BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 124


__ADS_3

Hendra dengan penuh gejolak balas dendam yang cukup besar kepada Azzam, kini ia menelusuri ruangan yang cukup besar.


" Hallo tuan Azzam yang terhormat, sudah lama kita tidak bertemu." Hendra menemukan sosok pria yang berdiri tegap dihadapannya.


Dengan sikap yang seperti biasanya, Azzam hanya berdiri pada posisinya dan menatap Hendra dengan tatapan yang sangat membunuh. Namun ia masih menunggu maksud dari kedatangan tamu tak di undangnya itu, tidak ingin kegagabah. Mengingat perkataan sang putera, bahwa terdapat peledak diberbagai sudut di rumah utama tersebut.


" Kau terlihat semakin sukses rupanya, sungguh kabar yang mengggembirakan." Berjalan mendekati Azzam, Hendra dengan sangat percaya dirinya berjalan. Melihat lawannya itu hanya berdiam diri dan menatapanya dari kejauhan.


" Ada baik, kita saling menyapa. Dan aku ingin menyapa istrimu yang sangat cantik itu, tentu boleh bukan!" Mengetahui jika kelemahan dari rivalnya itu adalah sang istri, Hendra dengan tenang mulai memancing amarah dari seorang leader yang terkenal akan kekejamannya.


Menahan gejolak amarah yang sangat besar, Azzam sudah sangat ingin mengeluarkan kemampuannya. Tapi ia berusaha untuk tetap tenang, memikirkan keselamatan keluarga kecilnya dan orang-orang yang berada dalam pimpinannya.


" Kenapa? Apa seorang leader yang sangat kejam ini, sudah berubah menjadi seorang suami yang takut istri?! Hahaha!" Hendra semakin puas dengan seringainya.


......................


Kedua wanita yang sama, mempunyai obsesi dan tujuan gila. Ingin memiliki pria yang sudah menjadi suami orang lain, bahkan sudah mempunyai anak.


" Coba kau buka pintu itu!" Bisik Bianca kepada Marsya.

__ADS_1


Marsya yang saat itu sudah berhadapan, tepat didepan pintu yang Bianca maksud. Perlahan ia menarik handle pintu, melihat sedikit dari celah yang ada. Merasa tidak ada apa-apanya, Marsya langsung membuka pintunya dengan lebar, melangkahkan kakinya memasuki ruanga tersebut dan di ikuti oleh Bianca dari arah belakang.


" Sepertinya, perempuan itu sudah mereka sembunyikan." Ternyata yang mereka buka itu adalah kamar utama yang biasa ditempati Azzam dan Kiya, Marsya mengetahui hal itu dari informasi yang Hendra berikan.


" Ah! Ternyata kamarnya begitu nyaman. Beruntung sekali wanita sialan itu, seharuanya akulah yang semestinya menempati dan menikmati semuanya ini." Bianca mendaratkan tubuhnya untuk berbaring sejenak diatas tempat tidur yang super mewah tersebut.


" Jangan bermimpi ketinggian, heh!" Marsya mendengus kesal kepada Bianca.


Mereka pun saling menatap dengan tatapan yang tajam, melupakan sejenak tujuan semula. Tapi mereka tidak menyadari, jika tempat itu sudah dikepung oleh pasukan yang Daffa bawahi. Hanya dengan kedipan mata, semuanya bergerak mengepung kedua wanita yang sama-sama sedang bersitegang satu sama lainnya.


" Diam ditempat! Jika nyawa kalian ingin selamat!" Daffa menampakkan dirinya dengan mengarahkan anak buahnya untuk segera menangkap kedua wanita tersebut.


" Kau!! Lepaskan aku! Dasar kacung tidak berguna." Amarah Bianca meledak saat mengetahui Daffa yang menangkap dirinya.


" Kacung?!! Tidak buruk, hanya saja mulutmu yang tidak pantas untuk mengucapkannya!" Erang Daffa dihadapan Bianca selama ini, ia hanya bisa menahan diri untuk tidak membalas apa yang Bianca perbuat.


Tanpa pikir panjang, Daffa meluapkan emosi yang selama ini ia pendam terhadap iblis betina itu. Tangan kekarnya mencengkram rahang Bianca dengan begitu kuatnya, hingga membuatnya meringgis kesakitan.


" le paskan! Cuh! Kau berani menyiksa perempuan! Ba**i!!!" Bianca menyemprotkan air dari mulutnya dimuka Daffa.

__ADS_1


Begitu terhinanya Daffa mendapatkan perlakuan seperti itu dari wanita iblis yang berada dihadapannya, tangan itu kembali mengepal dengan begitu kuat.


" Tuan, biar kami yang akn membereskannya." Ucap salah satu bawahan yang berada disana.


" Kali ini, biar kubuktikan ucapan wanita iblis ini. Jika aku berani menyiksanya!!!"


Tangan kekar itu mulai mengayun dengan cepat dan mendarat tepat di pipi Bianca, lalu hal itu berulang lagi hingga beberapa kali. Daffa membuktikan ucapan Bianca terhadap dirinya, dan tanpa segan. ia merebut sebuah senjata yang berasal dari anak buahnya, senjata itu langsung mendarat pada dada kiri Bianca.


" Argh!! Emm arrg!!" Sebuah pisau sudah tertancam.


" Bagaimana! Apa kau sudah melihat buktinya, wanita sialan!!!" tangan Daffa semakin menekan pisau tersebut dan sedikit memutarnya hinha terdengar suara .


Krek


Krek


" Selamat jalan wanita iblis!!!"


Kemudain Daffa berjalan meninggalkan Bianca yang sudah tak berdaya dan akhirnya tewas, Marsya yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa menahan getaran tubuhnya yang semakin kuat karena takut. Mereka pun meninggalkan Bianca dan membawa Marsya dari ruagan tersebut, masih banyak persoalan yang harus mereka bereskan. Namun tanpa disengaja, salah satu bawahan itu menyentuh peledak yang tersembunyi. Hingga terjadi ledakan yang cukup besar dalam ruangan tersebut, hal itu membuat Daffa dan lainnya semakin berhati-hati untuk bertindak.

__ADS_1


__ADS_2