BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 46


__ADS_3

Flashback On...


Setibanya di mansion, Azzam hanya duduk bersandar pada kursi diruang kerjanya. Tangan kanannya menjadi tumpuan kepalanya, kepalanya sangat terasa pusing.


Dddrrtt...


Dddrrtt...


" Hem." Azzam hanya berdehem menjawab panggilan telfon tersebut.


" Tuan, ini Dzac."


" Akan akau ledakkan isi kepalamu itu, Dzaca!!!" teriak Azzam yang sudah dalam keadaan emosi.


" Iya ,iya. Kau sungguh menyebalkan, bos. Ups!!! " Dzac kelepasan bicara, memang mulut lemesnya tidak bisa ditahan.


" Dzac!!!." Suara Azzam meninggi.


" Ah iya, iya bos. Nona Kiya masuk rumah sakit, dirumah sakit Tuan Gabriel belerja, eh bekerja bos."


Tut


Tut


Tut...


" Dasar biawak buntung, kadal sialan. Akkhh, untung saja kau bos, kalau bukan sudah aku cincang. Ups, keceplosan lagi. Maaf bos!." Mata Dzac mengitari setiap sudut ruangan itu, ia takut kelakuannya itu terekam kamera pengawas yang ada.


Flashback Off...

__ADS_1


Bbrraakk!!!


" Sayang!!!" Suara Azzam terdengar sangat keras, saat memasuki ruang perawatan dimana Kiya saat itu.


Semua mata orang yang berada didalam ruangan tersebut, menatap ke arah sumber suara. Betapa kagetnya Kiya, saat melihat siapa yang berdiri disana. Gabriel memberikan kode kepada Kiya, agar tetap tenang.


" Heh, ada apa kau kemari? " Ledek Gabriel kepada Azzam.


Azzam tidak mengubris perkataan Gabriel, ia hanya fokus melihat Kiya. Namun, Kiya mengalihkan pandangannya agar tidak saling bertatapan. Jauh di dalam hatinya, Kiya juga sangat merindukan pria yang telah mengisi hari-harinya. Tapi, kejadian saat dihotel tersebut. Membuatnya harus menutup hatinya untuk sementara dari pria itu.


" Sayang, mas bisa menjelaskan semuanya. Tolong, beri mas kesempatan untuk itu." Azzam tidak bisa menerobos pertahanan Gabriel, tubuhnya mengahalang Azzam agar bisa berdekatan dengan Kiya.


" Jangan sekarang Zam, Kiya perlu istirahat. Pulanglah!! Daffa, bawa bos mu ini pulang." Gabriel sedikit menekan perkataannya.


" Lepas, bre****ek!!" Azzam sudah mulai terpancing emosinya dengan ulah Gabriel yang menghalanginya.


Bugh!!


Bugh!!


Azzam dengan amarahnya, melayangkan pukulan demi pukulan kepada Gabriel. Daffa tak ingin ikut campur, ia tau bosnya itu tidak suka urusan pribadinya dicampuri orang lain. Ambar yang melihat kejadian itu, segera ia menghampiri Kiya yang sudah menanggis.


" Sudah nak, jangan menanggis. Jangan di lihat jika kau tidak kuat, tutup matamu." Ambar memeluk tubuh Kiya yang bergetar.


Gabriel terus menghalangi Azzam, mereka semakin larut dalam perkelahian yang sebenarnya tidak terlalu penting. Mereka yang secara fisik, sama-sama kuat. Namun sangay disayangkan, untuk masalag emosi. Azzam lebih mendominasi dibandingan Gabriel.


Melihat kondisi Gabriel yang sudah cukup lumayan babak belur, dibandingkan Azzam yang tidak mengalami luka sedikitpun. Kiya menjadi sangat khawatir jika kakaknya itu akan semakin terluka, dengan memberanikan diri. Kiya melepas pelukan sang nenek, perlahan turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kedua pria yang sedang bersitegang itu.


" Kalau kalian berdua tidak berhenti, jangan salahkan jika aku membenci kalian seumur hidupku!!" Tegas Kiya dengan suara yang lantang.

__ADS_1


Sontak saja, perkelahian diantara kedua pria tersebut berhenti seketika. Azzam menghentikan serangannya kepada Gabriel, ia takut jika Kiya semakin membencinya dan tidak ingin melihatnya lagi. Hal ini tidak di sia-siakan oleh Gabriel, melihat ada peluang. Langsung saja Gabriel menghadiakan kembali pukulan yang sangat telak kepada Azzam, pukulan itu tepat mengenai hidungnya.


Bugh


Bugh


Darah mengalir dari hidung dan sudut bibir Azzam, ia sengaja tidak melakukan pertahanan. Senyum sumrigah terlihat dari wajah Gabriel, dengan sangat senangnya ia akan melakukan pembalasan kembali.


" Stop!!" Kiya terlebih dahulu menjerit, melihat Gabriel yang akan melayangkan pukulannya kembali kepada Azzam. Gabriel hanya tersenyum kecut dengan teriakan Kiya.


" Kau beruntung kali ini, jika tidak." Dengan tatapan mata yang sini, Gabriel meledek Azzam.


" Kakak!" Kiya kembali menekankan pembicaraannya.


" Iya, iya. Nek, sepertinya kita harus mengungsi terlebih dahulu. Jika nenek sayang dengan mata nenek, ikut Briel. Ada aroma yang menusuk hidup nih." Menggerakkan hidung seperti mengendus bau.


" Hah, aroma apa Briel? Jangan sembarangan." Ambar menahan tawa, melihat mimik muka cucu angkatnya itu.


" Hadeh, nenek seperti tidak pernah muda saja. Aroma kebucinan lah, oh iya Briel lupa. Kalau nenek kan memang sudah beranjak tua, hahaha." Dengan tawa yang lepas, Gabriel merengkuh tangan Ambar dan membawanya menuju pintu keluar.


" Dasar cucu durhaka." Ambar mendeplak bahu Gabriel dengan pelan.


Ambar mengikuti langkah Gabriel, sebelumnya ia mengelus pundak Kiya secara perlahan.


" Bicaralah dari hati ke hati, jangan selalu menggunakan ego."


Begitu pun dengan Gabriel, langkahnya terhenti sebelum keluar dari ruangan tersebut. Sorot matanya menatap tajam kepada Azzam yang masih berdiri kaku, matanya juga melihat Kiya dengan penuh arti.


" Jika kau melukai adikku lagi, jangan salah jika kau akan kuhabisi." langsung saja, bahu Gabriel mendapat tepukan dari Ambar, mengisyaratkan untuk segera pergi.

__ADS_1


__ADS_2