BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 115


__ADS_3

" Sedang apa boy."


Suara tersebut membuat Ansel menjadi kaget, ternyata sang daddy sudah berada didalam kamarnya. Tapatnya, Azzam berdiri tepat dibelakang punggung Ansel.


" Dad!!" Ansel sangat terkejut dengan kehadiran Azzam disana.


Dengan santai, Azzam ikut duduk disamping Ansel yang masih kaget. Senyuman dingin itu merekah dari bibir Azzam, mata elang menatap layar komputer yang masih menyala. Jantung Ansel berdetak sangat kencang, ia sangat takut jika daddynya mengetahui yang ia kerjakan.


" Da dad." Dengan suara terbata, Ansel semakin merasa takut.


Hingga suasana saat itu terasa sangat dingin, Ansel belum berani untuk mebgeluarkan suaranya. Sikap dinginnya pun tak kalah dengan daddynya, hanya suara dengkuran Arick yang terdengar.


" Sejak kapan kau menekuninya boy?!" perkataan Azzam begitu tegas dalam menanyakannya pada Ansel.


Yang ditanya hanya menatap layar monitor dihadapannya, belum sempat Ansel menutup perangkatnya. Ternyata, sang daddy sudah berada dibelakangnya.


" Boy!"


" Sejak komputer ini ada disini." Jawab Ansel singkat.


" Sudah terkalahkan?!" Pertanyaan itu sengaja Azzam lontarkan, karena ia tau kalau perangkat asing itu yang selalu menjuarai hacker yang ada.


" Dad."

__ADS_1


" Em."


" Mommy."


Ansel menyebutkan nama sang ibu, ia khawatir jika mommynya mengetahui hal ini. Tak bisa ia bayangkan apa yang akan terjadi, namun ia tidak ingin mommynya kecewa dengan apa yang telah ia kerjakan.


" Jujur sama daddy, jika kamu ingin mommy tidak mengetahui hal ini." Dengan bernada sedikit ancaman, Azzam berharap sang putera akan terbuka kepadanya.


" Abang, abang awalnya hanya iseng Dad. Tapi akhirnya, seperti yang daddy saksikan." Tidak kalah dengan sikap dingin sang daddy, Ansel pun sama.


Menghembuskan nafasnya dengan cepat, Azzam semakin tidak percaya. Puteranya yang masih dalam golongan usia kanak-kanak, yang dimana pada usianya akan sibuk dengan yang namanya bermain. Tapi tidak pada putera tertuanya, kepalnya semakin berdenyut setelah mengetahui hal ini.


" Daddy tidak ingin kamu terlalu menekuninya, Ansel. Daddy akan merahasiakan hal ini, namun daddy tidak akan membantumu jika mommy mengetahuinya. Arick?" Melihat putera keduanya sudah tertidur, Azzam menanyakan persoalan Arick akan hal ini.


Jemari dari tangan kekar itu mulai memijat pelipisnya dengan perlahan, mata yang terpejam namun fikiran yang sudah entah kemana. Ansel mulia menceritakan semua yang sudah ia lakukan, sejak ia mengetahui kepiawaiannya dalam hal tersebut kepada Azzam.


Sudah berapa banyak hacker yang membicarakan tentang perangkat asing yang selalu mengalahkan mereka, hal itu membuat Azzam tak habis pikir jika orang tersebut adalah puteranya sendiri.


" Dad, apakah mommy tau kalau daddy bergabung dalam dunia bawah?"


Duar!!!


Tiba-tiba perkataan Ansel tersebut seakan membuat jantung dirinya berhenti berdetak, bagaimana mungkin puteranya itu mengetahui pekerjaannya yang lain selain dari bekerja di perusahaan miliknya.

__ADS_1


" Darimana kau mengetahuinya boy?" Azzam merubah cara duduknya, hal ini semakin membuatnya gila.


" Jika daddy mengetahui kegiatan ini, maka daddy juga akan tau kalau Ansel mengenali setiap gerakan dari kelompok manapun yang berkaitan dengan hal ini. Bukankah begitu dad!" Ansel men-skak daddynya dengan ucapan yang begitu tajam.


Pikiran Azzam semakin resah, bagaimana bisa anak seusia Ansel bisa bersikap seperti ini. Bahkan ucapannya bisa disetarakan dengan perkataan orang dewasa, betapa luar biasanya kemampuan itu.


Ddrrttt...


Ponsel Azzam bergetar, terdapat panggilan masuk dari Kenan. Perlahan Azzam menerima panggilan telfon tersebut, Kenan memberitahukan tentang perangkat data mereka yang telah kembali pulih seperti sediakala.


" Tapi tuan, kami belum bisa menemukan siapa pemilik dari ID yang membantu kita." Kenan sebenarnya tidak mau membicarakan hal tersebut.


" Tidak perlu kalian cari lagi, aku sudah menemukannya." Jawaban yang sangat tegas, Azzam berikan.


" A aapa tuan, siapa orangnya?" Kenan sangat ingin mengetahui hal tersebut.


Panggilan telfon itu terputus, karena Azzam yang merubahnya menjadi panggilan Video pada Kenan.


"Tuan." Kenan semakin merasa penasaran.


Kamera ponsel itu bergerak dan beralih kepada wajah Ansel, betapa kagetnya Kenan melihat wajah tuan mudanya yang berada pada layar. Tidak ada senyuman ataupun gerakan untuk menyapa kenan dari Ansel, begitu samanya dengan sikap Azzam.


" Tuan muda! I ini, artinya." mulut Kenan seketika ia tutup menggunakan telapak tangannya.

__ADS_1


__ADS_2