BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 111


__ADS_3

Setelah menunggu untuk beberapa saat, seorang dokter keluar dari ruang tindakan. Azzam segera menghampirinya dengan perasaan yang begitu sangat khawatir.


" Dok, bagaimana keadaa istri saya?" Dengan tegas, Azzam langsung menanyakan kondisi sang istri.


" Tuan Azzam?! Charles, Charles Demico." Dokter tersebut menyebutkan namanya dengan sangat jelas, seakan-akan ia sedang menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya kepada Azzam.


" Demico?... Ah, ternyata itu kau." Azzam sejenak memejamkan matanya utnuk mengingat-ingat sesuatu.


" Akhirnya, kau ingat juga. Dia istrimu? Ah kau selalu saja menang dari kami." Charles bergumam dengan santai, hal itu membuat Jaka dan bik Ipah menjadi heran.


" Kau sama gilanya dengan manusia satu itu, iya. Dia istriku, wanita yang sudah menakhlukkan diriku. Bagaimana keadaannya?"


" Hahaha, tenang saja. Istrimu baik-baik saja, hanya tekanan darahnya saja yang sangat rendah. Sepertinya, kau terlalu sering mengajaknya berolahraga. Membuatnya kelelahan dan menghasilakn sesuatu." Charles dengan nada yang begitu renyah, rasanumya ingin sekali ia tertawa.


" Maksudmu?" Azzam mengkerutkan keningnya, hingga terlihat jelas lipatan itu berada.


" Dasar kau! Apa lagi yang dihasilkan dari olahraga kau itu, hah! Jangan bilang kau tidak tau jika istrimu sedang hamil?!" Dengan melebarkan bola matanya, Charles menatap Azzam dengan sangat tajam.

__ADS_1


" A a pa kau bilang, hamil?! Istriku hamil?" Azzam sangat kaget dengan pernyataan Charles yang diucapkan padanya.


" Jiah! Kaget dianya, ya ialah hamil. Emangnya apa yang dihasilkan kalau bukan hal itu, kau ternyata masih gilanya." Charles memutar wajahnya dengan malas, melihat ekpresi wajah yang Azzam perlihatkan padanya.


Tak terasa, terlihat jelas di sudut matanya. Air mata kebahagian itu kembali menyapa dirinya, Azzam tersenyum mendengar kabar bahagia tersebut. Ipah dan Jaka pun ikut larut dalam kegembiraan tuannya, mereka juga merasakan kebahagian dengan kehamilan nona mereka.


......................


Di saat jam pelajaran telah usai, Ansel hanya duduk dibawah pohon yang berada di taman sekolahnya. Menikmati tiupan angin yang menerpa, sembari menatap teman-temannya yang sedang asik bermain. Menunggu jemputan yang akan membawa mereka untuk pulang, Arick hanya bisa menemani abangnya dengan berdiam diri.


" Eh ada Cicit, main yuk!" Ajak Arick.


" E, nama aku itu Citra. Bukan Cicit Arick, emangnya aku tikus apa dipanggil cicit." Citra bersedekap dan menunjukkan wajah kesalnya.


" Cicit ajalah, biar gampang panggilnya. Lagian, pulanglah sana. Buat pusing saja dengan omelan kamu, tuh. Abang aku mukanya jadi bete!" Arick menarik bibirnya, membuat dirinya terlihat sangat lucu.


" Arick! Kamu ini ngeselin banget, Ansel. Lihat Arick, dia sungguh menyebalkan!" Citra mengadu kepada Ansel perihal sikao Arick padanya.

__ADS_1


" Kalian itu sama-sama mengesalkan, jadi diamlah. Berisik sekali!!" Ansel menjawab perkataan Citra dengan nada yang sangat ketus.


Hal itu membuat Citra menatapnya tajam dan menggerutu atas sikap Ansel, lalu ia segera berlalu dari kedua laki-laki kembar tersebut disaat orang yang menjemputnya telah tiba. Tiba-tiba ada seorang wanita menghampiri mereka.


" Hallo anak-anak tampan." Sapa wanita tersebut.


" Assalamu'alaikum tante, bukan hallo. " Arick menjawab perkataan wanita tersebut dengan lirikan tajamnya.


" Oh baiklah, Assalamu'alaikum." Wanita itu mengulangi perkataannya.


" Wa'alaikumussalam." Jawab Kedua saudara kembar tersebut.


" Boleh ikut duduk?" Tanya wanita itu.


" Boleh tante, kami juga sudah mau pergi. Bye!" Arick dan Ansel beranjak dari duduknya, mereka melihat Jaka sudah tiba untuk menjemput mereka.


Akh, Sial! Anak sama orangtuanya sama saja, sangat menyebalkan. Tapi aku tidak akan gagal untuk berikutnya. Marsya.

__ADS_1


__ADS_2