BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 81


__ADS_3

" A apa? Ne nek! " Azzam begitu kaget, kabar duka itu harus ia terima disaat sang istri juga terluka.


" Iya, nenek terkena serangan jantung. Ada yang menelfon dan mengatakan padanya, jika Kiya diculik. Saat itu, aku sudah sangat telat untuk menangani keadaannya." Dengan kepala tertunduk, tubuh Gabriel mulai bergetar dalam tangisannya.


Azzam sangat terkejut dengn apa yang Gabriel katakan, keluarga satu-satunya dari sang istri kini telah pergi. Bagaimana caranya ia bisa menjelaskan semuanya kepada sang istri, yang saat ini kondisinya sedang tidak baik.


" Aku turut berduka, Gab." Hanya kalimat tersebut yang bisa Azzam ucapkan.


" Terima kasih. Aku harap, Kiya akan baik-baik saja. Aku tidak ingin kehilangan lagi, Zam. Hanya dia, dia adalah adikku yang saat ini aku miliki." Air mata itu terus mengalir, Azzam memahami keadaan yang dirasakan oleh Gabriel.


" Aku akan melihat keadaan istriku dulu, setelah itu kita mengurus jenazah nenek. Apa kau mau ikut masuk?" Azzam tau, jika Gabriel akan ikut masuk walaupun tanpa penawaran.


Terbukti, dia telah mendahului Azzam sebagai suami dari pasien dan memasuki ruangan tersebut. Dikarenakan rumah sakit itu milik Gabriel sendiri, maka dengan leluasanya ia bisa menentukan sikapnya. Kini Azzam memandangi sang istri mungilnya itu dari balik kaca, ruang steril yang tidak bisa dimasuki oleh orang lain selain hanya tenaga medis.


Rasa sesak pada dadanya kembali terasa sangat menyiksa, melihat tubuh mungil itu terbaring kaku di atas tempat tidur. Pada tubuhnya, banyak terpasang berbagai alat medis untuk menunjang kehidupannya.


Sayang! Kamu pasti bisa melewatinya, kamu adalah wanita yang kuat dan hebat. Hanya dirimu yang bisa menakhlukkan manusia iblis seperti diriku, kamu bidadari yang dikirimkan untuk membuat hidup ini menjadi lebih berarti. Sayang, jangan lama-lama ya tidurnya. Mas merindukan kalian bertiga, baby! Jangan membuat mommy semakin lama tidurnya, daddy tidak bisa hidup dan sangat kesepian tanpa kalian. Azzam.


Selesai dengan melihat kondisi Kiya, Gabriel dan Azzam beserta ketiga rekan kerja itu (Kenan, Dzac dan Rayyan), mereka menyegerakan rangkaian untuk pemakaman sanga nenek. Dengan tata pemakaman cara seperti agama sang nenek. Dan disaat liang itu sudah tertutup dengan tanah, Gabriel tak henti-hentinya termenung, melamun dan air mata yang tak habis-habisnya mengalir dari mata seorang yang berjiwa kejam di balik topeng profesinya sebagai dokter. Baru saja merasakan hangatnya memiliki keluarga yang sangat menyayanginya dan mencintainya dengan tulus. Kini, itu semua hanya tingal kenangan. Hanya sang adik yang ia punya, dan itu pun membuatnya kembali merasakan sakit. Sang adik, sedang berjuang diantara hidup dan mati.


Nek! Terima kasih. Gabriel.

__ADS_1


......................


Dengan nuansa pemandangan yang indah nan sejuk, hembusan angin memberikan rasa kenyamanan untuk setiap insan.


" Nak, bangunlah."


" Egh! Ibu, Kiya masih ngantuk! Sebentar lagi ya." Tubuh mungil itu mengeliat dengan dari tidurnya.


" Bagunlah, sayang. Anak-anakmu sudah menunggu dari tadi."


" Hah! Anak?" Kiya langsung saja beranjak dari tidurnya dan berdiri menghampiri Ibunya yang sudah membagunkannya.


Dengan sangat penasaran, Kiya pun berjalan mendekati mereka. Sungguh hal itu membuat mata Kiya melebar dan perasaan yang tidak bisa dibayangkan, kedua balita itu terlihat sangat menggemaskan.


" Mommy !!!" Keduanya memanggil Kiya dengan sebutan mommy dan berlari memeluknya. Kiya yang sangat bingung, menjadi begong.


" Anak-anakmu sungguh imut nak, Ayah suka sekali bermain dengan mereka. Lihatlah, nenekmu juga semangat sekali bermain dengan mereka."


Ketika kedua balita itu memeluk Kiya, ada getaran yang sangat berbeda pada diri Kiya.


" Mommy, kenapa melamun? Kakak, lihat mommy. " ujar salah satu balita tersebut.

__ADS_1


" Mom, jangan melamun. Ayo kita berkempul disana." Balita yang dipanggil dengan kakak itu menarik tangan Kiya, lalu tubuhnya tanpa menolak mengikuti langkah mereka.


" Nak, lihatlah." Sang Ayah mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke salah satu arah, terlihat jika disana ada seorang pria yang menatap pasien dari balik kaca.


Kening Kiya berkerut, seakan-akan ia menyaksikan tentang diriny sendiri dari gambar yang ia lihat. Tangan Ibu dan nenek pun memeluk Kiya dari sisi sampin, mengelus punggung tangannya dengan sangat perlahan.


" Mas Azzam!" Kiya menerka siapa pria tersebut.


" Bawalah pulang kedua cucu Ibu ini nak, tempat mereka dan kamu bukan disini. Suamimu dan juga Ayah mereka sangat merindukan kalian bertiga." Senyuman itu semakin membuat Kiya tidak bisa mengeluarkan satu kata pun.


Ada apa ini? Kenapa semua ini membuatku bigung. Apa yang sebenarnya terjadi? Dimana ini? Kiya.


" Nanti kau akan mendapatkan jawaban dari kebingungan ini, bawalah mereka melewati pintu itu nak. Ayah dan Ibu serta nenekmu, akan merasa bahagia jika dirimu juga bahagia. " Ujar sang Ayah yang lama kelamaan, bayangan mereka bertiga semakin memudar dan menghilang.


" Mom, are you okay?" Balita itu menarik-narik ujung kerudung yang Kiya gunakan.


" Ah, iya. Ayo kita kesana."


" Let's go mom." Suara dari kedua balita itu terdengar sangat semangat.


Kiya bersama kedua balita itu berjalan menuju pintu yang di beritahukan oleh sang Ayah, terdapat cahaya putih yang cukup menyilaukan mata, kaki itu melangkah dengan tenang dan pintu yang terbuka tadi, saat ini telah tertutup.

__ADS_1


__ADS_2