
Tak
Tak
Tak
Suara langkah orang berlarian terdengar, terlihat orang-orang kepercayaan Azzam telah berdatangan. Disaat Azzam akan menghabisinya, sebuah tangan yang tak jauh kekarnya menahan tangam Azzam.
" Biarkan aku yang menyelesaikannya, percaya padaku!" Orang tersebut adalah Andrian, kakak dari Ardhan.
" Jangan mengecewakanku lagi!!" Azzam menghempaskan tangan milik Andrian dan berlari menuju istrinya.
Andrian melihat keadaan sang adik, sudah sangat mengenaskan. Ada rasa sesal dan marah atas kelakuannya, namun hukum harus tetap dilaksanakan.
......................
__ADS_1
Gabriel yang melihat Kiya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, betapa hancurnya ia saat itu. Berusaha untuk tetap tegar dan kuat, air matanya sudah tak terbendung lagi.
" Kiya, bertahanlah!" Ucap Gabriel yang langsung menangani kondisi Kiya, disaat Azzam masih menghajar Ardhan.
" Ka kak, sa sa kit." Suara Kiya sudah terdengar tidak begitu jelas, tangannya terus memegang perutnya.
" AZZAM!!!" Gabriel berteriak dengan sangat panik.
Azzam berlarian dengan wajah yang begitu sangat khawatir, tubuh mungil itu langsung ia letakkan ke dalam pelukannya. Menatapi tubuh itu dengan begitu nanar, air matanya sudah tidak terbendung lagi.
" Sa yang!" Genggaman tangan kekar itu sangat erat pada tangan mungil, Azzam begitu bingung dengan keadaan saat itu.
" Gab!" Mata elang Azzam menatap dengan begitu tajam.
" Benar Zam, itu Dzac sudah menyiapkan mobik!" Gabriel mengarahkan Azzam agar secepatnya membawa Kiya kerumah sakit.
__ADS_1
Dengan menggendong Kiya, dan Gabriel menahan aliran darah dari dada kirinya. Gabriel mengkhawatirkan tusukan itu mengenai organ vital jantung. Namun, itu hanya dugaan sementara.
" Gab, kenapa darahnya semakin banyak? Bagaimana ini, tolong selamat Kiya dan anak-anakku!! Tolong." Saat sudah berada di dalam mobil, Dzac mengemudikannya dengan kecepatan maksimal. Azzam menatap aliran darah yang terus mengalir, begitu takutnya ia jika nyawa istri dan anak-anaknya tidak terselamatkan.
" Tatap tenang, kita semua berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka. Kiya mengalami plasenta previa, hal itu menghambat pembukaan pada jalan lahirnya. Pertahankan Kiya untuk tetap sadar." Gabriel berusaha setenang mungkin untuk menghadapi situasi seperti ini, tapi dari dalam hatinya. Ia begitu takut kehilangan lagi.
Dzac semakin menambah kecepatan laju monilnya, mendengar pembicaraan kedua tuannya itu. Membuat jiwa Dzac seakan terguncang, apalagi melihat kondisi nona kesayangannya sedang berjuang diantara hidup dan mati bersama calon keponakannya.
Sementara itu, Kiya merasa semakin tidak bisa melawan rasa kantuk yang luar biasa. Untuk berbicara pun, ia sudah tidak sanggup lagi. Sang suami dengan berbagai usahanya, menjaga mata miliknya untuk terus terbuka.
" Sayang! Bertahanlah, bertahanlah untuk baby. Mas mohon, bertahanlah." Suara lirih itu semakin membuat suasana mencekam.
" Kiya! Dengar kakak, lawan rasa kantuk yang ada. Lawan dengan semua tenaga yang kamu miliki, sebentar lagi kamu akan menjadi mommy dek. Berjuanglah!!" Pertahanan Gabriel pun akhirnya tumbang, air mata itu lolos keluar dari matanya dengan sangat deras.
Merasa sangat rapuh, Azzam teringat akan apa yang Kiya selalu ajarkan kepadanya. Walaupun hal itu terkadang ia anggap sepele, namun dengan sabarnya sang istri tetap terus membimbing dan mengiringinya. Azzam membisikkan kalimat-kalimat zikir dan istighfar pada telingga sang istri, berharap hal itu bisa memberikan kekuatan bagi Kiya agar bisa bertahan.
__ADS_1
Azzam melakukkannya berulang-ulang di telingga Kiya, mata cantik itu tetap terbuka dan senyuman terukir di wajah tersebut. Entah apa yang Kiya rasakan saat itu, bahkan bisa dibilang. Gabriel dan Azzam semakin khawatir dan begitu cemas, saat hidung Kiya mengeluarkan darah segar, Azzam tetap mempertahan dirinya untuk membuat Kiya sadar.
" Kiya! Kiya!"...