BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 110


__ADS_3

Saat sebelumnya dirumah utama...


Kiya berjalan dengan sangat perlahan menuju dapur, tenggorokannya terasa sangat kering dan ia bermaksud untuk mengambil air untuk melegakannya. Namun, rasa sakit di kepalanya sangat tidak tertahankan.


" Bik, bik I pah." Kiya memanggil dengan suara yang begitu lemah.


Ipah yang memang saat itu akan menghantarkan makanan ke kamar Kiya menjadi terkejut, dengan kehadirannya di dapur.


" Nona! Aduh non, kenapa ke dapur. Biar bibik nanti yang anterin makanannya kekamat, non Kiya beristirahat saja di kamar." Ipah menjadi merasa cemas dengan melihat wajah Kiya yang semakin pucat.


" Ee, nggak apa-apa kok bik. Tadi, air minum di kamar habis. Ja dinya,..." Belum sempat ucapan itu terselesaikan, tubuh Kiya sudah ambruk jatuh ke lantai.


" Nona!" Ipah yang yang kaget melihatnya, berteriak dengan begitu keras.

__ADS_1


Ipah segera merebahkan kepala Kiya ke dalam dekapannya, ia begitu panik dan bingung harus bagaimana. Tak lama kemudian, Jaka dan beberapa asisten rumah tangga lainnya berdatangan karena mendengar teriakan dirinya. Mereka pun kaget melihat sang nona sudah tidak sadarkan diri dalam dekapan bik Ipah.


" Bik, nona kenapa?" Jaka dengan wajah kagetnya.


"Aduh, jangan banyak tanya. Cepat kita bawa nona kedokter, takutnya nanti kenapa-napa." Ipah langsung mengajak Jaka dan yang lainnya untuk segera membantunya.


Jaka pun dengan cepat menyiapkan kendaraan, setelah siap. Mobil itu melaju dengan kecepatan yang cukup cepat untuk segera tiba di rumah sakit, biasanya mereka akan segera menghubungi Gabriel untuk datang. Tapi tidak untuk beberapa tahun belakangan ini, sementara ini ia menghilang ke negara lain untuk menghindar dari Kiya yang akan menanyakan tentang keberadaan sang nenek. Dan Jaka juga memberitahukan kejadian yang terjadi terhadap nona mereka kepada Azzam.


Ketika tiba dirumah sakit, rupanya Azzam telah tiba terlebih dahulu disana dan menunggu tepat didepan pemberhentian mobil. Azzam yang saat itu masih panik, melihat istrinya yang tidak sadarkan diri. Langsung saja meraih tubuh mungil itu ke dalam pelukannya dan mengendongnya menuju ruang tindakan.


" Ee anu tuan, tadi bibik mau mengantarkan makanan ke kamar nona. Tapi nona sudah ke dapur duluan tuan, dari situ nona lalu pingsan." Ipah menjelaskan kronologi kejadian kepada Azzam dengan sedikit rasa takut yang menghampirinya.


Azzam pun hanya dapat menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar, ia tidak bisa menyalahkan bik Ipah dengan kejadian ini. Dimana ia juga mengetahui sifat keras kepala sang istri, yang tidak ingin merepotkan orang lain disaat dirinya masih bisa mengerjakan sendiri. Mereka hanya bisa menunggu dari luar ruangan, disaat Kiya sedang diperiksa oleh dokter. Ponsel yang berada dalam saku jas Azzam berdering, terdapat panggilam telfon masuk.

__ADS_1


" Hallo."


" Apa yang terjadi dengam adikku?" Suara yang begitu familiar di telingga Azzam.


" Heh, rupanya kau. Aku belum tau, dia masih berada di dalam." Jawab Azzam dengan bernada ketus.


" Jika terjadi apa-apa dengannya, habis kau!!" orang tersebut kembali menegaskan perkataannya.


" Tidak usah banyak bicara, jika kau menyayanginya. Keluarlah dari pertapaannmu itu, aku sudah pusing memikirkan jawaban disetiap kali dia bertanya tentangmu."


" Akan aku pikirkan, dan ingat! Jaga adikku baik-baik." Orang tersebut langsung saja memutuskan pembicaraan mereka, Azzam hanya bisa berdengus kesal.


Orang yang menghubungi Azzam, tak lain adalah Gabriel. Rumah sakit tersebut merupakan milik dirinya, ia menempatkan beberapa orang kepercayaannya untuk selalu mengawasi adiknya. Semua anak buahnya akan selalu menyampaikan laporan kepada dirinya, tentang apa saja keseharian dan kegiatan yang adiknya lakukan. Begitupun terhadap kedua keponakannya.

__ADS_1


" Baiklah, sudah saat kembali. Ternyata, tidak enak juga lama-lama bertapa nggak ada hasilnya, malah semakin membuatku gila." Gabriel menggerutu dengan keputusannua untuk menghilang sementara dari kehidupan sang adik, hal itu malah semakin membuatnya merasa rindu.


__ADS_2