada Marsya, sedangkan pria yang sudah dihajar tadi. Ia memilih kabur dan tidak memperdulikan wanitanya.


" Ma maafkan aku." Dengan penuh ketakutan, Marsya meminta maaf.


" Kali ini aku tidak akan tertipu lagi dengan kemunafikkanmu, enyalah kau dari sini. Aku tekankan, jika diantara kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, kau paham! Kemasi barang-barangmu, kosongkan apartemen ini." Andrian membuang muka dari Marsya.


Bagaikan terkena sambaran petir, Marsya begitu terkejut jika Andrian menyuruhnya mengkosongkan apartemen yang sudah ia tempati selama ia menjalin hubungan bersama Andrian.


" Ti tidak honey, tidak. Aku tidak tau harus kemana, tolong! Jangan usir aku, aku mohon." Marsya segera memeluk kaki Andrian, ia memohon agar tidak di usir dan dicampakkan olehnya.


" Sudah cukup kesabaranku selama ini, apalagi yang harus aku pertahankan dari wanita sepertimu! Kau sudah memanfaatkanku dan juga Azzam, dasar benar-benar tidak tau malu kau ini! " Kaki jenjang itu menendang tubuh kecil yang memeluknya, lalu Andrian berbalik arah dengan menjauhi Marsya.


Tanpa disadari oleh Andrian, Marsya yang juga saat itu merasa dihina dan dicampakkan. Dengan penuh amarah, ia mengambil vas bunga yang berada didekatnya. Berjalan secepat mungkin mendekati Andrian, lalu tangannya mengayunkan vas bunga tersebut ke arah kepala Andrian.


Prang!!!

__ADS_1


__ADS_2