BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 69


__ADS_3

" Kamu tetap disini, jangan keluar kamar. Ingat, jangan keluar dari kamar." Azzam mengelus puncak kepala Kiya, berjalan menuju pintu untuk keluar dan langsung menguncinya.


Ada apa? Kenapa ekpresi mas Azzam seperti itu? Kiya.


Kiya pun hanya bisa menuruti perkataan suaminya untuk berdiam diri di dalam kamar dan beristirahat, sambil menunggu suaminya itu kembali.


......................


Saat Azzam sudah berada di lantai bawah, melihat bik Ipah dan para maid lainnya sedang berkumpul.


" Ada apa ini?" melihat dengan tatapan yang cukup tajam, Azzam memandangi para maidnya dengan wajah ketakutan.


" Itu tuan, di luar sedang ada keributan. Tuan Kenan dan tuan Dzac sedang menengahi hal itu tuan." Jelas Ipah dengan penuh rasa cemas.


" Kalian tetap didalam, tolong jaga istriku!" Tukas Azzam, lalu ia berjalan menuju pintu utama untuk segera melihat kericuhan yang terjadi.


Kejadian sebelumnya...


Kenan kembali berjaga-jaga di rumah bosnya, setelah melalui perdebatan panjangnya bersama Dzac.


" Tuan Kenan!!" teriak seorang pengawal memanggil.

__ADS_1


Mendengar namanya, Kenan langsung berdiri dan menghampiri pengawal tersebut.


" Tuan! Ada orang yang memaksa untuk masuk kedalam! Mereka, mereka menabrak pagar utama!" Jelas pengawal tersebut, dengan nafas yang masih terputus-putus.


Kenan segera menuju tempat yang dikatakan oleh pengawal itu, sesampainya disana. Ia melihat pagar utama sudah ambruk, beberapa pengawal lainnya ikut berseteru dengan pemilik mobil yang menabrak. Terlihat disana tidak hanya satu mobil, namun yang menarik perhatian Kenan. Ada salah satu mobil mewah yang berada disana.


" Kenapa bisa begini?!! Apa kalian tidak bisa bekerja, hah!!" Amarah Kenan meledak seketika.


Tanpa sepengetahuannya, dari mobil mewah tersebut keluarlah seorang pria dan wanita yang berjalan dengan sangat angkuhnya menghampiri Kenan.


" Apa kabar Kenan!" Sapa pria tersebut, dan nada suara itu sangat Kenan kenali.


" Kau!!" Rahang Kenan mengeras dan menggeretak giginya.


" Tidak!!! Sampai kapanpun, kau tidak boleh bertemu." Suara Dzac menggema dari balik tubuh Kenan.


" Wow!! Kalian berdua masih setia menjadi pesuruh saudaraku, hahaha. Sungguh menyedihkan, benarkan honey?!" Ardhan semakin menyudutkan Kenan dan Dzac, apalagi ditambah dengan cibiran dari Bianca yang menatap sinis keduanya.


Pertahanan semakin diperketat, kehadiran dari tamu tidak di undang itu telah membuat kekacauan.


" Usir mereka! Jangan biarkan mereka menginjakkan kakinya lagi dirumahku! Jika mereka memaksa, habisi saja!" Suara Azzam yang memecah kesunyian, membuat semua orang menjadi bergidik ngeri.

__ADS_1


Dengan hanya berdiri di depan pintu utama, Azzam mengeraskan suaranya agar mereka semua dapat mendengar apa yang ia katakan.



" Heh! Jika kalian masih mempunyai rasa malu, enyahlah dari sini. Sungguh melihat kalian, membuatku mual!" Dzac dengan lantangnya membalas untuk menyudutkan Ardhan dan Bianca.


" Baiklah saudaraku. Kau memang masih seperti yang dulu, hahaha. Honey! Sepertinya kita harus menyusun kembali rencana kita dengan sangat matang, seperti dahulu kita melenyapkan orang-orang miskin dan hina itu. Hahaha!!!" Ardhan mengungkit kembali luka lama yang Azzam alami.


" Kau benar honey! Sepertinya, aku juga tertarik untuk kembali menyingkirkan seseorang. " Bianca melirik dari sudut matanya untuk melihat Azzam, karena ia mengetahui jika Azzam tidak ingin miliknya disentuh oleh orang lain.


Masih berdiri dan menatap tamu tak di undang itu dengan sangat lekat, Azzam berusaha untuk tidak terpancing emosinya. Kenan mendekati bosnya, lalu Azzam membisikan sesuatu kepadanya. Setelahnya, Azzam membalikkan badannya dengan tujuan untuk kembali masuk kedalam rumahnya dan menyerahkan kekacauan tersebut kepada Kenan dan Dzac untuk diselesaikan.


" Tungguh!!!" suara Ardhan ditujukan kepada Azzam, dan tubuh Azzam pun mengikuti apa yang telah didengarnya tanpa membalikkan tubuhnya.


" Jangan salahkan aku jika kejadian di masa lalumu akan terulang kembali, saudaraku. Kau sendiri yang telah menabuh genderang peperangan ini, katakan pada istrimu untuk bersiap berpindah haluan kepadaku. Hahaha!!!" Ardhan semakin memancing amarah Azzam.


Tangan kekar milik Azzam itu bergetar dan mengepal, ia berusaha menahan dan mengendalikan emosinya yang sudah hampir meledak. Beruntung hal itu segera disadari oleh Kenan dan Dzac, mereka dengan cepat mengerahkan semua kekuatan yang ada untuk mengusir tamu tak di undang itu. Penyerangan tak bisa di hindari lagi, mau tidak mau. Ardhan dan para anak buahnya terpaksa mundur, karena saat itu mereka sudah kalah dengan jumlah personil yang ada. Jika dilanjutkan, maka semakin banyak nyawa yang akan hilang.


Tanpa mereka sadari, dari balik balkon di lantai atas. Kiya menyaksikan kejadian yang terjadi diluar rumah saat itu, Kiya hanya menggerutkan keningnya.


Apa ini yang di maksud dengan kekejaman dari dunia bawah? Kenapa mereka sangat mudah sekali menyiksa bahkan melenyapkan orang lain, sekejam itukah duniamu mas? Astagfirullah, mommy harap. Baby tidak ikut-ikutan seperti daddy ya nak, mommy takut!(Tangan mungil itu mengelus-ngelus perutnya). Kiya.

__ADS_1


" Sayang!"


__ADS_2