BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 88


__ADS_3

Azzam memasuki ruangannya, Ghina sudah menyiapkan berkas-berkas yang diminta oleh bosnya.


Tok


Tok


Tok


" Masuk" Azzam mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.



Daffa memasuki ruang kerja bosnya, setelah kejadian waktu ia tertembak. Ia segera melaksanakan tugasnya kembali untuk bekerja, tanpa memikirkan kesehatannya.


" Tuan." Sapa Daffa ssaat berada dihadapan Azzam.


" Apa yang terjadi? Kemana Dzac ?" Tanya Azzam dengan mata terpejam dan memainkan setangkai bunga mawar putih ditangannya.



" Huh, perusahaan kita diserang oleh hecker yang cukup lumayan kiprahnya tuan. Sepertinya orang tersebut sudah sangat terlatih, bahkan kunci akses kita sudah ia buka." Daffa menjelaskan tentang kericuhan yang terjadi diperusahaan.


" Saat ini, Dzac sedang memperbaiki seluruh akses yang ada. Sepertinya, ini adalah ulahnya saudara tuan, Ardhan." Dengan sangat tegas, Daffa menyampaikan berita tersebut.

__ADS_1


" Darimana kau sangat yakin jika ini adalah ulahnya?" Azzam smerasa semakin tertantang dengan sebuah nama, yang telah Daffa sebutkan. Dan untuk setiap prediksi suatu kejadian, Daffa sangat teliti dan jeli akan masalah itu. Apa yang ia katakan, jarang sekali meleset.


" Setiap pergerakan yang dia lakukan, sepertinya adalah pemain lama tuan. Mereka tidak sadar, akan hal itu. Jejak mereka banyak sekali, dan semuanya itu mengarah pada saudara tuan." Dengan mengepalkan tangan, Daffa berusaha untuk menstabilkan emosinya. Ia akan selalu merasa emosi, jika selalu berhadapan dengan manusia setan dan iblis itu.


" Kau selalu bisa aku andalkan Fa, jaga istri dan baby- babyku. "


" Hah, apa tuan!" Daffa sangat kaget mendengar perkataan Azzam, seakan-akan ia merasakan kejanggalan dengan perataan bosnya saat itu.


" Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin istri dan anak-anakku aman dari hal ini. Apalagi manusia itu sudah menyatakan secara nyata ingin merebut mereka dariku, ah. Kenapa aku selalu sial, mempunyai saudara gila seperti dia." Dengan memijit keningnya, Azzam merasa akan ada sesuatu yang besar terjadi.


Daffa pun menjadi bingung dengan situasi seperti ini, ia juga dapat menangkap sinyal dari tubuh bosnya. Bagaimana pun, ia memang selalu peka dengan apa yang terjadi disekitarnya.


" Tuan." Daffa melihat keganjilan dari sikap Azzam.


" Baik tuan." Daffa berjalan meninggalkan ruangan bosnya dan kembali menuju ruangannya, dimana disana ada Rayyan yang sedang membantunya.


Dengan wajah yang sangat khawatir, Daffa menghempaskan tubuhnya untuk bersandar pada kursi kerjanya.Dan hal itu membuat Rayyan yang sedang fokus dengan kerjaannya menjadi kaget, lalu ia menghentikan pekerjaannya.


" Kau kenapa Fa? Seperti orang yang sedang sangat khawatir, jatuh cinta lu?" Rayyan menghampiri dan duduk dihadapan Daffa.


" Bacot lu. Aku heran dengan sikap bos hari ini, sepertinya ada yang aneh. " Mata yang menatap ke depan, dan jari tangan yang ia letakkan pada wajahnya. Daffa memperlihatkan rasa kekhawatiran.


Kening Rayyan berkerut seletah mendnegar apa yang Daffa katakan, Rayyan juga sangat pintar dalam membaca ekpresi wajah.

__ADS_1


" Apa yang kau dapatkan?" Rayyan menjadi serius, setelah nama bosnya disebutkan oleh Daffa.


" Ah, aku tidak tau apa itu. Yang sangat jelas terlihat, Bos bersikap seperti sangat jauh dari biasanya. Meminta untuk menjaga nona dan anak-anaknya, huh! Semoga saja firasatku ini salah." Daffa sangat gusar dengan hal tersebut, apalagi keadaan perusahaan sedang tidak baik. Walaupun hal ini bisa ia dan Rayyan kendalikan, tapi untul bosnya. Ia sangat mengkhawatirkannya.


" Ikuti rencanaku." Rayyan membisikkan sesuatu di telingga Daffa, matanya langsung melebar dan ia menatap Rayyan dengan sangat tajam.


" Manusia gila, oke. Aku akan mengikuti saranmu, dan cepatlah selesaikan kekcauan ini. Aku sangat tidak tenang."


Tak!!!


" Yiaa! Kenapa kepalaku kau sentil? Dasar tidak tau terima kasih, sakit bodoh." Rayyan mengelus kepalanya yang terkena sentilan dari jemari tangan Daffa.


" Daripada kau menjahili dan mengangguku, lebih baik hubungi Kenan dan Dzac untuk hal ini. Keselamatan mereka lebih utama dari nyawa kita, cepatlah dan tidak usah melamun. Dasar manusia batu kau ini." Rayya mengerti akan kekhawatiran Daffa terhadap bosnya, apalagi menyangkut keselamatan nona mereka.


" Dasar pria bermulut wanita kau ini, cerewet sekali. " Daffa segera menghubungi Kenan dan Dzac untuk rencana mereka, walaupun terjadi perdebatan kecil dengan manusia menyanggah, Dzac. Ia selalu bergurau dengn Daffa, dan itu membuatnya sangat kesal.


" Sekali lagi kau bercanda, akan aku panggang kau hidup-hidup, Dzac!!" Dengan nada setanggah berteriak, Daffa memutuskan sambungan telfonnya.


" Hei, kenapa kau malah berteriak." Rayyan memprotes.


" Aish! Kenapa aku selalu menjadi emosi dengan 'duck' satu itu, sudah. Kejakan saja tugasmu, membuatku kesal saja."


Rayyan mengetahui alasan yang membuat Daffa menjadi kesal, walaupun ia belum lama bergabung dengan mereka.

__ADS_1


__ADS_2