
Mendengar suara ledakan yang ada, Azzam pun terkecoh olehnya. Hal itu membuat Hendra tak menyia-nyiakan waktu untuk menyerang Azzam.
Crash!!
Sebuah goresan yang disebabkan oleh sabetan senjata tajam yang Hendra gunakan, membuat lengan Azzam mengeluarkan darah segar. Kejadian tersebut membuat amarah Azzam semakin besar dan langsung saja ia melakukan hal yang seharusnya ia lakukan sebelumnya.
Dengan begitu mudahnya, Azzam merebut senjata itu dari tangan Hendra. Lalu ia melemparkannya kesembarangan arah, pertikaian pun terjadi diantara mereka berdua. Baku hantam yang mereka lakukan, menyebabkan Hendra menjadi pelampiasan dari rasa amarah pada diri Azzam.
Bugh!!!
Bugh!!!
" Aku tidak tau, apa alasanmu melakukan ini. Namun, jika itu sudah menyangkut keselamatan keluarga kecilku! Maka tidak ada kata kasihan untuk siapapun!!!"
Azzam semakin menggila, ia terus melayangkan pukulan demi pukulan kepada Hendra. Disaat Hendra telah kehilangan semua kekuatannya, perlahan gerakan tangannya bergerak untuk memegang telingganya.
" Dad!!! Anting-anting!!!" Suara Ansel menggema ditelingga Azzam, memberitahukan jika alat pengendali dari semua peledak tersebut berada pada anting-anting yang digunakan di telingga Hendra.
Azzam yang saat itu posisinya berjarak dengan posisi Hendra, berusah semaksimal mungkin untuk mencegah tombol tersebut tertekan. Tapi...!!!
Bugh!!!
__ADS_1
Crash!!!
Crash!!!
Tubuh Hendra terpental cukup kuat, menabrak dinding yang berada pada sisi kanannya. Sebuah tangan mungil mengayunkan sebuah senjata yang berkilau, sinar pantulan itu berasal dari terkenanya cahaya lampu.
" Akh! Akh!" Hendra berteriak dengan begitu kerasnya.
Seorang anak kecil tersenyum dengan penuh kemenangan, tangannya masih memegang senjata tajam yang berlumuran darah.
" Bagaimana Dad?!" Suara tersebut membuat Azzam tercegang dan sangat tidak percaya.
Putera keduanya, yang selama ini belum menampakkan kemahirannya. Kini, dengan begitu bangganya hal itu ia kemukakan terhadap daddynya.
Arick, dengan tanpa rasa takut. Ia mengambil daun telingga Hendra yang sebelumnya telah ia pisahkan menggunakan senjata miliknya, menancapkannya pada ujung pisau dan menyerahkannya kepada sang daddy.
" Bagaimana dad? Apakah daddy suka terhadap hadiahku?" Gigi susu itu tertata rapi dan diperlihatkan kepada Azzam.
Merangkul bahu Arick, Azzam menekuk kakinya agar bisa sejajar dengan sang anak. Sementara Hendra, ia kini telah diamankan oleh bawahannya.
" Jangan kau perlihatkan kemampuanmu ini dihadapan mommy, oke!" Menarik Arick kedalam pelukannya, Azzam pun membisikan sesuatu.
__ADS_1
Hendra terus memberontak untuk melepaskan diri, ia juga melontarkan beberapa perkataan yang cukup membuat orang sakit kepala. Arick pun melihat wajah Azzam, seakan meminta sesuatu persetujuan kepadanya. Azzam kembali menarik nafasnya, dan menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
" Thank's Dad!" Tanpa menolehkan wajahnya, tangan Arick bergerak dan mengayunkannya kesuatu arah. Seketika, dua senjata yang ia pegang sebelumnya terlepas dan terbang menuju sasaran.
Sruutp!!
Sruutp!!
" Yes!" Mulut mungil itu berguman dan tangan kanannya mengepal ke atas, begitu gembiranya dengan hasil yang ia dapatkan.
Senjata itu melesat dengan cepat dan kemudian menancap tepat dikepala dan janutngnya Hendra, hingga membuatnya tewas seketika. Semua bawahan yang melihatnya, menjadi tercengang dan shock seketika. Pikiran mereka tidak akan bisa berjalan untuk menerima fakta yang terlihat, anak kecil dengan piawainya menggunakan senjata tajam. Tanpa rasa takut melawan musuh dan membuatnya tewas, malah senyum manis yang ia perlihatkan.
" Wow! Apa mataku tidak katarak?! Itu tuan muda Arick, bukan?! Bagaimana bisa dia melakukan hal ini?" Kenan terpukau dengan kemahiran anak dari bosnya.
" Benar-benar!!! Bagaimana bisa adikku mempunyai anak dengan kemampuan gila seperti bapaknya? Oh tidak, kenapa kalian tidak menduplicate mommy kalian saja! Aih!!" Gabriel semakin mengomel dengan hal baru yang ia saksikan.
Berjalan dengan santai, Azzam menggendong Arick mendekati mereka yang sedang berceloteh tidak karuan.
" Anak-anakku sangat istimewa, bukan?!" Dengan bangganya, ia memperlihatkan kepada semua orang yang berada disana.
" Heh! Jika Kiya tau, habislah kalian terkena omelannya tujuh hari tujuh malam." Gabriel berdenggus kesal, melihat Azzam menyombongkan hal tersebut.
__ADS_1
" Anakku sangat pintar, tidak akan ceroboh seperti unclenya. Iya kan, boy?! Hahaha." Masih dengan angkuhnya, Azzam memancing emosi Gabriel sehingga semakin membuatnya kesal.
Sementara itu, Kenan lebih memilih membereskan Hendra dari sana dan menyerahkan tombol pengendali peledak kepada Dzac dan Ansel. Daripada melihat dua pria yang saling menampakkan keangkuhannya masing-masing.