
Gabriel pun kembali mendekati Kiya, ia lupa akan kejadian sebelumnya.
" Uueekk. Kak Gabriel!!" Teriak Kiya.
" Yiakh!! Aku lupa, aku lupa. Aish, karma berlaku ini." Gabriel langsung menjauh dari Kiya, dan secara tidak langsung. Gabriel memberitahu Kiya tentang sesuatu.
" Karma?? Maksud kakak?" Kiya menelaah perkataan Gabriel.
Ya Tuhan! Kenapa menjadi seperti ini, Sial! Gabriel.
Seketika Azzam langsung menghampiri istrinya, berharap agar Kiya tidak memberikan pertayaan lagi kepada Gabriel. Namun apa mau dikata, Kiya sudah menatap Gabriel dengan tajam.
" Huh, baiklah. Zam, aku ingin bicara berdua dengan Kiya."
Azzam memahami situasi saat itu, lalu ia membawa Arick untuk keluar dari ruang perawatan. Kini, hanya tinggal mereka berdua. Dengan perasaan yang sangat tidak enak, Gabriel mencoba berdamai dengan keadaan.
" Baiklah! Kakak tidak akan menyembunyikannya lagi, nenek sudah tiada. Disaat kamu diculik dan melahirkan si kembar, nenek terkena serangan jantung dan tak terselamatkan."
Tidak ada respon yang Kiya berikan, ia hanya duduk dalam diam dan tatapan matanya seakan kosong melihat ke arah depan.
__ADS_1
" Maaf kakak, sudah menyembunyikan hal ini."
Air mata itu menetes dari mata Kiya, rasa sesak di dada mengetahui orang yang ia sangat cintai telah tiada.
" Setiap yang bernyawa, akan menghadapi yang namanya kematian. Hanya waktu saja yanh tidak ada yanb mengetahuinya, siap tidak siap kita harus menerimanya." Masih dalam pandangan yang kosong, Kiya berusaha menahan rasa kecewanya.
" Maafkan kakak."
" Jangan menyalahkan diri sendiri kak, seharusnya aku yang harus berterima kasih dan meminta maaf pada kakak. Semua yang kakak berikan dan pengorbanan terhadapan kami, itu sudah lebih dari cukup." Kiya memberikan senyuman manisnya kepada Gabriel, hal itu mengartikan jika dirinya sudah bisa menerima apa yang terjadi.
" Terima kasih, kakak tidak pernah salah untuk mengakuimu sebagai adik dan keluarga. Hanya kamu yang saat ini kakak punya, jangan pernah pergi lagi terkecuali itu maut yang datang. Berjanjilah!" Kini, Gabriel sudah tidak bisa menahan air mata yang mengalir dengan sendirinya. Tidak ingin kehilangan lagi, yang akan membuatnya semakin terpuruk.
" Hei, kau bilang kakak pengecut? Hello... Dasar bumil, tidak mau kalah." Gabriel mengerucutkan bibirnya, mau melawan bumil saat ini akan percuma saja. Bisa-bisa nanti dia yang malah mendapatkan serangan tak terduga, lebih baik mengalah.
Brak!
" Mom, mommy!" Suara Ansel dan Arick seperti berteriak memasuki kamar perawatan.
Kiya dan Gabriel menjadi terkejut akan hal tersebut, kedua putera kembarnya segera berhamburan ke dalam pelukan mommynya dan disusul dengan kedatangan Azzam beserta Jaka.
__ADS_1
" Ada apa?" Gabriel mendekati Azzam dengan perasaan yang bertanya-tanya.
" Bianca!" Jawab Azzam dengan singkat dan wajah yang begitu dingin.
" Hah!!" Nama itu membuat Gabriel menjadi orang yang begitu histeris.
Tangan Gabriel menarik lengan Azzam dengan cepat, untuk memberikan jarak pada Kiya agar mereka bisa bicara.
" Apa yang terjadi? Kenapa kau menyenut nama wanita iblis itu lagi." perkataan gabriel dengan penuh penekanan kepada Azzam.
" Jaka dan Ansel yang dia temui, sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu." Tangan Azzam bersedekap di dadanya.
" Pulangkan Kiya, biarkan dia mendapatkan perawatan disana. Situasi sudah tidak memungkin, wanita itu sudah menampakkan wujudnya. Aku tidak ingin terjadi apa-apa lagi, bergeraklah." Dengan menepuk pundak Azzam, Gabriel berpamitan kepada Kiya dan kedua keponakannya.
Dengan rasa was-was, Azzam tidak ingin keselamatan istri dan anak-anaknya terancam lagi. Cukup baginya, Kiya terluka karena penculikan yang lalu.
" Tidak akan ku biarkan kau bisa bernafas lagi."
Dengan sara yang Gabriel berikan, Azzam pun segera mengurus kepulangan Kiya. Hal itu membuat Kiya berserta kedua puteranya menjadi heran.
__ADS_1