BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 117


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu, kehamilan Kiya pun memasuki usia ke empat bulan. Perut yang rata itu, kini terlihat sedikit membesar dari sebelumnya.


" Assalamu'alaikum Mas, sepertinya aku ingin makan-makanan jepang. Apa boleh?" Setelah menghantarkan kedua puteranya ke sekolah, Kiya mendadak ingin memakan sesuatu yang sering disebut orang dengan mengidam. Hal itu membuatnya langsung menghubungi sang suami melalui ponselnya.


" Wa'alaikumussalam. Itu kan makanan yang tidak di masak, sayang. Tidak baik untuk baby, makan yang lain saja ya. Nanti mas akan pesankan!" Azzam merasa aneh pada istrinya, tidak seperti kehamilan si kembar sebelumnya.


" Hem, ya baik mas. Assalamu'alaikum." Kiya mengakhiri pembicaraannya, entah mengapa kali ini ia begitu sangat sensitif.


" Tapi Yang, ... Wa'alaikumussalam." Azzam menjadi kalang kabut dengan sikap bumil kali ini.


" Ah! Kenapa dia begitu sensitif sekali, baby oh baby. Kenapa kau membuat daddy bingung seperti ini nak, kalau tidak sedang mengandung. Pasti mommymu sudah daddy hukum, karena sudah cemberut pada daddy. Akh! Kau selalu memang sayang." Tidak tega dengan apa yang istrinya inginkan, karena memang sangat jarang Kiya meminta sesuatu kepadanya.


Menghubungi Jaka yang saat itu sedang menghantarkan Kiya, Azzam segera memerintahkannya untuk menuruti apa yang istrinya inginkan.


" Kau bawa nona ketempat yamg sedang ia inginkan, nanti aku akan menyusul kesana."

__ADS_1


" Baik tuan."


Jaka memberitahukan hal tersebut kepada Kiya, senyuman itu terukir jelas pada wajahnya.


Terima kasih mas, kau memang selalu mengerti. Sungguh beruntungnya kami memilikimu, sayang. Kiya.


Setelah memberitahukan hal itu, Azzam segera menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Tak lupa ia meminta Daffa untuk membantunya, dan tak lupa hal itu mendapatkan umpatan dari sang asisten.


Aih, selalu saja. Daffa.


" Tidak usah mengumpatku dalam hati, cepat selesaikan. Aku ingin segera menemani istriku, yang sedang mengidam." Perkataan Azzam sedikit menyindir Daffa, lalu ia tertawa mengejek. Dan ia juga tau, jika asistennya itu tidak pernah jatuh cinta ataupun berpacaran dengan wanita manapun.


" Kita sudah sampai, nona." Jaka menghentikan mobil tersebut, tepat didepan restoran makanan Jepang yang Kiya inginkan.


" Jaka, apa kamu sudah pernah mencicipi makananya? Aku belum pernah memesan ataupun memakannya, aku takut jadi bahan tertawaan orang-orang." Bisik Kiya kepada Jaka.

__ADS_1


Apa? Nona belum pernah mencicipi dan merasakan makanan Jepang ini? Ya Tuhan, tuan tuan. Kau begitu pelitnya, aku saja sudah hampir setiap minggu memakannya. Jaka.


" Tenang saja, nona. Tuan akan segera tiba, kita lebih baik menunggunya didalam." Jaka membuka pintu mobil bagian penumpang, Kiya pun menurunkan kakinya dengan ragu.


" Ah, nanti saja ya. Kita tunggu mas Azzam sampai saja, aku takut nanti malu-maluin di dalam sana, Jaka." Wajah keraguan itu tampak jelas pada wajah Kiya.


" Saya akan membantu memesankannya untuk nona. Mari nona." Jaka menawarkan dirinya untuk membantu Kiya.


" Eee, baiklah. Terima kasih ya." Akhirnya Kiya melangkahkan kakinya menuju restoran makanan Jepang tersebut bersama Jaka.


Namun disaat mereka akan memasuki restoran tersebut, tiba-tiba tubuh Kiya terhuyung mundur kebelakang.


" Argh!" Teriak Kiya dengan sangat keras.


" Nona!!" Jaka langsung menarik tangan Kiya, agar bisa menahan tubuh Kiya agar tidak terhempas ke lantai.

__ADS_1


Hal itu menjadi sia-sia, belum sempat tangan Jaka menggapai tangan Kiya. Tubuh bumil itu sudah mendarat di lantai, hal itu membuat Jaka murka pada orang yang melakukan hal tersebut.


" Dasar wanita sialan, wanita penggoda. Sudah cukup kau merasakan semuanya dan kini saatnya kau harus segera aku singkirkan." seorang wanita menatap tajam Kiya.


__ADS_2