
"Sayang, sayang bangun! Kiya!!" Dengan berteriak, Azzam menepuk-nepuk pipi Kiya yang sudah tidak sadarkan diri lagi.
Jaka semakin memacu kendaraan yang ia kemudikan dengan begitu cepat, mendengar dan melihat dari kaca spion jika nonanya sudah tidak sadarkan diri. Perasaan bersalah semakin besar dalam dirinya, akibat kelalaiannya hingga terjadi seperti ini.
Ketika mereka tiba di rumah sakit, Azzam segera membopong tubuh istrinya menuju ruang tindakan. Dirinya begitu kalut melihat istrinya mengalami kejadian ini, momory Azzam kembali teringat disaat Kiya yang saat itu sedang hamil si kembar juga mengalami kejadian buruk.
" Bre***ek! " Azzam sudah tidak dapat menahan emosinya.
Melihat keadaan tuannya sudah tidak dapat diartikan, Jaka hanya bisa menahan gejolak amarahnya yang sejak kejadian awal sudah ia tahan. Jika bukan permintaan sang nona, pasti saat itu Jaka sudah melakukan pembalasan.
Lima belas menit pun berlalu, belum ada tanda-tanda jika dokter akan keluar dari ruangan tersebut. Kini Gabriel telah sampai di rumah sakit, ketika mendapat kabar Kiya mengalami pendarahan.
" Bagaimana keadaan Kiya?" Suara Gabriel membuyarkan lamunan Azzam seketika.
__ADS_1
" Kau! Aku belum tau, dokternya belum keluar dari lima belas menit yang lalu." Mengusap wajah dengan kasar menggunakan tangannya, Azzam diliputi rasa khawatir yang begitu sangat besar.
" Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Bukankah kau melarangnya untuk pergi kemana-mana tanpa kau yang menemaninya?!" Nada bicara Gabriel sudah sangat meninggi, ia begitu sangat kecewa dengan apa yanh telah terjadi.
" Kau sendiri tau, jika Kiya sedang mengandung. Kali ini, dia menginginkan sesuatu. Aku tidak bisa menolaknya, namun itu ternyata membuatnya terluka."
" Ada seseorang yang menariknya dari belakang, hingga membuat ia terjatuh." Rasa bersalah dan menyesali pada dirinya sendiri semakin besar, sungguh Azzam sangat terluka.
Dengan menganggukkam kepalanya, Azzam sudah terlebih dahulu melakukan hal tersebut untuk keselamatan keluarganya. Pintu ruangan tersebut terbuka, seorang dokter pun keluar dan menghampiri mereka.
"Dokter Gabriel, apa kabar?" sapa dokter tersebut kepada Gabriel.
" Ah kau, bagaimana keadaan adikku dan kandungannya?"
__ADS_1
" Pasien atas nama Azkiya, itu adikmu? Wah, kau tidak pernah mengenalkannya." Jawab sang dokter, namun pria yang berstatus sebagai suaminya itu sudah melotot dan memasang wajah yang siap membunuh kepadanya.
" Sudah-sudah, panjang ceritanya. Perkenalkan, ini suaminya. Cepat jelaskan keadaannya!" Tegas Gabriel kepada temannya itu.
" Oh, maaf. Keadaan pasien sekarang sudah bisa teratasi, pasien mengalami pendarahan akibat dari benturan yang ia alami. Tapi itu tidak mengganggu kandungannya, sebaiknya pasien dirawat terlebih dahulu untuk oberservasi. Dokter Gabriel, saya mau memeriksa pasien yang lainnya. Mari tuan." Dokter tersebut segera berlalu dari hadapan mereka berdua, apalagi melihat wajah Azzam yang sangat menyeramkan.
" Tidak usah memperlihatkan wajah jelekmu itu, lebih baik kita melihat Kiya dan membawanya pulang. Situasi saat ini tidak memungkinkan untuk merawatnya disini, lebih baik dalam pengawasan di rumag utama." Gabriel tau jika Azzam sudah sangat emosi.
" Kau atur saja!" Azzam segera berlalu memasuki ruangan dimana Kiya berada.
" Heh, dasar menyebalkan. Kenapa juga adikku bisa menyukainya! Apa kau lihat-lihat, hah!!! Tuanmu itu bre****ek." Umpatan itu keluar dari mulut Gabriel dan menatap Jaka yang saat itu berada disana, kemudia ia pun berlalu.
Kaupun sama tuan, Gabriel. Anda sama saja dengan tuan Azzam, sama-sama menyebalkan. Hahaha. Jaka.
__ADS_1