BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 97


__ADS_3

" Mas, ngantuk." Tiba-tiba Kiya berkata kepada Azzam seperti itu.


" Sayang! Kenapa, apa ada sesuatu yang kamu rasain? Dokter! Dokter. " Azzam berteriak panik lalu menjadi ketakutan dengan kejadian tersebut, ia mengira terjadi sesuatu pada istrinya.


Dokter pun segera menghampiri mereka, mendengarkan keluhan yang Azzam katakan. Setelah sang dokter memeriksa keadaan Kiya, lalu dokter tersebut tersenyum.


" Tuan, nona hanya merasakan rasa kantuk yang ia lawan sebelumnya. Hal ini normal terjadi, karena obat yang digunakan ketika operasi untuk memberikan efek tidak sadar atau anestesi pada dasarnya memiliki efek membuat tubuh terasa lemas. Anda tidak perlu khawatir, kondisi akan beranggsur pulih." Dokter pun kembali meneruskan pekerjaannya untuk menutup kembali luka yang ada.


Mendengar penjelasan dari sang dokter, Azzam merasa sedikit lega. Matanya tak henti-henti memandangi wajah bidadarinya yang telah membuatnya mengalami perubahan yang begitu nyata, hidup dengan sebuah keyakinan yang teguh. Bahkan, bidadari itu dengan ikhlasnya menerima segala kekurangan yang terdapat pada dirinya. Lalu Azzam beralih kepada kedua malaikat kecilnya yang berada di ruangan khusus mereka, keduanya terlihat begitu tampan dan sangat menggemaskan.


" Hallo boy, ini daddy nak. Terima kasih telah hadir di kehidupan ini, semoga kalian menjadi penyejuk hati seperti mommy. Jadilah sebaik-baiknya orang yang bertakwa, agar daddy dan mommy bangga." Azzam mengecup pipi kedua puteranya, lalu ia meng-azankan mereka dengan dibimbing oleh salah satu staff rumah sakit.


Mendengar jika nona mereka telah melahirkan, dan selamat. Ketiga pria jomblo yang sedang menunggu di luar ruangan berteriak dengan penuh kegembiran, seperti orang yang memenangkan sebuah undian besar.

__ADS_1


" Syukurlah, nona dan puteranya selamat. Rumah utama bakalan tambah meriah, dengan kehadiran mereka." Kenan merasa sangat senang dengan kabar gembira dari nona mereka.


" Akh! Aku bakalan lembur dua puluh empat jam nonstop ini, tidak di perusahaan dan juga di markas. Tapi lucu juga, bisa melihat tuan menjadi suami dan daddy siaga." Daffa menopangkan wajahnya dengan menggunakan telapak tangan.


" Akhirnya! Aku menjadi paman, aaaa... Nona, aku semakin kagum padamu." Dzac kembali kepada tingkahnya yang super duper menjengkelkan.


Plak!!



" Pisang, bisa nggak tu mulut di sekolahin dulu. Biar kata-kata yang keluar dari mulut lu itu berfaedah dan tidak membuat orang lain tekanan darah tinggi. Ah, lebih baik aku menyegar kepala dulu. Bisa meledak jika terus mendengar ocehan congornya." Kenan menyerang Dzac dengan ucapnnya.


__ADS_1


" Kalian ini, selalu saja seperti ini. Duduk dengan tenang, jika tidak mau aku patahkan kedua kaki kalian!" Daffa begitu kesal dengan ulah dari kedua manusia yang tidak pernah akur itu, bahkan disaat seperti ini pun mereka masih bisa bertengkar.


Kenan dan Dzac langsung bungkam, walaupun mereka bertiga mempunyai kedudukan yang sama. Namun untuk ke-seganan, Kenan dan Dzac akan patuh pada Daffa.



......................


Di suatu rumah mewah dan megah, seorang wanita dengan dengan sikapnya yang angun namun sangat angkuh.


" Heh! Bodoh, dasar pria bodoh. Tapi, baguslah. Aku tidak harus bersusah payah untuk melenyapkannya, dasar pria aneh yang tidak waras. Kau kira, selama ini aku akan selalu setia. Itu tak akan terjadi, hahaha. Kesempatanku untuk rencana berikutnya begitunbesar setelah pria bodoh itu mati." Bianca dengan senyuman penuh kemenangan, memang selama ini Bianca hanya memanfaatkan Ardhan hanya untuk memuaskan kesenangannya.


__ADS_1


__ADS_2