BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 112


__ADS_3

Mata itu bergerak perlahan dan terbuka, melihat sekitarnya yang serba putih dan merasa asing.


" Sayang."


" Mas, ini dimana?" Kiya merasa sangat asing.


" Dirumah sakit, mau minum?" Azzam yang saat itu sedang berada disisi tempat tidur, terkejut ketika melihat Kiya terbangun. Dan ia memberikan segelas air, agar Kiya dapat meminumnya.


" Terima kasih mas, anak-anak siapa yang menjemputnya?" Setelah meminum sedikit air, Kiya menanyakan keberadaan kedua puteranya.


" Jaka sedang menjemput mereka, kamu istirahat lagi ya. Nggak boleh kecapean lagi dan harus banyak istirahat, di dalam sini. Sedang tumbuh calon baby lagi." Azzam menempelkan tangannya di atas perut yang masih rata milik sang istri.


" Baby? Aku hamil mas?" Kiya merasa sesikit bingung setelah mendengar perkataan suaminya.


Azzam menganggukkan kepalanya untuk menjawabnya, Kiya langsung saja memukul lengan suaminya yang cukup kekar melingkar itu agar menjauh dari atas perutnya.


Plak!


" Loh, kok tangan mas dipukul Yang!" Azzam mengkerutkan dahinya.


" Tangan mas itu berat, nanti babynya nggak bisa bernafas. Ah, pantas saja akhir-akhir ini selalu merasa lelah. Ini semua gara-gara kerjaan kamu ngajakin lembur dan olahraga terus mas." Kiya menampakkan raut muka seperti orang yang sedang kesal.


" Kenapa memangnya, sayang?" Azzam semakin bingung dengan ekpresi wajah Kiya.


" Kenapa ya, nggak tau mas. Kok aku merasa sebel sama kamu, mas. Apa karena baby ya? Astaghfirullah, baby jangan membuat mommy seperti ini." Kiya akhirnya merasakan mengidam yang aneh, ia sepertinya akan merasa tidak nyaman saat melihat wajah suaminya.


" Hah??!" Kerutan pada dahi Azzam semakin banyak, sepertinya anaknya yang satu ini sangat tidak menyukainya.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Seseorang masuk dari pintu yamg terbuka, wajah pria yang sudah lama tidak terlihat. Membuat Kiya menjadi melebarkan senyumannya.


" Kak Gab!" Seru Kiya.


Gabriel yang akhirnya keluar dari persembunyian, kini menampakkan wajahnya kembali.


" Hallo, gimana kabarmu sayang?" Gabriel melangkahkan kakinya untuk mendekati Kiya.


" Stop!!! Jangan mendekat!" Tiba-tiba Kiya berteriak disaat Gabriel sudah hampir berdekatan dengannya.


Dahi Gabriel dan Azzam bersama-sama berkerut, mendapati sikap Kiya saat itu sangat aneh bagi mereka. Gabriel mencoba kembali untul melangkahkan kakinya, namun lagi-lagi ia mendapatkan penolakan dari sang adik.


" Hei! Memangnya ada apa dengan kakak? Bukannya disambut, eh malah seperti ini. Kau apakan adikku sampai seperti ini, hah?! Dasar laki-laki iblis kau!" Gabriel menggerutu kepada Azzam dan menatapnya dengan penuh kekesalan.


" Hahaha, jangan salahkan aku. Sepertinya, itu penolakan dari keponakanmu!" Azzam tak tahan untuk tertawa.


" Apa, keponakan?! Memangnya kenapa dengan kedua keponakanku?" Gabriel kembali bingung.


" Hahaha!!" Azzam semakin tertawa dengan sangat lepas dan larut dalam kebahagian.


" Diam!!! Kalian sangat berisik, jika ingin bertengkar lebih baik diluar." Kiya setengah berteriak untuk melerai kedua pria dewasa tersebut bertengkar.

__ADS_1


Raut muka Gabriel semakin tak bisa diartikan, sedangkan Azzam hanya bisa menahan tawanya dengan apa yang terjadi.


" Kiya sedang hamil, dan calon keponakanmu kali ini benar-benar akan membuat kita berdua kewalahan. Biasanya istriku ini akan selalu menempel padaku, tapi kali ini dia sungguh mengganggapku sebagai orang yang menyebalkan. Heh!" Azzam pun menceritakan apa yang ia alami.


" Hamil? Benarkah?! Wah wah wah, kalian!" Gabriel menjadi tertawa renyah sendiri.


Brak!!!


" Daddy, mommy!" Suara Arick memecah percakapan mereka.


" Assalamu'alaikum boy, kemarilah." Azzam mendapati puteranya yang hadir disana.


" Hehehe, Arick lupa dad. Wa'alaikumussalam. Mommy! " Arick mencium punggung tangan Azzam dan ia pun langsung menuju tempat tidur Kiya dan memeluknya.


" Iya sayang, abang mana? Kok Arick sendirian." Tanya Kiya kepada putera keduanya.


" Abang lagi pergi beli makanan mom, kata om Jaka Daddy pesan makanan. Jadinya, abang temenin om Jaka." Jelas Arick yang dengan semangatnya menjelaskan kepada Kiya, lalu Kiya tersenyum dengan perkataan Arick.


" Mom, kata om Jaka. Arick mau punya dedek bayi ya, benarkah itu mom? Terus, dedek bayinya mana, kok nggak ada?" Mata Arick melirik kesemua sudut ruangan.


" Arick, kemarilah. Nanti daddy akan memberitahu tentang dedek bayi."


Dengan wajah bingung, Arick menuruti perkataan sang daddy. Mereka pun duduk berdampingan, dengan tangan Azzam yang merangkul bahu Arick.


" Dedek bayinya masih kecil, ia akan tumbuh seiring waktu di dalam perut mommy. Sampai nanti waktunya ia akan dilahirkan, barulah Arick bisa berjumpa dengan dedek bayinya. Paham?" Penjelasan Azzam kepada sang putera.


" Emm, begitu ya. Ok dad. " Arick merasa sudah mengerti dengan penjelasan daddynya.

__ADS_1


Gabriel pun kembali mendekati Kiya, ia lupa akan kejadian sebelumnya.


" Uueekk. Kak Gabriel!!" Teriak Kiya.


__ADS_2