BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 70


__ADS_3

" Sayang?!" Suara Azzam menggelegar dari dalam kamar, saat ia kembali dan tidak menemukan keberadaan sang istri. Hal itu membuatnya menjadi panik, namun ternyata. Bidadarinya itu sedang berada di balkon kamar mereka, dan Kiya pun segera ingin menghampiri suaminya.


" Iya mas, jangan teriak-teriak ya. Bikin kaget saja." Menutup pintu balkonnya secara perlahan, lalu Kiya menatap wajah suaminya dengan sangat dalam .



" Mas kira kamu nggak ada dikamar, Yang! Ngapain di luar sana?" Jiwa posesif dan protektifnya kembali menyeruak, membuat Azzam melingkarkan kedua tangannya pada pinggang sang istri.


" Hanya penasaran saja mas." jawab Kiya dan membalas suaminya dengan sebuah pelukan hangat darinya.


" Penasaran??" Mulut Azzam membeo, setelah mendengar apa yang Kiya ucapkan.


Dengan menggumpulkan keberanian pada dirinya, Kiya melepas pelukannya dan membawa Azzam untuk duduk di sofa.


" Apa dunia bawah yang mas pimpin, sekejam itu mas? Maaf, tadi aku melihatnya." Kiya menjelaskan maksud dari perkataannya kepada sang suami.

__ADS_1


Istriku ini melihat kejadian dari atas rupanya, bagaimana bisa dia setenang ini setelah melihatnya? Azzam.


" Huh!!" Menghembuskan nafasnya dengan sangat kuat, membuat Kiya merasa sedikit takut jika suaminya akan marah.


" Seharusnya, mas lah yang meminta maaf padamu sayang. Kini, dirimu dan baby kadi ikut terlibat dalam kelamnya dunia bawah. Maaf." Azzam meraih tubuh Kiya dari samping dan memeluknya, mengecup kening sang bidadari dengan perlahan.


" Semuanya sudah terjadi mas, tidak mungkin untuk mundur. Siapa yang datang tadi, mas? Sepertinya kamu sudah sangat mengenalnya." Kiya mengelus punggung tangan Azzam dan menatapnya, seakan mengatakan kalau ia baik-baik saja dengan keadaan saat ini.


" Apa kau ingin mengetahuinya, sayang? " Merasa sudah saatnya, jika istrinya itu mengetahui masa lalunya.


Kiya hanya menganggukkan kepala, sebagau tanda jika dia sangat ingin mengetahui seperti apa masa lalu dari suaminya.


" Mereka adalah saudaraku dari ayah." Azzam memulai ceritanya, menceritakan bagaimana awal mulanya kehidupannya hancur hingga saat ini (pada bab 64, ada pembahasan mengenai Ardhan dan kehidupan Azzam).


Air yang berasal dari sudut mata Azzam, mengalir dengan begitu deras. Terasa sekali tubuhnya bergetar, Kiya melihat dan menatap suaminya dengan sangat dekat. Saat ini, yang terlihat hanyalah seorang Azzam yang sangat rapuh, jauh sekali kesannua dari seorang leader ataupun pria yang arogan dan angkuh. Semua luka dari masa lalunya, satu persatu ia buka. Ternyata, begitu menyakitkan !

__ADS_1


" Kamu adalah orang yang begitu istimewa, mas." Ucap Kiya sembari menghapus air mata di wajah suaminya.


" Aku sungguh beruntung, mas. Bisa bersama seorang pria yang begitu kuat dan tegar, tidak semuanya orang bisa menjalani kehidupan sepertimu." Kiya mencium pipi kanan Azzam dan kembali mengeratkan pelukannya kedalam dada suaminya.


" Apa kamu tidak malu, mempunyai suami yang begitu kotor dengan semua perjalanan hidupku ini? Seharusnya kau pantas untuk mendapatkan yang lebih baik dariku." Azzam kembali mengeluarkan air dari matanya.


" Aku tidak menyesal dan tidak merasa malu mas, justru aku belajar banyak darimu. Jangan menyesali semua yang sudah terjadi, perlahan-lahan cobalah untuk berdamai dengan semuanya. Kamu adalah pemimpinnya, dalam perusahan. Kamu begitu sukses hingga bisa menjadi seorang CEO. Dalam dunia bawah pun, kamu berhasil sebagai leader dalam kelompok. Apa boleh, aku juga meminta dirimu membawa kamu dan kami (Kiya dan calon baby) untuk meraih jannahNYA, mas?" Ucap Kiya yang kini juga mulai meneteskan air mata.


" Maaf, maafkan mas! Maaf sudah membawa kalian sampai sejauh ini, Yang! Jangan menanggis, mas tidak mau kamu menanggis. Tolong! Bimbing dan ajari mas untuk semuanya." Azzam yang merasakan tubuh istrinya bergetar, dengan segera ia mengusap wajahnya dengan perlahan. Kiya pun membalasnya dengan menganggukkan kepalanya, hal itu membuat Azzam merasa tenang dan nyaman.



" Terima kasih, sayang. Kehadiranmu membuat mas menjadi seperti ini, apapun yang terjadi. Kalianlah prioritas utama dalam hidup mas, kamu sungguh membuat mas menjadi pria yang beruntung di dunia ini. Berjanjilah! Untuk tetap berada di samping mas, apapun yang terjadi. Dan baby, daddy mohon pada kalian. Jangan membuat mommy menjadi kesulitan ya, tumbuh dan berkembanglah didalam sana. Daddy dan mommy menunggu kalian, nak." Kembali Kiya menganggukkan kepalanya, disaat Azzam mengelus dan mencium perutnya.


" Insyaa Allah mas."

__ADS_1


Terima kasih Ya Rabb, Engkau mengirimkan bidadari sesempurna ini untuk masuk ke dalam kehidupanku yang sangat hina ini. Tolong! Jangan Engkau pisahkan kami, biarkanlah hanya mautMu yang bisa membuat kami menjauh, namun tidak untuk yanh lainnya. Azzam.


Ya Rabb! Izinkanlah, suamiku untuk melakukan perubahan dalam diri dan kehidupannya untuk lebih dekat denganMU. Hanyalah padaMU tempat aku memohon. Kiya.


__ADS_2