
Keadaan rumah telah Azzam buat senyaman mungkin, agar istrinya merasa lebih baik. Kepulangan dirinya dari rumah sakit, membuat Kiya penasaran.
" Mas, sebenarnya apa yang terjadi?"
" Lebih baik, kamu beristirahat saja sayang."
" Mas."
" Hem, baiklah. Bianca menemui Jaka dan Ansel, saat mereka sedang membeli makanan."
Duk!
Punggung Kiya menabrak meja riasnya, dikala ia mendengar nama yang dahulunya menjadi sumber kekacauan besar yang terjadi.
"Sayang! Duduklah." Melihat reaksi yang Kiya berikan, Azzam segera membawanya untuk duduk di tempat tidur.
" Ma mas, anak-anak." Suara Kiya menjadi bergetar.
" Tidak akan terjadi apa-apa, sayang. Percayalah, mas akan melindungi kalian. Lebih baik kamu beristirahat dulu, kasihan baby akan kelelahan jika mommynya seperti ini." Tubuh mungil itu masuk ke dalam dekapan dada yang kekar milik Azzam.
__ADS_1
Menemani sang istri beristirahat sejenak, agar Kiya menjadi tenang. Lalu Azzam beranjak dari sisi Kiya, lalu ia menuju ruang kerjanya. Menatap pada layar pipih itu dengan menggenggamnya begitu kuat, informasi yang diberikan Dzac dan Kenan membuatnya harus bekerja lebih ekstra, untuk menghadapi lawannya kali ini.
Tangan itu mulai beraksi di atas keyboard berwarna hitam, satu persatu file mulai ia lihat dengan seksama. Terjadi lagi kekacauan pada beberapa perusahaannya, berbagai peretasan terjadi dan juga virus yang sangat sukar untuk dijinakkan telah menyerang data penting perusahaan. Kepala Azzam semakin pusing akan hal ini, Dzac pun sudah berusaha dengan sangat keras untuk menyelamatkan data tersebut, namun masih belum bisa ditakhlukkan.
Dengan menggerakkan kepalanya, Azzam lalu ia memperlihatkan kepiawaiannya dalam dunia peretasan. Berkutat kurang lebih selama dua puluh menit bersama komputer pribadinya, terjadi aksi saling serang.
" Bagaimana bisa mereka mempunyai kekuatan sebesar ini? Ta tapi, ini!" Ada sebuah perangkat yang sangat asing sedang membantu akses perangkat milik Azzam untuk menyerang virus tersebut, hal ini membuat Azzam terperanggah.
Dalam waktu sepuluh menit, virus tersebut berhasil ditakhlukkan oleh perangkat asing tersebut. Disaat Azzam akan mengakses siapa pemiliknya, dalam hitungan detik. Perangkat tersebut menghilang tanpa jejak!
" A apa! Apa ini?" Hal tersebut sangat membuat Azzam takjub dan merasa terkecohkan.
Ddrrttt...
" Tuan, perangkat asing itu tidak bisa di akses! Apakah ini jebakan?" Suara Dzac bergema dari speaker ponsel Azzam.
" Tetap kau lacak akses mereka, jangan lengah." Pembicaraan itu terhenti, Azzam menutup pembicaraannya dengan Dzac.
Sang ahli peretas sedang berfikir kerasa dengan kejadian ini, Dzac pun dibuat kalang kabut oleh perangkat tersebut. Azzam kembali melacak titik perangakat asing tersebut, dan hasilnya begitu membingungkan.
__ADS_1
......................
Plak!!!
Plak!!!
" Bang! Lebih baik aku tidur sajalah, nungguin abang nggak kelar-kelar." Arick menggerutu akibat dari menemani abangnya yang sangat fokus dihadapan komputer.
" Aku tidak memintamu menemani!" Jawab Ansel dengan ketus.
" Huh! Dasar duplicate daddy, udah ah." Arick menghempaskan tubuhnya untuk segera terbang ke alam mimpi.
Kedua putera kembar dari Azzam dan Kiya mempunyai berbagai fasilitas yang tergolong mewah, mainan maupun perangkat untuk belajar. Tanpa mereka ketahui dan sadari, jika salah satu puteranya mempunyai bakat yang sangat luar biasa.
Dad, maafkan kami. Jika kami telah berbohong dalam hal ini, abang hanya bisa membantu dengan cara seperti ini. Ansel.
Saat akan bermain dengan komputernya, Ansel tidak sengaja melihat penyerangan oleh seorang hecker yang pernah ia kalahkan dahulu sedang menyerang perangkat milik perusahaan daddynya. Dengan lincahnya, jemari-jemari yang masih halus itu dengan begitu lincahnya beraksi. Hecker itu semakin kewalahan tidak bisa mengimbangi perlawanan yang ia berikan, apalagi kemahiran sang daddy dan juga Dzac yang juga berusaha keras untuk menyelamatkan perangkat mereka.
" Yeah, good job!" Teriak Ansel saat berhasil mengalahkan hacker tersebut, lalu ia segera menghapus jejaknya agar tidak ada yang bisa mengakses dirinya.
__ADS_1
" Sedang apa boy."
Suara tersebut membuat Ansel menjadi kaget, ternyata sang daddy sudah berada didalam kamarnya. Tapatnya, Azzam berdiri tepat dibelakang punggung Ansel.