BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 118


__ADS_3

" Dasar wanita sialan, wanita penggoda. Sudah cukup kau merasakan semuanya dan kini saatnya kau harus segera aku singkirkan." seorang wanita menatap tajam Kiya, yang tak lain adalah Bianca.


Dengan menyewa seseorang untuk mencelakai Kiya, dari kejauhan ia melihat kejadian tersebut.


" Nona, anda tidak apa-apa?!" Wajah Jaka menjadi sangat khawatir.


" Em, tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Kiya dibantu Jaka untuk berdiri dan kemudian diarahkan olehnya untuk duduk di salah satu kursi yang ada.


" Kau wanita penipu, kau sudah merayu dan membuat suamiku tergoda. Dasar wanita ja***ang, jangan sok suci dengan penampilanmu itu. Wanita tidak tau malu, kembalikan suamiku!" Wanita tersebut terus menyerang Kiya dengan berbagai ucapan yang sangat tidak pantas untuk didengar.


Banyak sekali orang-orang yang melihat kejadian tersebut, hal itu membuat Kiya merasa malu dan shock atas apa yang menimpanya. Telingga Jaka yang merasa sangat panas mendengar perkataan wanita itu, dengan mengepalkan tangannya ia menahan amarahnya.


" Jaka, jangan!" Kiya yang melihat ekpresi wajah sang asistennya itu, segera ia menahannya.


Mendengar perkataan sang nona, Jaka pun dengan sangat berat menahan emosinya yang sudah sangat ingin meledak. Seketika para pengawal berbaju hitam berdatangan untuk mengamankan lokasi dan situasi yang ada, Jaka melihat hal tersebut merupakan para bodyguard bayangan yang ditugaskan untuk menjaga mereka.


Wanita yang telah membuat kekacauan itu pun diamankan oleh mereka, Azzam yang baru saja tiba dengan segera berlarian mendekati istrinya.

__ADS_1


" Sayang! Kamu tidak apa-apa?!" Dengan sangat panik, Azzam memeluk Kiya kedalam dekapannya.


" Aku tidak apa-apa mas." Kiya menjawab dengan menahan rasa sakit yang masih bisa ia tahan, akibat dari jatuh sebelumnya. Namun hal itu tidak ia beritahukan kepada Azzam, dengan tujuan untuk tidak membuatnya semakin panik.


" Lebih baik kita pulang!"


Tangan Kiya pun menahan tangan kekar Azzam, menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan.


" Mas."


Tanpa menjawabnya, Azzam langsung mengendong tubuh mungil istrinya untuk segera menjauh dari sana. Ia tidak ingin membuat Istrinya menjadi tidak nyaman dan mendengar perkataan dari para pengunjung yang memang tidak patut untuk didengar, Kiya pun menyembunyikan wajahnya pada dada Azzam yang bidang.


Sial!! Wanita itu lolos lagi, lihat saja. Untuk selanjutnya, rencanaku tidak akan gagal. Bianca.


......................


Mobil yang Jaka kendarai untuk membawa Azzam dan Kiya pulang, sedang melaju dengan kecepatan normal.

__ADS_1


Sssttt...


" Sayang! Ada apa?" Azzam yang mendengar suara tersebut, seketika menjadi panik.


Tangan Kiya yang berada dalam genggaman tangan kekar Azzam, terasa begitu sangat basah berkeringat dan dingin. Mata Kiya pun tertutup dengan menggigit binir bawahnya, serta wajah yang sudah dipenuhi keringat. Salah satu tangan Kiya lainnya, menahan perut bagian bawahnya.


" Mmmas, sa kit." Suara berat keluar dari mulut Kiya.


" Apa yang sakit, sayang!" Suasana seketika berubah menjadi tegang.


" Pe rutku sakit mas." Suara itu semakin berat dan terdengar sangat lirih.


Wajah Azzam berubah menjadi sangat khawatir dan cemas, melihat keadaan istrinya seperti itu. Tanpa sengaja, Azzam melihat aliran darah yang berada pada kaki sang istri.


" Jaka, kita Kerumah sakit! Cepat!!!" Azzam pun berteriak dengan sangat keras.


Jaka pun tersontak kaget mendengar lontaran ucapan yang tuannya berikan, pikirannya pun sudah dapat menjawabnya. Dengan cepat, Jaka memutar haluan mereka menuju rumah sakit.

__ADS_1


"Sayang, sayang bangun! Kiya!!"


__ADS_2