BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 66


__ADS_3

" Me me ngandung?!!" Azzam membeo dan mendadak kaku.


Tubuh Azzam mendadak kaku, berjalan perlahan mendekati tempat tidur Kiya saat itu. Menggenggam tangannya dengan lembut, mengusap kepala atasnya dengan perlahan.


" Sayang, apa benar kita akan mempunyai baby? Kita akan menjadi orangtua, sayang. Benarkah?!!" Azzam berbicara sendiri, sembari mengecup punggung tangan Kiya yang tidak ada jarum infusnya, terdapat air yang mengalir dari sudut matanya.


Kenan dan dzac menunggu dengan setianya di luar ruangan, beberapa kali Daffa menghubungi mereka. Namun tidak ada satupun yang menjawab panggilan telfonnya.


Plakk!


Plakk!


" Dimana bos kalian?!!" Tangan kekar dan putih itu mendeplak kepala Kenan dan Dzac dengan cukup keras, terlihat dari nafasnya yang masih ngos-ngossan.


" Aaa..." Teriak mereka berdua bersamaan.


" Hei!!! Jawab!!!" Orang tersebut adalah Gabriel.


" Ah kau! Sakit, main deplak-deplak saja." Kenan memprotes ulah Gabriel kepadanya.


" Noh! Masuk saja! Dasar dokter sialan kau!" Dzac mengutuk Gabriel dengan tatapan yang sinis.


" Bilang dari tadi!" Gabriel langsung meninggalkan kedua manusia yang masih mengelus kepalanya.

__ADS_1


" Untung saja dia adalah anggota kita, kalau tidak. Sudah habis dia aku lenyapkan, dokter sialan!" Dzac kembali mengumpat Gabriel.


Kenan yang mendengar kalau Dzac sedang mengomel, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


......................


Bbrraakk!!!


Azzam seketika menoleh ke arah sumber kebisingan, suara pintu terbuka dengan begitu kasarnya.


Gabriel berjalan dengan sedikit berlari kecil, ia lalu beracak pinggang dihadapan Azzam. Melebarkan matanya, seakan-akan ingin menerkamnya saat itu juga.


" Kenapa adikku sampai pingsan begini, hah?! Apa yang kau lakukan padanya?" Gabriel pun dengan lantangnya berteriak kepada Azzam.


Sebuah pukulan dari tangan Azzam mendarat sempurna di bagian pipi kanan Gabriel, kedua pria itu berlanjut dengan perang tatapan tajam.


" Bisa lihat tidak matamu itu! Istriku sedang tidur, beristirahat. Suaramu itu sangat berisik, menganggu saja." Azzam mendorong bahu Gabriel dengan sangat kuat, hingga tubuh kekar itu terhuyung mundur kebelakang.


Pandangan Gabriel pun melirik ke arah Kiya, terlihat sangat jelas wajah pucat sang adik yang masih terlelap. Giliran Gabriel yang mendorong bahu Azzam untuk menggeser posisinya, duduk dan menggenggam tangan Kiya.



Plaakk!!!

__ADS_1


" Singkirkan tanganmu itu!" Dengan tatapan tajam Azzam, Gabriel segera melepaskan genggamannya.


" Tunggu, kau tidak menyiksa adikku kan? "


" Heh! Melihatnya meringgis saja, sudah membuatku murka. Kau sembarangan saja menuduh, kali ini kau harus ikut menjaga istriku dengan sangat ketat, Gab!!" Menyandarkan punggungnya pada dinding, kemudian menyilangkan kedua tanganya didepan dadanya.


" Ada apa sebenarnya Zam?" kerutan pada dahi Gabriel sangat terlihat.


" Bianca dan Ardhan kembali! Mereka menemuiku di perusahaan, aku bingung Gab. Kiya sedang mengandung anak kami, aku tidak ingin merek mengusiknya." Memejamkan mata dan menghembuskan nafas dengan sangat kasar, Azzam berusaha untuk tenang.


Gabriel langsung beranjak dari tempat duduknya, setelah mendengar nama ya g disebutkan oleh Azzam. Rahang wajahnya langsung mengeretak dan menimbulkan suara yang mengilukan, tangan itu langsung mencengkram kerah baju Azzam.


" Apa maksudmu Zam" Gabriel merasa sedikit bingung dengan perkataannya.


" Kiya sedang mengandung, itu yang dokter katakan. Yang menjadi masalahnya, Kehadiran mereka menjadi ancaman untuk Kiya, Gab. Kau tau sendiri perjalanan hidupku seperti apa. Aku tidak ingin mereka menyakiti istri dan calon anakku!" Azzam menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan begitu kasar.


Gabriel tau akan apa yang saat ini Azzam rasakan, namun ketakutannya juga sangat besar untuk keselamatan Kiya. Ia mengetahui, jika pasangan kekasih itu tidak akan segan-segan dalam mengeksekusi lawannya. Bahkan dengan tanpa rasa bersalah pun, kedua orangtua dan kakeknya juga menjadi korbannya.


" Eh, tunggu. Kiya sedang mengandung??! A a ku akan menjadi paman? Benarkah?!!" Senyum terukir disudut bibir Gabriel.


" Ya!" Azzam menjawab dengan mendudukkan tubuhnya, sembari memandangi istrinya yang masih engan membuka mata.


__ADS_1


__ADS_2