
Setelah melakukan makan besar bersama, mereka pun semakin berbaur menjadi satu. Tidak ada batasan seperti bos ataupun bawahan, mereka menjadi satu.
Pintu kembali terbuka, terlihat dua orang perawat memasuki ruangan tersebut dengan membawa kereta bayi.
" Maaf, sudah saatnya bayi untuk meminum ASI." ujar salah satu perawat.
Kereta dorong itu mendekati tampat tidur sang Ibunya, perawat tersebut menyerahkan bayi girl kedalam pelukan Kiya.
" Masyaa Allah, sungguh ciptaanMu begitu sempurna Ya Rabb." Kiya menitikkan airmata saat melihat sang puterinya.
" Ki, sepertinya kita pamit dulu ya. Kasian nanti babynya gerah, nanti kita kemari lagi ya. Ayo, kalian juga ikut!" Ghina mengarahkan untuk mereka segera undur diri, ibu dan bayinya juga butuh ketenangan.
Hal tersebut membuat ruangan tersebut kembali menjadi sunyi.
" Apa kalian juga mau menginap??!" Celetuk Azzam kepada Ketiga orang kepercayaannya.
" Eh." Sontak mereka bergumam secara bersamaan.
" Uncle-uncle, lebih baik pulang sendiri daripada di usir oleh daddy secara halus. Hahaha." Arick ikut mengejek ketiga pria tersebut.
" Aih, sungguh terhinanya. Tapi tuan, saya mau lihat baby girlnya dulu." Dzac berteriak untuk mengungkapkan keinginannya.
" Tidak ada, keluarlah! Jika ingin baby, buat sana sama wanita yang menemanimu tadi." Mendengar hal tersebut membuat Kenan dan Daffa sudah terlebih dahulu kabur, tanpa menunggu Dzac yang keras kepala.
" Owh, owh, owh. Sungguh teganya dirimu tuan, dia begitu menyebalkan. Tidak berhenti berbicara, dan tidak mau mengalah." keluh Dzac.
" Cerminan diri sendiri malah di ejek, sungguh aneh!" Ansel menyela diantara perkatan Azzam dan Dzac.
" Apa?!!" Dzac mendengar hal itu, sungguh sangat terbantahkan. Ia kembali terkena pukulan telak dari Ansel, namun tidak berdarah.
__ADS_1
Perlahan Dzac pun beranjak dari tempatnya untuk keluar, namun karena sikap tengilnya sudah mendarah daging. Ia pun membalikkan tubuhnya menuju tempat dimana baby girl berada, dengan sangat puas ia bisa melihat wajah sanga baby.
" Cantik sekali nona muda!!! Aahhh, cantiknya!" Dzac berteriak setelah melihat wajahnya.
Bugh!!
Bugh!!
Ansel dan Arick sudah menyerang Dzac dengan bertubi-tubi, Kiya yang menyaksikan hal itu hanya bisa tertawa. Namun ketika suara baby terdengar menanggis, Azzam pun bertindak.
" Akh!! Ampun tuan, iya iya saya keluar. baby, love dari uncle Dzac, muah" Rambut Dzac terkena tarikan dari tangan kekar milik Azzam, hingga membuat dirinya tertarik keluar dari ruangan tersebut.
" Sudah-sudah, babynya mau sarapan juga. Pria-pria disana saja ya." Kiya menunjuk sofa yang berada dihadapannya, agar ketiga pria tersebut tidak membuat keributan lagi.
......................
" Mas, aku harap. Tidak akan ada lagi nyawa yang harus hilang, semoga kedepannya lancar-lancar saja dan kamu bisa memberikan jabatan itu kepada yang lainnya. Anak-anak juga bisa tumbuh berkembang dengan masanya, aku ingin kamu tidak fokus lagi dengan dunia bawah dan bisa berdamai dengan semuanya ." Kiya berdo'a dengan harapan besar untuk kehidupannya.
" Mas akan berusaha, sayang. Tapi mas belum bisa berjanji untuk bisa melepasnya, semuanya itu biarkan waktu yang membantu menjawabnya. Sini, baby girl daddy. Ah, mas jadi semakin merasa tua kalau seperti ini." Azzam melihat sang putri kecilnya dengan penuh kebahagian.
" Daddy, mommy. Eh ada sweetnya kakak, cepat besar ya. Biar kakak ada temen jalan dan gandengannya, males banget tuh jalan sama kutub utara terus. " Arick melirik Ansel yang berada disisinya.
Tak!!!
" Berisik." Ansel dengan dinginnya menyingkirkan Arick dari sisi adik kecilnya, hal itu membuat Kiya dan Azzam menggeleng dan akhirnya tersenyum.
" Jangan bertengkar boy, lihat! Adik perempuanmu menjadi mengeliat karena pertengkaran kalian." Terlihat jika bayi itu menggerakkan tubuhnya.
__ADS_1
" Gara-gara abang sih, Ayu jadi begitu. Dasar kutub." Arick menyeringai kesal kepada abangnya.
" Abang, sini sama mommy."
Ansel berjalan mendekati Kiya dan duduk disampingnya.
" Sekarang, adik abang ada dua. Arick dan Ayunindya, bimbinglah mereka untuk menjadi adik yang baik untuk abang. Jika abang bersikap baik, Insyaa Allah mereka juga akan mengikuti abang. "
" Baiklah mom. Tapi, abang akan selalu menjaga mereka berdua dengan cara abang sendiri. Bolehkan mom?"
" Boleh sayang, asalkan tidak bertentangan dengan apa yang agama kita ajarkan." Kiya yang saat itu merasakan kebahagian dalam keluarganya yang utuh, berharap untuk tidak akan terpisahkan lagi untuk kehidupan mereka berikutnya.
Dalam hidup ini, setiap orang pastinya memiliki cobaan yang berbeda-beda. Dimana setiap cobaan yang menimpa dirinya tidak lain adalah untuk menguatkan ia sehingga bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih kuat menghadapi ujian kehidupan di dunia.
Ada kalanya hidup terasa mudah dan menyenangkan, tetapi kadang juga terasa berat. Dalam menikmati liku kehidupan ini dibutuhkan rasa sabar, ikhlas, dan semangat yang kuat. Semangat dibutuhkan agar kamu bisa bangkit dan tak berhenti dalam menghadapi tantangan hidup.
💐💐💐💐💐 TAMAT 💐💐💐💐💐
Outhor
Terima kasih outhor ucapkan kepada semua para pembaca, atas dukungannya pada karya ini. Mohon maaf jika masih terdapat kesalahan dalam penulisan ataupun kalimat-kalimat yang tidak dimengerti, tanpa dukungan dari kalian, Outhor bukanlah siapa-siapa.
Novel ' BIDADARI SANG PENAKHLUK ' telah tamat, Insyaa Allah outhor akan membuat lanjutannya. Yang menceritakan perjalanan kehidupan anak-anak dari Azzam dan Kiya, untuk waktunya. Outhor belum bisa memastiskannya kapan, ditunggu ya.
Dan jangan lupa...
Mampir juga dinovel outhor selanjutnya, yaitu Air mata Keikhlasan ya. Ceritanya juga nggak kalah serunya.
__ADS_1