BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 92


__ADS_3

Tidak, aku tidak bisa kesana. Aku harus mencari jalan lainnya, mereka tidak boleh menemukanku disini. Mas Azzam, kamu dimana mas. Tolong aku, mas. Kiya.


Kiya memutar jalannya, ia mencari jalan lain untuk mencari pertolongan. Berjalan dan terus berjalan, dengan menahan rasa sakit yang ada. Berusaha agar tetap kuat dan selamat, itulah yang ada si pikiran Kiya saat ini.


" Aaaa... Emmm mmpp!!" Dari arah belakang, ada seseorang yang membekap mulutnya dengan begitu kuat.


Hal ini membuat Kiya menjadi sulit untuk bernafas, dengan sisa-sisa tenaga yang ada pada dirinya. Kiya berusaha untuk terlepas dari kekekangan orang tersebut.


" Heh, dasar wanita bodoh. Kau tidak akan bisa lari lagi, hahaha. Bos kami akan sangat senang, karena kau sudah tertangkap." Pria tersebut membawa Kiya berjalan menuju ke arah sumber cahaya yang sebelumnya Kiya lihat di ujung jalan.


" Akh!!" Rasa sakit itu semakin terasa menyakitkan, Kiya tidak sanggup untuk melanjutkan langkah kakinya.


" Hei, cepat jalan!" Tanpa ada rasa kasihan, pria tersebut berteriak kepada Kiya, dan ia kembali menyeretnya.


Melihat ada sebuah balok kayu yang berada disana, diam-diam Kiya mengambilnya. Kiya mendorong pria tersebut hingga genggaman tangan itu terlepas, dan tanpa menunggu lama. Kiya mengayunkan balok kayu tersebut ke arah kepala pria tersebut dan itu membuat sang pria tak sadarkan diri.


" Argh! Sa sakit! Ya Rabb, hamba mohon pertolonganMu. Aku sudah tidak tahan! Ini sakit sekali." Kiya merintih dengan rasa sakit yang sangat luar biasa, ia pun mencari tempat untuk bersandar.


Kiya merasakan perutnya semakin sakit, dan darah telah mengalir dari celah kedua kakinya begitu banyak. Terus berdo'a, berharap ada orang yang menolongnya, dan tentunya ia berharap sang suami segera menemukannya.


Tak


Tak

__ADS_1


Terdengar suara langkah kaki yang mendekatinya, Kiya berusaha untuk menguatkan diri. Berharap yang datang adalah orang baik, tapi ternyata..


" Hallo nona manis, kita akhirnya berjumpa juga!" Orang yang datang tersebut adalah Ardhan, dia jugalah yang mendalangi semua kekacauan ini.


Mata Kiya melebar setelah mendengar perkataan tersebut, orang yang begitu sangat asing baginya. Namun, orang tersebut seakan-akan seperti telah mengenalnya.


" Si siapa kamu?" Tanya Kiya disela-sela rintihannya menahan rasa sakit.


" Siapa aku?! Sepertinya, kita memang harus saling mengenal. Perkenalkan, aku adalah Ardhan. Saudara dari suami anda nona, Azzam Arsalaan. Yang sebentar lagi akan menjadi pria yang sangat mengenaskan, hahaha." Ardhan dengan begitu percaya dirinya, mengatakan hal tersebut.


Siapa pria ini? Aku tidak mengenalnya, tapi kenapa dia seperti sudah mengenaliku? Argh! Kenapa perutku semakin sakit. Kiya.


Kiya terus menerus menahan rasa sakit pada bagian perutnya, saat ia melihat ke arah kakinya. Kiya begitu kaget, melihat noda darah yang banyak pada kakinya.


" Jangan sentuh saya." Kiya terus memberontak, saat Ardhan mencoba ingin menyentuhnya. Terus menghindar dari pria asing yang tidak ia kenal, Kiya berjalan terseok-seok menjauhi Ardhan.


" Seharusnya kau menjadi milikku, milikku. Tapi dia terus yang selalu menang dariku, kali ini tidak akan aku biarkan dia menang kembali. Dan kau! Selamanya tidak akan bisa bersamanya lagi, hahaha." Suara Ardhan mengggema, hampir terdengar dari berbagai penjuru di tempat tersebut.


Kiya semakin tidak bisa menahan rasa sakit yang ada, ia pun berteriak untuk meminta tolong. Berharap ada orang baik yang mendengar suaranya, rasa sakit pada bagian perutnya semakin tidak tertahankan.


" To tolong, tolong!!" Tiba-tiba kaki Kiya terasa sangat lemas dan ia pun ambruk.


" Argh! Sa sakit, tolong to long!! Argh!!!" Jeritan demi jeritan yang keluar dari mulut Kiya.

__ADS_1


" Ka kamu kenapa? Darahnya semakin banyak." Ardhan tampak kebingungan.


" To tolong, aku mohon. Selamatkan anak-anakku, tolong." Kiya memohon belas kasihan dari Ardhan.


" Heh! Aku lebih baik melihatmu mati, daripada harus membantumu melahirkan anak dari Azzam!!! " Ardhan semakin hilang kewarasannya, ia pun menyeret tubuh mungil itu dengan menarik tangannya.


" Argh!!!"


......................


Disaat Azzam dan juga Gabriel menyelusuri jalan yang ditunjukkan oleh Dzac sebelumnya, mereka mendapatkan serang dari pihak lawan yang mengikuti mereka.


Bugh


Bugh


" Zam, kau fokus saja mencari Kiya. Biar aku yang menangani mereka, cepat pergi!" Gabriel menahan serangan dari lawannya, agar Azzam bisa lari.


Tanpa menjawab, Azzam pun segera berlari menerobos jalan yang ia lewati. Mata dan telingnya fokus untuk mencari keberadaan wanuta yang sangat berarti dalam hidupnya.


Argh!!!


Suara itu. Azzam.

__ADS_1


__ADS_2