
Beberapa hari berlalu, keadaan pun belum sepenuhnya pulih. Kini Azzam lebih fokus untuk menemani sang istri yang masih engan untuk membuka matanya, sedangkan Daffa. Kondisinya berangsur membaik, walaupun sampai saat ini ia masih mendapatkan perawatan intensif akibat dari luka tembakan yang ia dapatkan. Dan untuk perusahaan, Azzam menunjuk Rayyan untuk menanganinya.
Tok
Tok
" Permisi tuan, dokter akan memeriksa nona." Ujar seorang perawat yang masuk kedalam kamar perawatan Kiya.
Azzam hanya memberikan jawaban melalui gerakan matanya, dokter pun langsung melihat dan memantau keadaan Kiya.
" Bagaimana kondisi istri saya dok?" Azzam merasa khawatir, jika Kiya sudah terlalu lama tidur.
" Untuk sejauh ini, keadaan nona dan bayinya baik-baik saja tuan. Hanya saja, sepertinya nona masih engan untuk membuka matanya. Cobalah untuk terus mengajaknya berbicara, alam sadarnya akan bereaksi jika terus di rangsang. Saya permisi, tuan." Dokter dan perawat tersebut keluar dari ruangan.
Berjalan perlahan mendekati, memandangi, menggenggam dan mencium punggung tangan sang istri. Tangan kekar itu mengelus perut yang terlihat semakin membesar, saat tangan itu berada di atasnya. Terasa gerakan kasar dari dalamnya, membuat Azzam sangat terkejutkan.
" Baby! Kalian bisa merasakan tangan daddy nak? Ini daddy sayang." Air mata itu kembali mengalir, perasaan haru dan bahagia melebur menjadi satu.
" Sayang, lihatlah! Baby bergerak, apa kamu tidak ingin melihatnya? Bangunlah, mas sangat merindukanmu. Bangunlah." Suara Azzam terdengar lirih.
__ADS_1
Dengan gerakan yang halus dan sangat lambat, jemari tangan Kiya bergerak. Hal itu luput dari pengamatan Azzam, di saat merasakan sesak di dadanya karena menanggis. Azzam memutuskan untuk pergi ke dalam kamar mandi sejenak, ia merasakan jika wajahnya sudah tidak pantas untuk dilihat, dengan sembab yang ada.
Klek!!
" Wah, tidak ada siapa-siapa yang menjaga nona. Bos kemana, tumben!" Dzac dan Kenan memasuki ruang perawatan Kiya, terlihat dimata mereka jika nonanya masih enggan untuk membuka mata.
" Sudah, masuk sana. Cerewet sekali kau ini." Kenan memilih mendahului Dzac untuk segera mengambil tempat duduk di sofa.
Kenan masih merasa sedih akan peristiwa yang nona mereka alami, namun hal itu tidak ia tampakkan dihadapan orang-orang. Biasanya ia tidak akan pernah menyapa dan menyukai wanita, namun baru kali ini hatinya sangat tersentuh dan merasa berbeda saat berinteraksi dengan Kiya.
" Mana?!" Kenan dengan cepat merespon perkataan Dzac dan segera melihatkan pandangannya kepada Kiya.
" Ta tadi, mata nona terbuka. Bener Ken, Aku nggak bohong. " Dzac sungguh sangat yakin jika nonany itu membuka matanya, namun kini mata itu masih tertutup.
" Ah, kau ini. Dasar pisang!" Dengan merutuki kekonyolan Dzac, Kenan mengumpatnya dengan berbagai perkataan.
Brak!!!
__ADS_1
" Berisik!!! Kalian lebih baik keluar." Azzam muncul dari balik pintu kamar mandi, membuat Kenan dan Dzac terperanggah.
" Maaf bos, tadi mata nona terbuka bos. Bener, suer dah!" Dzac mencoba menyakini bosnya.
" Heh, berhentilah untuk bertingkah konyol Dzac! Kenan, bawa temanmu ini keluar. Membuat pusing saja." Azzam berjalan mengambil air untuk minum dari lemari pendingin dan meneguknya.
" Ya ampun, nggak percaya jg nggak apa-apa. Baru saja sampe eh di usir." Mulut Dzac kembali membuat ulah.
Plak!!
" Auw.."
" Kau ini, selalu saja. Berhentilah untuk gila seperti ini, kau mau jadi perkedel apa?!" Kenan memberikan raut wajah yang mematikan kepada Dzac.
Azzam hanya menggelengkan kepalanya, sebenarnya ia sudah terbiasa menghadapi kekonyolan kedua orang kepercayaannya. Namun, kali ini ia sangat enggan untuk menanggapinya. Tapi tidak untuk kedua orang tersebut, mereka masih berdebat satu sama lainnya.
" Bisakah kalian tidak berisik?"
Suara yang sangat merdu dan terdengar tidak asing. Membuat ketiga orang pria itu, sontak menolehkan pandangannya mencari sumber suara.
__ADS_1
......................