
Suasana di salah satu mansion, terlihat seorang pria yang sedang menatap semua gambar-gambar foto yang terpajang di dalam ruangan tersebut.
" Kiya." Ucapnya dengan memegang salah satu foto ditangannya.
Ferdinand menatap dengan sangat erat pada foto yang ia pegang saat itu, perasaannya yang begitu dalam kepada wanita tersebut. Hingga ia merasa tertantang untuk mendapatkannya, apalagi terdapat dendam yang dahulunya ingin ia balaskan kepada pria yang saat ini sudah menjadi pasangan dari wanita itu.
" Kenapa harus dia yang kau pilih, Kiya!Dia sangat tidak pantas untukmu, hanya aku. Hanya aku yang pantas, aaakkhh!!!" Ferdinand mengacak-acak rambutnya dan menghempaskan beberapa barang di dekatnya.
Prraang!!
Prraang!!
......................
Waktu berjalan dengan sangat cepat, kini usia kandungan Kiya memasuki bulan ke enam. Azzam pun mulai meningkatkan sikap protektifnya, hampir seluruh penghuni rumah tersebut bersikap tidak jauh berbeda dengan bos mereka. Terlihat saat ini, seluruh penghuni rumah mewah milik Azzam sedang menikmati jamuan di sore hari di taman belakan. Hal ini selalu mereka lakukan di saat akhir pekan tiba, dan tidak memiliki pekerjaan yang lainnya.
Kiya yang sedang berjalan dengan sangat pelan menuju kesana, dengan di papah oleh sang suami yang nggak berhenti-hentinya mengomel.
" Yang, mas gendong saja ya. Kamu sudah susah berjalan. Mas takut nanti jatuh!" Azzam merasa tidak tega, melihat istri mungilnya itu mengalami kesulitan disaat berjalan dengan kondisi hamil kembar dan perut yang sudah tidak kecil lagi.
" Tidak mas, malahan harus dilatih. Kalau dibawa manjaan terus, nanti malah jadinya kaku mas. " Bela Kiya .
" Tapi Yang!"
Cup!
__ADS_1
" Berhenti ngomelnya ya." Kiya menang untuk kesekian kalinya lalu tersenyum.
" Ah! Kau selalu bisa membuat mas seperti ini, baiklah. Tuan puteri menang lagi." Azzam dan Kiya pun melanjutkan untuk ikut bergabung bersama yang lainnya.
" Nona! Ah, aku merindukanmu nona." Akibat dengan perkataan yang Dzac ucapkan, sontak membuat semua mata orang yang saat itu berada disana melebar.
Melihat tatapan tajam dari semua orang, Dzac melirik ke arah bosnya.
" Mampus kau !!!" Umpat Daffa dan lainnya, setelah mendapat tatapan tersebut.
Ya Tuhan! Tolonglah aku, buatlah aku menghilang dari sini, nona aku mohon! Dzac.
" Dzacky !!!" suara Azzam sudah menggelegar.
" Astaghfirullah! Mas!!" Kiya meremas tangan Azzam dengan sangat kuat.
" Yang!! " Azzam berusaha untuk menolak pembelaan istrinya itu terhadap Dzac.
Tangan mungil itu semakin kuat meremas tangan suaminya yang kekar, wajah Azzam seketika menjadi panik. Melihat istrinya itu meringgis, seperti sedang menahan rasa sakit.
" Ma mas, pe rutku sa kit." Tangan Kiya langsung menahan perut bagian bawahnya, keringat mulai membasahi wajah dan tubuhnya.
" Sayang! Kenapa? a apa yang sakit?" Wajah khawatir dan cemas itu terlihat sangat jelas di wajah Azzam.
__ADS_1
Melihat nona dan bos mereka berhenti dan nampak Kiya yang sedang meringgis. Mereka semua berhamburan menghampirinya, betapa kagetnya mereka melihat Kiya meringgis kesakitan.
" Se pertinya perutku keram mas. Argh!" Tubuh Kiya semakin meringkuk ke dalan pelukan suaminya.
" Tu tuan, i i itu. Darah!" Dzac melihat ke arah bawah, terlihat cairan merah itu mengalir pada punggung kaki sang nona.
Saat melihat ke arah yang Dzac bicarakan, Azzam langsung saja mengendong tubuh mungil istrinya masuk ke dalam rumah dan membaringkannya pada kursi sofa di ruang keluarga. Ipah membawa handuk kecil dan baskom kecil berisi air, dengan perlahan ia membersihkan noda darah yang berada di kaki nonanya. Semua laki-laki, Daffa mengusirnya untuk keluar. Terutama untuk Dzac, bos mereka itu tidak akan membiarkan satu pria pun melihat bagian tubuh istrinya.
Azzam masih mendampingi Kiya, setelah menghubungi dokter kandungan pribadi yang menangani Kiya dari awal kehamilan, dokter Fatimah. Namun kecemasan Azzam semakin bertambah, merasakan genggaman tangan istrinya itu melonggar. Nafas Kiya pun melemah.
" Sayang! Sayang kenapa?!" Azzam terus memanggil dan menepuk pipi sang istri, namun tidak ada respon dari tubuh mungil itu.
" Bik, istriku kenapa bik? Sayang, sayang bangun!!!" Perlahan mata Kiya meredup, Azzam menyambar ponselnya dan menelfon dokter Fatimah yang saat itu masih dalam perjalanan.
" Hallo dok, istriku tidak sadar dok!! A ap yang harus aku lakukan?!!" Jantung Azzam serasa ingin lepas, melihat keadaan istrinya saat itu.
" Tuan, tolong coba terus untuk membuat nona membuka matanya. Anda saat ini, segera membawa nona kerumah sakit. Segera!!" Jawab Fatimah dengan tegas, ia tidak ingin mengambil resiko yang akan terjadi.
Tanpa menunggu lama, Azzam segera mengendong Kiya dan berjalan menuju pintu utama.
" Daffa! Kerumah sakit!!" teriakan Azzam mengagetkan mereka semua yang berada di luar, Daffa pun segera berlari menuju mobil yang akan di gunakan dan setelah bosnya masuk. Ia langsung dengan cepatnya, menjalankan mobil tersebut menuju rumah sakit.
Ipah ikut merasakan kekhawatiran tuannya saat ini, Ia begitu sangat menyanyangi nonanya.
Ya Tuhan, tolong selamatkan nona Kiya! Ipah.
__ADS_1
Setelah kepergian Azzam, Dzac dan lainnya kembali bersiaga. Tanpa disengaja, ia melihat pergerakkan dari sudut jam delapan. Lalu ia memberi kode kepada Kenan atas penglihatannya, Kenan pun dapay menangkap gerakan dari mereka yang sedang mengintai. Dengan menggunakan aba-aba kepada para pengawal yang lainnya, mereka langsung menyerang para pengintai tersebut. Baku hantam pun tak dapat terelakkan, bahkan suara tembakan pun terdengar.
" Sudah bosan hidup kalian rupanya!"