BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 59


__ADS_3

Cup!


Dengan berjinjit, Kiya menempelkan sekilas bibirnya dengan bibir Azzam. Hal itu ia lakukan dengan harapan, bisa mengurangi rasa amrah yang sedang Azzam rasakan. Namun hal itu malah membuat Azzam kaget dan merasa panas dingin dibuatnya.


" Jangan cemburu lagi ya mas, hanya kamulah pemenangnya untuk mengambil hati dan cintaku." Kiya harus membuang rasa gugup dan malunya, hanya untuk membuat suaminya itu tidak marah lagi.


" Sudah berani sekali, istri mas ini!" Azzam menarik dan langsung memeluk tubuh Kiya dengan sangat erat, tanpa menyia-nyiakan waktu. Tangan kekar itu menarik tekuk sang istri dan kembali menyatukan kedua bibir mereka.


Kiya pun terbawa dalam suasana yang mereka ciptakan, karena hal itu adalah yang pertama untuknya, tanpa pengalaman. Kiya langsung memukul dada Azzam dengan tangannya, merasa sangat susah untuk bernafas.


" Em, emmmpp, mas!! Emmpp..." Suara Kiya tidak mendapatkan respon dari Azzam, yang masih terus menyerangnya.


Karena sudah sangat sesak dan tidak dapat pasokan udara. Dengan sangat terpaksa, Kiya harus menggigit bibir Azzam dengan sangat kuat dan akhirnya berdarah.


" Hah, hah ,hah!!" Nafas mereka berdua saling memburu satu sama lain.

__ADS_1


Namun Azzam hanya tersenyum dan mencoba mengulang kembali yang baru saja mereka lakukan, kali ini Azzam memainkan jemarinya untuk memberikan rasa puas untuk mereka berdua.


" Mas mau apa, kita mau makan malam dan tidak enak mas jika Daffa menunggu terlalu lama." Kiya mencoba menghindar, karena dia sudah tau arah kemauan Azzam saat itu.


Tanpa Kiya sadari, Azzam sudah mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


" Kau makan saja sendiri, jika tidak ingin. Pulanglah!!." Tut tut tut.


Azzam menunjukkan kepada Kiya, jika dia sudah menghubungi Daffa dan tidak ada alasan untuk menolak. Dan itu membuat Kiya kikuk, harus bagaimana lagi dia mencari alasan untuk mengulur waktu.


" Ta tapi mas, nanti makanannya dingin. Kita makan malam dulu saja ya."


" Boleh?!!" Kalimat yang meminta izin, telah Azzam ucapkan.


Kiya sadar, jika itu adalah salah satu tugasnya sebagai seorang istri. Walaupun ia terus mengulur waktu, namun hal itu pasti akan terjadi. Memandangi wajah tampannya sang suami, senyuman yang ia berikan merupakan jawaban atas apa yang dipertanyakan oleh Azzam.

__ADS_1


Mendapatkan persetujuan dari sang istri, dengan senyuman penuh kemenangan. Azzam langsung menyerang Kiya dengan kembali menyatukan kedua bibir mereka, hingga Azzam merasakan kalau Kiya juga menikmatinya. Menggendong Kiya ala pengantin baru dan membawanya menuju tempat tidur.


" Sudah siap, sayang?"


" Emm." Wajah Kiya semakin merona merah.


Terjadilah pergulatan dan penyatuan yang Azzam idam-idamkan, dengan izin yang telah dia dapatkan sebelumnya. Suara-suara yang mereka keluarkan, membuatnya semakin terbuai hingga lupa akan segalanya.


......................


Daffa dan bik Ipah yang menunggu dengan setia di ruang makan, namun yang ditunggu tak kunjung menunjukkan batang hidungnga. Tak lama kemudian, ia mendapatkan telfon dari bosnya dan hal itu membuat Daffa mendengus sangat kesal.


" Bik, sepertinya mereka berdua tidak akan turun. Apa boleh saya langsung memakannya?" Tanya Daffa kepada Ipah, karena jika menunggu bosnya itu turun. Yang ada makanannya nggak bisa lago dimakan karena dingin.


" Oh, begitu ya. Ya sudah tuan Daffa, dimakan saja. Mungkin tuan dan Nona masih ada yang mau dibicarakan, silahakan tuan." Ipah yang memang tidak pernah mencampuri urusan majikannya.

__ADS_1


Akhirnya, Daffa bisa menikmati makan malamnya dengan tenang dan damai, tiada apapun yang menghalanginya.


Dasar bos sialan! Bilang saja kalau mereka ingin berdua, untung saja aku tidak disuruh menunggu mereka. Kalau tidak, kasihan sekali makan-makanan ini. Daffa.


__ADS_2