
Kabar gembira tentang kehamilan Kiya pun dengan sangat mudahnya menyebar, dan fatalnya berita itu sampai terdengar kepada musuh-musuhnya Azzam.
" Heh! Mereka sedang berbahagia. " Ardhan tersenyum dengan sudut bibir menaik.
" Lihat saja honey, kita juga akan berbahagia bukan?!" Senyuman Bianca menggoda Ardhan yang sedang dilanda amarah.
" Baiklah! Kita akan memberikan sedikit kejutan untuk saudaraku itu dan tentunya iparku itu juga harus mendapatkan kejutan sedikit dari kita." Ardhan meraih pinggang Bianca dan meremasnya dengan sangat kuat, membuat Bianca menjadi meringgis.
" Argh! Honey, jangan terlalu kuat meremasnya. Pinggangku ini bisa patah dengan tanganmu, apa kau merasa cemburu dengan Azzam? Tidak biasanya dirimu seperti ini." Bianca menatap wajah Ardhan dengan berbagai pertanyaan yang menyelimuti pikirannya.
Arrgh! Sial, sial. Bagaimana aku bisa cemburu dengan hanya melihat foto istrinya Azzam. Ardhan.
Remasan tangan Ardhan pada pinggang Bianca itu melemah dan bahkan ia menggeser tubuhnya untuk menjauh dari Bianca.
" Hei! Jangan bilang kalau kau juga mulai menyukai wanita itu, Ardhan!!!" Bianca tersulut emosi dengan sikap yang ia terima dari sang kekasih.
Bianca terus menyerang Ardhan dengan berbagai pertanyaan, dan juga kata-kata yang penuh penekanan. Dengan duduk bersandar pada sebuah sofa, Ardhan memejamkan matanya. Dan Bianca pun masih terus dengan serangannya, membuat kepala Ardhan semakin sakit.
__ADS_1
" Diam!!! Kau terus mengomel, Bianca!!!" Teriak Ardhan dan mencengkram leher wanita itu dengan cukup kuat, membuat Bianca menjadi susah untuk bernafas.
" Akkhh! Aarrggrhh... Le pas!! Ar dhan, le pas." Suara Bianca terdengar terbata-bata akibat dari cengkraman tangan Ardhan.
Perkataan Bianca membuat Ardhan melepaskan cengkraman tangannya dari leher wanitanya, merenungi setiap kata yang ia dengar. Ardhan memandangi wajah Bianca, wajah itu seperti ikan yang akan kehabisan nafas.
"Aaarrgghh!!!" Kedua tangan Ardhan mengacak-acak rambutnya hingga sangat berantakan, ia pun beranjak pergi meninggalkan Bianca yang masih menormalkan nafasnya akibat dari ulahnya.
Dengan nafas yang belum normal, Bianca menatap kepergian Ardhan yang terlihat sangat frustasi. Tidak seperti biasanya, Bianca menangkap sesuatu hal yang terlihat ganjil pada diri Ardhan.
Ada apa dengan dirimu, Ardhan? Jangan bilang, kalau kau juga mulai menyukai wanita Azzam!Tidak, tidak... Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan pernah aku biarkan!!!. Bianca.
Dengan mengetahui tentang kehamilannya, Kiya pun melaksanakan berbagai pemeriksaan. Di mulai dengan tekanan darah, USG dan lainnya. Dari hasil tersebut, didapatkan jika keadaan sang Ibu hamil itu baik-baik saja. Hanya terjadi perubahan hormon yang biasa dialami oleh ibu hamil, dan yang paling mengejutkan. Karena janin yang sedang dikandung oleh Kiya terdapat dua janin, bisa si bilang jika Kiya sedang mengandung bayi kembar.
Gabriel pun menambah sifat protektifnya kepada sang adik, nenek Ambar juga merasa sangat gembira dengan kabar tersebut. Menyampaikan keinginannya untuk bisa bersama Kiya, namun Gabriel dengan lantangnya memasang wajah cemberut dan merajuk. Karena, setelah Kiya menikah. Nenek Ambar ikut tinggal bersama Gabriel, permintaannya dengan alasan agar dapat merawat dan merasakan yang namanya keluarga.
" Mas, maaf ya sudah merepotkanmu." Dimana saat ini, Kiya sedang menikmati sarapannya dari rumah sakit dan tentunya Azzamlah yang menyuapinya dengan sikap posesif dan protectivenya sebagai suami.
__ADS_1
" Aaaa'... Makan dulu sayang. Tidak usah berpikiran seperti itu, sudah sepantasnya mas menjadi suami dan calon daddy yang siaga. Ya kan!!" Dengan wajah yang menggoda, Azzam memainkan kedua alis dan matanya kepada Kiya.
" Huh! Dasar tidak peka, iya iya iya! Awas saja kalau nggak siaga!" Kiya mengerutkan bibirnya sebagai tanda protes kepada Azzam.
Cup!
Mata Kiya seketika melebar dan menatap tajam kepada sang suami yang tiba-tiba mencium pipinya, tidak mau kalah. Kiya kemudian menghadiahkan sebuah tarikan pada hidung miliknya Azzam dan menariknya dengan sangat kuat. Membuat sang pemiliknya menjerit seketika dan meringis mengusap hidung miliknya yang memerah.
" Aaww! Kiya!!!" Azzam sungguh merasakan hidungnya sangat sakit, baru kali ini hidungnya mendapatkan tarikan yang sangat kuat.
" Ha ha ha!!!" Kiya semakin tidak bisa menahan tawanya, melihat hidung sang suami itu langsung memerah seperti tomat dan hidung badut.
" Ketawa lagi, sakit Yang! Tanggung jawab." Azzam meletakkan tempat makanan yang ia pegang di atas nakas, ingin rasanya ia marah. Namun bidadari dihadapannya itu selalu membuatnya tidak bisa marah, lalu Azzam langsung memeluk Kiya yang masih asik dengan tawanya.
" Emmm, hahaha! Hidung kamu lucu mas, kayak badut, hahaha." Kiya semakin tak bisa menahan tawanya, ditambah kegeliannya terhadap pelukan sang suami.
__ADS_1
Dengan malasnya Azzam menaikkan bola matanya ke arah atas, namun melihat kegembiraan yang tampak pada wajah sang istrinya. Membuat dirinya menjadi sangat bahagia, kehadiran Kiya dalam kehidupannya begitu berpengaruh besar.