BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 43


__ADS_3

Masih merasakan nyeri dibagian bahu kirinya, Kiya tetap melaksanakan kegiatannya seperti biasa. Selesai menunaikan kewajibannya di waktu subuh, ia segera menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang nenek.


" Sudah sholat Ki?" Tanya Ambar, melihat cucunya itu berjalam menuju dapur.


" Alhamdulillah sudah nek, wah! Harum sekali baunya nek, cacing perut Kiya jadinya demon nih." Kiya memegang perutnya.


" Kamu ini, biasa juga nenek sering membuatnya. Nasi goreng kampung, kesukaan kamu. Oh ya Ki, tolong kamu seduh tehnya ya. Nenek kelupaan." Ambar menunjukkan teko air yang sudah dipersiapkan untuk membuat air teh hangat.


" Siap ndoro nyai! Hehehe." Kiya melaksanakan seperti apa yang Ambar katakan.


Ambar dibuat geleng-geleng dengan sikap Kiya, namun cucunya itu selalu membuatnya tersenyum. Setelah siap, hidangan tersebut kini sudah berada di atas meja. Kiya pun sudah siap dengan properti kerjanya, tak sengaja Ambar menepuk bahu kiri Kiya dengan tangannya.


" Aaauuww!" Ucap Kiya sedikit lirih.


" Ya ampun, ada apa Ki? " Ambar sangat kaget dengan teriakan Kiya.


" Ah, nggak apa-apa nek. Hanya kaget saja." Kiya mengusap bahunya perlahan.


" Biarkan nenek melihatnya, jangan berbohong pada nenek." Ambar merasa ada yang disembunyikan.


" Beneran kok nek, nggak apa-apa." Kiya beralih mengambil air teh hangat dan meminumnya, setelah itu Kiya merasakan perut bagian atasnya bergejolak. Tangan itu meremas perut bagian atasnya.


" Kiya! Kenapa?" Ambar semakin cemas, ketika Kiya menampakkan rasa kesakitan pada perutnya.

__ADS_1


" Sa sakit nek!" lirih Kiya yang masih meremas perut dengan tangannya.


Mencoba untuk tenang, Ambar memapah Kiya untuk berbaring ditempat tidur kamarnya. Memberikan kompresan air hangat pada perutnya, dengan tujuan agar dapat mengurangi rasa sakit yang ada. Namun, wajah Kiya menampakkan hal lain. Perasaan cemas semakin besar pada benaknya Ambar, dengan cepat ia menghubungi Gabriel. Walaupun Ambar tau, Kiya pasti tidak akan mengizinkannya. Tidak mau mengambil resiko, Ambar melakukannya.


" Assalamu'alaikum Briel, bisa kerumah sekarang nak?" Ambar dengan nada suara yang sangat cemas.


" Salam nek, memangnya ada apa?" Gabriel merasakan sesuatu yang tidak beres dengan nada suara Ambar.


" Kiya Briel, perutnya sakit. Se..." Tiba-tiba sambungan telfon tersebut terputus sepihak, hal itu membuat Ambar begong.


" Aduh anak ini, kebiasaannya. Ya ampun, Kiya?" Ambar segera kembali ke kamar Kiya dan menemaninya. Berbagai cara Ambar lakukan agar rasa sakitnya Kiya bisa mereda.


Bbrraakk!!!


" Nek, nenek!!!" Teriak Gabriel memasuki rumah Ambar, dengan membuka pintu secara kasar.


Wajah Gabriel begitu kaget, melihat Kiya yang meringkuk dengan kedua tangan memeluk dan meremas perutnya. Perlahan Gabriel mendekati Kiya, ia takut Kiya akan semakin marah padanya.


" Ki! Kiya." Panggil Gabriel sembari mencoba membalikkan tubuh Kiya yang meringkuk.


Gabriel semakin kaget, saat Kiya berbalik. Wajah pucat dan dibasahi oleh keringat, Kiya menggigit bibirnya dengan sangat kuat.


" Sa sa kit!!" suara rintihan dari Kiya semakin memilukan.

__ADS_1


" Biar kakak periksa dulu, jangan membantah dan menolak lagi. Dasar keras kepala!" Gabriel mulai menunjukkan taringnya.


Gabriel langsung melihat dan memeriksa keadaan Kiya, tak berselang lama. Dahi Gabriel berkerut, dan langsung saja dia menghubungi rumah sakit untuk mempersiapkan ruangan.


" Bagaimana nak?!!" Ambar terlihat sangat cemas.


" Kita kerumah sakit nek, asam lambung Kiya semakin parah. Hayo nek!" Gabriel langsung menggendong tubuh Kiya yang kecil dan masih meringgis kesakitan.


Ambar hanya bisa menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Gabriel, dengan mengendari mobil yang kecepatannya sangat cepat. Disaat mereka tiba dirumah sakit, terlihat beberapa tenaga medis sudah bersiap. Kiya langsung dibawa menggunakan brankar menuju ruang tindakan. Ambar berdo'a semoga cucunya tidak apa-apa.


" Semoga Kiya tidak apa-apa, Ya Tuhan. Selamatkan cucuku, jangan Engkau bebankan penyakit yang serius kepadanya." Ambar duduk dengan perasaan masih sangat cemas.


Membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit, Gabriel keluar dari ruang tindakan tersebut. Ambar segera menghampirinya, tentunya dengan perasaanya yang sangat cemas.


" Briel, bagaimana Kiya?" Tanya Ambar dengan kecemasannya.


" Huh! Asam lambungnya sudah sangat serius nek, dasar keras kepala sekali anak itu." Gabriel dengan keluh kesahnya.


" Ya Tuhan, apa bisa disembuhkan Briel? Nenek akan melakukan apapun nak, tolong sembuhkan adikmu." Air mata Ambar sudah menetes, setelah mendengar perkataan Gabriel.


" Tenang saja nek, Briel akan melakukannya semaksimal mungkin. Kiya harus Briel hukum atas sikap keras kepala ya itu, nenek jangan khawatir. Briel punya caranya sendiri, biar kapok tu anak." Gabriel sudah tidak memikirkan kebencian Kiya padanya.


Sudah saatnya, anak itu tau aku yang sebenarnya. Akan kubuat dia semakin takut, dan menurut. Baru tau rasa punya kakak seorang mafia, mafia tampan tentunya. Gabriel.

__ADS_1


Ya Tuhan, terima kasih Engkau hadirkan orang-orang yang baik untuk kami. Sungguh beruntung nasibmu Ki, walaupun mereka kejam. Tapi tidak terhadapmu, mereka kejam pada tempatnya. Ambar.


Ambar sudah mengetahui, jika Gabriel adalah seorang mafia. Hal tersebut ia dapatkan, disaat Kiya berkata sangat membenci Azzam dan Gabriel. Gabriel hadir dan menjelaskan semuanya kepadanya, awalnya rasa cemas meliputi hati Ambar, namun ia juga memahami hal itu.


__ADS_2