
Klek!!
Pintu terbuka...
" Auw, auw, auw... Aduh nek, tutup matanya. Nanti jiwa nenek berubah menjadi umur dua puluhan nek, aih! Mataku jadi sakit, kita keluar saja nek." Gabriel membuka pintu ruangan tersebut disaat yang tidak tepat, menutupi wajah sang nenek dengan kedua telapak tangannya.
" Aduh, kenapa tanganmu ini Briel. Kenapa wajah nenek kau tutupi!" Disaat Ambar menyingkirkan tangan Gabriel, mata Ambar pun melebar.
" Kau ini, kenapa tidak bilang dari tadi sama nenek. Kalau begini, nenek jadi malu. Ayo keluar!!!" Ambar menjewer telingga Gabriel dan menariknya keluar dari ruangan.
" Auw, nenek sakit!! Jatuh sudah pamorku sebagai dokter terhandsome, Azzam!!!" Pintu itu kembali tertutup, dan Sebelumnya Kiya dan Azzam saling mendorong untuk melepaskan pelukan mereka.
Wajah Kiya dan Azzam menjadi sangat merah merona, mereka merasa malu dengan kejadian tadi. Apalagi kena prank oleh Gabriel dan neneknya, Ambarwati. Namun akhirnya, mereka berdua pun tertawa.
......................
__ADS_1
" Baiklah sayang, Daffa sudah mulai cerewet seperti wanita! Lihatlah." Azzam melirik Daffa yang saat itu berdiri tegap disamping pintu.
Kiya tersenyum mendengar perkataan Azzam, melihat ke arah Daffa dengan muka masamnya.
Dasar bos labil, mulutnya mulai tajam kembali. Untung saja nona Kiya mau menerimanya. Jika tidak, huh. Baru saja baikan, sudah bucin akut. Sebelum baikan, Seperti orang gila yang hilang arah, bawahan dijadikan bahan kegilaannya. Aku menyesal mendo'akannya bersatu kembali. Ya Tuhan, aku tarik kembali do'aku. Daffa.
" Harapa dimaklumi saja ya, tuan Daffa. Baru sembuh dari masalah hati." Kiya semakin tersenyum, dan itu membuat Azzam tidak suka.
" Sayang! Jangan tersenyum dengan sembarang orang, hanya mas yang boleh melihat senyuman itu. Daffa!! Akan kupastikan gajimu tidak akan masuk bulan ini!" Azzam menatap Daffa dengan sangat tajam, membuat Daffa segera melarikan diri dari sana.
" Mas, mas. Sama tuan Daffa saja cemburu!"
" Pokoknya mas tidak mau lihat kamu senyum-senyum dengan laki-laki lain, kalau tidak mas patahkan lehernya." Azzam menyeringai dengan wajah garangnya.
__ADS_1
Ya Tuhan, ni orang kenapa seperti ini. Ahk! Kiya. Bersiap-siaplah untuk selalu berhadapan dengannya. Kiya.
" Apa mas tidak berangkat bekerja?" Kiya mencoba mengalihkan suasana.
" Jangan mencari pengalihan, sayang. Kau ini, sungguh menggemaskan." Azzam memainkan mimik mukanya, agar terlihat lucu dihadapan Kiya.
Lama-lama Kiya bisa kena stroke jika Azzam masih berlama-lama disana, wajah itu sangat jauh berbeda sekali disaat ia melihatnya sedang marah.
" Hei, kenapa jadinya melotot gitu! Ya sudah, mas berangkat. Setelah pekerjaan selesai, mas balik lagi. Jangan lupa makan istirahatnya ya sayang." Wajah Azzam sudah mendekati wajah Kiya.
Tak!!!
" Aaaa..." Tangan Azzam langsung mengelus keningnya yang terasa sakit, rupanya Kiya lebih awal menyadari kemesuman Azzam.
" Belum mahram, kebiasaan suka nyamber saja. Udah, berangkat sana!!" Tangannya Kiya semakin mendorong tubuh Azzam menjauh dan dengan tatapan mata yang sedikit tegas.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Azzam segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan tersebut. Tidak ingin membuat hati Kiya menjadi marah, padahal mereka baru saja berbaikan. Dengan melambaikan tangan, mereka pun saling berpamitan. Mata Kiya masih memandangi arah Azzam pergi, berharap keputusan yang telah ia ambil tidak salah.
Semoga saja, keputusan ini tidak salah dan Engkau ridho'i Ya Rabb. Izinkan kami (Kiya dan Azzam) untuk saling berbagi dan melengkapi. Kiya.