BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 49


__ADS_3

Setelah menjalani beberapa hari perawatan dan penanganan dari rumah sakit, Kiya pun telah kembali pulang kerumah. Dimana saat ini merupakan akhir pekan, Kiya dan sang nenek menikmatinya hanya dirumah.


Dddrrrtt...


Ponsel Kiya bergetar dan berdering, ia melihat ada sebuah panggilan telfon dari seseorang. Saat di lihat, ternyata panggilan itu berasal dari Ayu.


" Assalamu'alaikum." Sapa Kiya.


" Wa'alaikumussalam, kak Kiya. Gimana kabarnya?" Dengan suara lantangnya, ia mennyapa Kiya.


" Alhamdulillah baik Yu." Kiya bermaksud ingin menanyakan keadaan Hanif, namun hal itu ia urungkan. Jika prianya itu tau, bisa panjang urusannya.


" Kak, Ayu boleh ketemu nggak sama kak Kiya? hiks hiks." suara Ayu terdengan seperti sedang menanggis.


" Eh, ada apa Yu? Hem, kamu bisa kerumah saja ya, soalnya kakak nggak bisa keluar." Kiya merasa iba setelah mendengar suara tanggisan.


" Iya kak, baiklah. Ayu sekarang kerumah kakak ya. Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumussalam, hati-hati ya." Pembicaraan itu terputus, ada tanda tanya besar dalam hati Kiya.


Ada apa dengan Ayu? Tidak biasanya dia seperti itu, orangnya selalu ceria. Kenapa tadi terdengar seperti itu? Kiya.


Dddrrrttt...

__ADS_1


Ponselnya kembali bergetar, ternyata.


" Assalamu'alaikum, iya mas."


" Salam, sedang apa? Siapa tadi yang menelfon?" Azzam kembali dengan sikap posesifnya.


" Ya ampun, mas menyadap ponsel Kiya ya?" Kiya kaget, ternyata Azzam mengetahuinya.


" Heh, mas tadi nelfon sayang! Ternyata sedang sibuk, siapa?!" Introgasi dari Azzam sungguh sangat menyebalkan bagi Kiya.


" Huh, tadi ada teman yang nelfon. Mulai deh!." Memutar bola matanya dengan malas.


" Siapa? pria apa wanita? jangan main-main ya." Nada bicara Azzam yang curiga.


" Oke, oke. Mas percaya, oh iya sayang. Jangan lupa untuk fitting, nanti Kenan yang akan menjemput. Mas mau nemuin klien dulu sama Daffa, kita ketemu disana ya. Salam untuk nenek, love u."


" Astaghfirullah, hampir saja lupa. Iya mas, Insyaa Allah, hati-hati. U to. Assalamu'alaikum." Kiya dan Azzam mengakhiri pembicaraannya.


Jika tidak di ingatkan oleh Azzam, maka Kiya akan lupa jika hari ini dia akan melakukkan fitting baju untuk pernikahan mereka. Setelah mereka berbaikan, Azzam kembali untuk melanjutkan acara pernikahan mereka yang sempat tertunda dan mereka sepakat untuk melaksanakannya dalam waktu dekat. Namun, Kiya hanya menginginkan untuk pesta yang sederhana. Hanya pihak keluarga dan beberapa kerabat yang di undang, berbanding terbalik dengan Azzam. Awalnya dia menginginkan pesta yang cukup mewah, dan akhirnya ia lebih memilih kebahagian calon istrinya. Mau tidak mau, dia harus menurutinya. Jika tidak, singa betina itu akan mengeluarkan aumannya.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Ambar membuka pintu tersebut,setelah mendengar suara ketukan. Melihat siapa yang datang, wajahnya masih asing. Lalu Ayu mengatakan jika dia ingin menjumpai Kiya, mempersilahkannya masuk. Kemudian Ambar memanggil Kiya, dan mereka berdua larut dalam obrolannya.


" Kak, benar kalau kakak mau nikah sama pria galak itu? Tapi kan, dia sekasar itu kak. Apa kakak mendapatkan ancaman dari dia?" tanya Ayu setelah mendengar cerita sebelumnya.


" Ayu benar, kakak Insyaa Allah akan menikah dengan mas Azzam. Sebenarnya, dia tidak kasar. Dia mempunyai alasan tersendiri, kenapa sampai melakukan hal itu." Kiya tersenyum, dan menepuk punggung tangan Ayu.


" Tapi kak, sebenarnya. Kak Hanif kan... Juga suka sama kakak, kenapa kakak menolaknya?" mata Ayu mengembun.


Kiya tau perasaan Ayu kepadanya, dia berharap jika Kiya berjodoh dengan kakaknya, Hanif. Dengan berbesar hati, Kiya mencoba untuk memberikan penjelasan kepadanya. Agar tidak ada kesalahpahaman dikemudian hari.


" Maafkan kakak Yu, sebenarnya. Mas Azzam sudah terlebih dahulu melamarkan kakak, dengan istikharah yang panjang dan berbagai ujian. Akhirnya, kakak memantapkan hati untuk menerima pinangannya. Memang benar, kak Hanif juga pernah menyatakan perasaannya kepada kakak. Tapi, perasaan kakak terhadap kak Hanif tidak seperti dulu. Mungkin ini yang dinamakan tidak berjodoh, Ayu do'akan saja, agar Kak hanif disegerakan untuk mendapatkan jodohnya. Jangan menanggis ya, nanti cantiknya memudar." Tangan Kiya menghapuskan air mata Ayu yang sudah mengalir.


" Boleh tidak, kak Kiya tetap menjadi kakak perempuannya Ayu?" Ayu menatap wajah Kiya dengan penuh harap.


Dengan mengeluskan tangannya di kepala Ayu, Kiya pun tersenyum, merasa gemas dengan adik kecilnya itu.


" Ayu tetap menjadi adik kak Kiya yang comel, apapun yang terjadi. Oke, tersenyum dong."



" Terima kasih kak, Kak Kiya memang terbaik." Memeluk dengan sangat erat, Ayu sangat merasa nyaman jika bersama Kiya. Walaupun sang kakak, Hanif! tidak berjodoh dengannya.

__ADS_1


__ADS_2