BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 37


__ADS_3

" Kak Kiya! Kak, kak Kiya!!!" Suara itu memanggil namanya, membuat Kiya sontak menoleh ke arah suara tersebut.


" Ayu ". Kiya mengenali wajah orang yang memanggilnya.


" Kak Kiya lagi ngapain?" Tanya Ayu saat melihat wajah Kiya sedikit sembab dan terlihat lelah.


" Ah, kakak tidak apa-apa. Kamu sendiri lagi ngapain?" Kiya mengalihkan penilaian Ayu terhadap dirinya.


" Ayu mau kekantornya kak Hanif, kalau kakak mau kemana? Ikut Ayu aja yuk, kan udah lama banget nggak ngobrol bareng kakak. Ya ya ya, pokoknya iya. Nggak ada penolakan, oke. Yuk kak!" Ayu segera menarik pergelangan tangan Kiya, sebelum ia memberikan jawaban atas tawaran Ayu.


Lebih baik aku menghindar terlebih dahulu, daripada dadaku semakin terasa sesak. Kiya.


Kiya hanya bisa pasrah dengan tarikan dari Ayu, mereka menaiki mobil yang berwarna sangat imut, pink. Selama dalam perjalanan, Kiya dan Ayu saling bertukar cerita satu sama lain. Hanya ada tawa yang mereka timbulkan, Ayu memang tipe yang suka bercanda dan asal nyablak saja kalau bicara. Kini mereka telah sampai di perusahaan yang Hanif pimpin, semua karyawan yang bertemu dengan mereka. Langaung memberikan hormat, bahkan Kiya merasa menjadi tidak enak.


" Selamat siang menjelang sore kak zizi, si balok kayu ada kan?" Ayu menanyakan keberadaan Hanif.


" Eh Ayu, bos ada kok diruangannya. Wah, ini siapa Yu? bening banget, mbak bagi resepnya dong biar cantik gini." Zizi sangat takjub dengan melihat wajah Kiya yang menurutnya sangat cantik.


" Eist, jangan colak colek. Ini kak Kiya, calon kakak Ayu. Udah ya, kita masuk dulu." Ayu menarik tangan Kiya agar segera mengikutinya untuk masuk kedalam ruangan.


" Calon kakak? Kakak apaan ya? Eh, udah ilang tu anak. Penasaran deh! Tapi, Mungkin saja itu calonnya si bos kali ya. Hem, cocok banget." Zizi memuji kecantikan Kiya.


......................


Sampai saat ini, Azzam masih dalam mode seperti orang kebakaran buku mata. Tidak bisa diam dan terus saja menghancurkan barang-barang yang ada, hal ini semakin membuat Kenan maupun Dzac menjadi sangat pusing.


" Aaakhhh!!"


Prraangg


Bbraakk

__ADS_1


Ggaarrr...


Entah sudah berapa banyak benda yang telah dihancurkan oleh Azzam, Kenan dan Dzac tidak bisa fokus untuk mencari keberadaan Kiya, karena bosnya itu memporak-porandakan ruang kerja mereka.


" Bodoh, bodoh!" Teriak Azzam dengan wajah yang sangat menyeramkan.


Memang bos bodoh, mudah sekali masuk kedalam jebakan. Apalagi jebakan tikus, nggak level banget dah. Dzac.


Bagaimana tidak bodoh, mau saja kena rayuan berlian KW alias abal-abal. Berlian sungguhan malah di anggurin. Kenan.


" Berhentilah kalian mengumpatku, hah! Mau mati kalian!!!" Azzam dengan amarahnya yang sudah sangat meledak-ledak.


Hal itu membuat Kenan dan Dzac kabur, lebih baik mereka menghilang daripada harus memberikan nyawa mereka untuk dimusnahkan oleh bosnya.


Dddrrrttt...


Dddrrrttt...


" Nona berada di perusahan milik tuan Hanif, seorang wanita membawanya ke..." tut tut tut...


Ya Tuhan, manusia ini selalu saja seenaknya sendiri. Daffa.


Mendengar Kiya berada diperusahaan rivalnya, amarah Azzam semakin tidak terkendalikan. Ia mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, begitu banyak umpatan dari para pengendara yang lainnya. Karena cara Azzam mengendarai mobilnya tersebut, tidak ada yang ia pikirkan terkecuali Kiya.


Mobil tersebut kini telah sampai, tepat berhenti didepan pintu utama perusahaan. Tanpa memperdulikan penjaga keamanan yang memberitahukan, jika ia salah memarkirkan kendaraannya. Memasuki perusahaan tersebut dengan sangat arogan.


......................


Sebelumnya diperusahaan tersebut, Hanif yang sedang menikmati segelas kopi hangat. Terkejutkan dengan kedatangan tamu dadakannya, hal itu membuatnya menoleh ke arah sumbernya.


__ADS_1


" Kakak!! Siapa ni yang datang." Suara Ayu menggelegar dalam ruangan kerja Hanif.


Mata Hanif langsung terbuka dengan sangat lebar, melihat kedatangan wanita yang ia sukai.


" Kiya!"


" Iya, kak Kiya. Tadi kita bertemu ditaman kota, langsung saja aku ajak kemari. Habisnya, kakak pelit amat ngasiin kontaknya kak Kiya. Week!" Ayu menjulurkan lidahnya, memberikan ledekan kepada sang kakak.


" Assalamu'alaikum kak, apa kabarnya?" Sapa Kiya kepada Hanif yang masih terpaku melihat kehadirannya.


" Woi, jawab tu salam dari kak Kiya. Wa'alaikumussalam! Malah bengong ni balok kayu."


Pugh!


" Yes, kena!!."


Ayu melempar sebuah pena yang berada di atas meja kepada Hanif, untuk meleburkan lamunannya.


" Dasar adik durhaka, kenapa melempar kakak?" Hanif merasa kesal dan malu akibat perbuatan Ayu kepadanya.


" Eleh, makanya jangan bengong. Kak Kiya tadi memberi salam sama kakak, tapi kakaknya malah bengong kayak orang kesurupan. Eh salah deng, kayak orang jatuh cintrong, hahaha." Ayu semakin suka melihat wajah Hanif yang jaim-jaim.


" Dasar kau, awas ya!! Tidak ada uang saku bulan ini." Hanif mengancam Ayu, karena sudah membuatnya malu.


" Dasar balok kayu, kak Kiya. Kakakku ini seorang pria yang sangat kaku, lihat saja sikapnya. Maukah kak Kiya menjadi pendampingnya? Jangan-jangan kak Kiya juga ogah, takut ketularan jadi balok kayu juga. Hahaha..." Ayu langsung bersembunyi dibalik tubuh Kiya, menghindari tatapan tajam dari sang kakak.


Mereka pun larut dalam obrolan yang membuat suasana menjadi ceria, Hanif tidak bisa berbuat apa-apa. Karena sang adik yang sudah mendominan ruangan tersebut, terdengar suara dari interkom. Menjelaskan jika terjadi kekacauan, dengan kehadiran dari seseorang. Yang membuat Kiya semakin ketakutan.


" Kak, kak to long." Ucap Kiya dengan lirih, membuat Hanif dan Ayu menjadi bingung.


" Yu, bawa Kiya masuk keruangan kakak." Ayu pun segera tanggap dan membawa Kiya untuk masuk kedalam ruang pribadi milik Hanif.

__ADS_1


Bbbrrraakkk!!!


__ADS_2