BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 74


__ADS_3

Selama tiga hari lamanya, Kiya mendapatkan perawatan intensif dari rumah sakit. Dan hari ini, ia pun sudah di perbolehkan untuk pulang.


" Baiklah nona, hari ini sudah boleh pulang ya. Jangan terlalu capek dan stres, kita jaga dedeknya agar sampai pada waktunya untuk dilahirkan." Penjelasan Fatimah, disaat visit terakhir.


" Iya dok, terima kasih atas bantuannya selama disini. " Ucap Kiya kepada dokter yang dengan telatennya merawat dan menggarahkannya untuk segera pulih.


Dari dokter datang, dan memeriksa Kiya. Bahkan sampai selesai pemeriksaan pun, Azzam masih dalam mode diamnya, tidak ada suara yang ia keluarkan.


" Mas, kenapa? Kok wajahnya seperti itu?" Kening Kiya sedikit berkerut, melihat wajah sang suami tampak muram dan tidak semangat.


Tidak ada jawaban dari dari suaminya, hal itu membuat Kiya menjadi menghampirinya. Tangan mungil miliknya, menggenggam tangan kekar itu, tubuhnya pun menjadi berjongkok menyamakan posisi suaminya yang sedang duduk di sofa.


" Ah! Sayang!" Azzam tersadar dari lamunannya yang panjang, di saat tangan mungil itu menyentuhnya. Langsung saja, Azzam berdiri dan mengambil tubuh Kiya yang sudan berjongkok dan membawanya untuk duduk di sofa.


" Kanapa duduk seperti itu? Nanti kaki kamu keram dan baby menjadi terhimpit, Sayang." Azzam mengelus perut Kiya.


" Sepertinya, mas lagi banyak pikiran ya? Dari tadi kok diam saja." Tanya Kiya yang mengapitkan kedua telapak tangannya pada pipi Azzam.


Kedua mata mereka saling bertatapan satu sama lain, Kiya pun melengkungkan bibirnya sambil memainkan kelopak matanya.


Dddrrttt..

__ADS_1


Ponsel Azzam bergetar, Kiya pun melepaskan tangannya dari wajah Azzam. Saat sedang menerima panggilan telfon tersebut, mendadak raut muka Azzam berubah menjadi sangat tegang. Dengan cepat ia memutuskan percakapan itu, namun hatinya bimbang akan keputusan yang akan ia ambil.


" Mas." Panggil Kiya untuk kesekian.


Dengan perlahan, Azzam meraih tubuh mungil itu untuk masuk ke dalam pelukannya. Mengecup puncak kepala sang istri dengan begitu lembut, seakan-akan tidak mau melepaskannya.


" Mas." Kiya semakin bingung dengan sikap suaminya, dan Azzam pun melonggarkan pelukannya.


" Ceritakan, ada apa?!" Kiya menegaskan ucapannya.


"Dzac memberitahukan, jika markas utama diserang." Dengan ragu, Azzam menjelaskan kepada istrinya.


Kiya dapat menangkap dengan jelas, kekhawatiran dan keraguan yang nampak di wajah tampan suaminya.


" Tapi Yang, kami bagaimana? Mas tidak bisa meninggalkan kamu seperti ini." Azzam terlihat sangat gusar.


Dengan menarik dan menggenggam tangan kekar itu, Kiya meletakkannya di kedua pipi wajahnya. Lalu senyuman manis itu terukir, seakan-akan memberikan kekuatan dan keyakinan jika ia akan baik-baik saja.


" Ada Daffa mas, dan juga pengawal yang lainnya. Saat ini, posisimu sebagai leader sangat dibutuhkan oleh mereka. Percayalah dan yakin, jika Tuhan akan melindungi kita. Pergilah." Senyum itu semakin terukit dengan lesung pipi yang melekat.


Azzam terdiam untuk beberapa saat, ia saat itu sangat dilema. Benar apa yang dikatakan oleh istrinya! Di satu sisi, kepemimpinannya saat ini sedang sangat dibutuhkan. Tapi disisi lainnya, ia sangat khawatir dengan sang istri. Walaupun istrinya sudah beberapa kali menyakinkan dirinya.

__ADS_1


" Baiklah, nanti langsung pulang ya. Daffa dan lainnya akan menjagamu dan baby dengan selamat, mas akan menyelesaikan yang terjadi. Baby! Daddy titip mommy ya, jaga mommy dengan baik." Tangan kekar itu mengelus lalu mencium perut Kiya yang semakin membesar.


" Pergi dengan keadaan seperti ini, aku juga berharap kamu akan pulang dengan keadaan seperti ini juga mas. Jangan lupa berdo'a, pergillah!."


Disaat Daffa tiba, Azzam segera bersiap untuk pergi menuju markas utama.


" Jaga istri dan anak-anakku dengan baik, aku percayakan hal ini kepadamu Fa!" Titah Azzam saat akan pergi.


" Dengan nyawa saya, tuan." Dengan sedikit menunduk, Daffa berjanji akan menjada nonanya bahkan dengan nyawanya.


Azzam pun pergi, Kiya dan Daffa juga bersiap untuk pulang. Memasuki mobil dengan pengawalan yang super ketat, Kiya hanya bisa berdo'a agar suaminya diberika kekuatan dan keselamatan. Perjalanan menuju rumah penuh rintangan, tiba-tiba saja mobil mereka dihadang.


" Akkh! Astaghfirullah. Ada apa?" Teriak Kiya yang kaget akan rem mendadak dengan yang begitu keras.


" Ma maaf nona, anda baik-baik saja?" Tanya Daffa dengan wajah cemas.


" Tidak apa-apa Daf, itu ada apa? Apa mereka rival mas Azzam?" Mata Kita memandangi para pengawal mereka sedang bertarung dengan orang yang menghadang mereka.


" Nona! Anda tetap berada dalam mobil, apapun yang terjadi. Jangan membukanya." Daffa mempertegas perkataannya dan Kiya menganggukkan kepalanya, Daffa harus segera keluar dari mobil. Karena ia harus secepatnya menolong para pengawalnya. Karena mereka saat itu hampir tumbang, dikarenakan jumlahnya musuh mereka sangat banyak.


Setelah Daffa keluar dari mobil, Kiya langsung mengunci semua pintu mobilnya. Melihat pertarungan dengan secara langsung, membuat Kiya merasa mual, ditambah terlihat banyak darah disana. Tanpa disadari, beberapa pengawal yang menjaga Kiya, mereka telah tewas. Tubuh Kiya langsung bergetar hebat dan ia membekap mulutnya, menahan gejolak dari dalam perutnya untuk segera di keluarkan.

__ADS_1


Dor


Dor


__ADS_2