
" Ssstttt !! Diam." Daffa menirukan apa yang Dzac katakan padanya.
Kenan berjalan mendekati Daffa, ia memberi kode dengan menggunakan lirikan matanya. Kenan seketika membuka matanya lebar-lebar dan tersenyum, Dzac juga tak ingin kalah. Ia pun ikut melebarkan matanya yang sipit.
" Binggo !!!." Kenan dan Dzac berteriak secara bersamaan, dan kali ini Daffa yang menjadi terkejut karena teriakan mereka berdua.
" Iissss, kalian ini. Bagaimana?" Daffa meminta tanggapan dari temannya itu.
" Kau memang the best, bahkan si 'pisang' kalah oleh kejeniusanmu Fa." Kenan meledek Dzac yang suka menyombongkan dirinya.
Dzac sudah memasang wajah garangnya kepada Kenan, ia ingin segera menyerang Kenan dengan tangannya. Daffa yang melihat hal tersebut, langsung saja ia melerainya.
" Sudahlah, lebih baik kalian menyiapkan strategi untuk menghukum orang ini. Sepertinya, dia sudah terlatih sebelumnya." Jelas Daffa kepada keduanya, memang benar jika lawan mereka kali ini cukup cerdas dan mempunyai jaringan yang rapi.
Kenan dan Dzac menganggukkan kepalanya secara bersamaan, mereka juga harus menyiapkan semuanya agar bisa menangkap si biangnya masalah.
Akhirnya! Karena cinta ditolak, kekuasaan dan kekejaman yang bertindak. Kau memang sangat gila, Ferdinand. Sudah kuduga, masuk ke perusahaan dengan tiba-tiba dan keluar juga tanpa ada persetujuan terlebih dahulu dari bos. Heh, memang manusia kalau sudah bucin. Apapun akan dia lakukan untuk mendapatkannya, sungguh bodoh. Oops! Maaf bos, kau juga manusia bodoh saat nona memikat hatimu sampai saat ini. Daffa.
......................
Rasa lapar yang datang tiba-tiba, membuat Kiya harus keluar dari kamarnya untuk menuju dapur. Pergerakan tubuhnya sangat dirasakan oleh sang suami, hingga membuat mereka berdua terjaga.
" Sayang, ada apa?" Azzam memicingkan matanya dari lelapnya tidur.
" Maaf mas, kamu jadinya kebangun juga. Ee aku lapar mas. " jawab Kiya dengan polosnya.
" Lapar? Ini masih sangat malam, sayang. Kenapa tidak besok pagi saja." Azzam masih asik mengusel pada bagian dada sang istri.
__ADS_1
" Nggak tau mas, akhir-akhir ini. Aku merasa selalu lapar, mungkin karena jadwal makannya sudah mulai rutin. Hehehe, mas mau ikut kebawah apa mau lanjut tidur?" Tanya Kiya.
" Hem baiklah, kau menang sayang. " Azzam kemudian mengikuti langkah kecil sang istri.
Sesampainya didapur, Kiya melihat ada beberapa makanan yang masih tersisa dari makan malam sebelumnya. Bertanya kepada sang suami, apa mau makan dengan lauk tersebut. Ternyata! Azzam yang awalnya tidak mau makan, jadinya ikutan lapar.
" Kita masak nasi goreng saja, gimana mas?" Kiya meminta pertimbangan sang suami untuk menu makanan yang akan mereka santap.
" Boleh, mas bantuin ya?" Azzam menawarkan bantuannya.
" Siap tuan." Kiya tersenyum mendengar tawaran dari sang suami, yang notabennya nggak pernah menyentuh dapur sekalipun.
Acara masak memasak pun dimulai, Kiya dengan luwesnya menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan. Sedangkan Azzam, ia sibuk mengekori dan menganggu Kiya dengan keusilannya.
" Mas! Kalau begini nanti masakannya nggak jadi-jadi." Celoteh Kiya, karena tangan Azzam melingkari bagian pinggang dan perutnya.
" Aaaa... Panas sayang! Huh, huh." Azzam meniup-niup lengannya yang terkena spatula panas.
" Makanya, udah tau mau masak!" Lirikan mata Kiya menandakan bahwa ia kesal dengan tingkah laku manja sang suami.
Azzam memilih untuk duduk manis sambil menunggu Kiya selesau memasak, saat ia ingin kembali menganggu istrinya itu. Bukan spatula lagi yang ia terima, melainkan pisau. Setelah menunggu sekian waktu, nasi goreng pun jadi. Mereka berdua menikmatinya dengan penuh kemesraan, namun tidak bagi Kiya. Karena Azzam terus menganggunya dan menyerangnya setiap kali ia akan makan.
" Mas, kalau masih gangguin. Nggak ada jatah lagi untuk satu bulan!" Kiya menekankan perkataannya.
" Hah!! Uhuk! Uhuk! Satu bulan?? Apa-apaan, mas nggak mau. Satu hari saja sudah buat pusing, apalagi satu bulan. Nggak adalah kayak gitu." Wajah Azzam sangat cemberut, tidak ada yang menyangka jika dia adalah seorang leader dan CEO kalau sudah bersama istrinya.
" Makanya jangan ngeyel, aku belum makan sesendok pun dari tadi. Mas asik gangguin, dasar menyebalkan!" Kiya mendengus kesal kepada Azzam.
__ADS_1
" Hahaha!! Iya sayang, maaf. Coba buka mulutnya, aaaaa..." Azzam mengarahkan sendok yang berisikan nasi goreng ke hadapan sang istri.
Kiya pun membuka mulutnya, walaupun rasa kesal masih menyelimuti perasaannya. Disaat mulut itu sudah terbuka, Azzam membelokkan sendok tersebut menuju mulutnya sendiri. Tanpa basa-basi lagi, Kiya langsung mencubit kedua pipi Azzam dengan sangat kuat.
" Aaaakkhh! Ampun sayang, ampun!! " Azzam meringgis, walaupun itu tak sesakit yang biasa ia rasakan saat sedang bertarung.
" Siapa suruh gangguin terus, hah!" Kiya semakin menguatkan cubitannya.
Dengan melihat wajah sang istri yang begitu menggemaskan, Azzam mencuri sela dan langsung melayangkan sebuah kecupan tepat pada bibir Kiya.
Cup!!
Membuat Kiya menjadi terdiam untuk beberapa saat, hal itu Azzam kira bahwa kiya sudah menyerah. Namun apa disangka, Kiya kembali melayangkan pukulan kepada kepala Azzam dengan menggunakan sendok.
Tak!!!
" Auuw, sayang!!!" Azzam kaget dengan hadiah tersebut.
" Siapa suruh ngejahilin terus, nggak ada jatah! Titik!!!" Kiya langsung mengambil piring yang berisakan nasi goreng tersebut dan memasang wajah garangnya.
Bukannya merayu, Azzam malah tertawa dengan sangat keras. Hingga membangunkan bik Ipah yang sedang terlelap.
" Tuan, nona! Ada apa ya?" Melihat kedua majikannya, Ipah menjadi bertanya-tanya.
" Tidak apa-apa bik, bibik lanjutin saja istirahatnya. " Jawab Kiya sekilas.
Ipah pun kembali menuju kamarnya, terlihat jelas dimatanya jika tuannya itu sedang bahagia.
__ADS_1
Semoga kebahagian selalu bernaung dirumah ini Ya Rabb, dan semoga mereka berdua segera mendapatkan momongan agar menambah kebahagian untuk keduanya. Aamiin. Ipah.