
Kenan membisikkan sesuatu kepada Azzam, mengenai kekacauan yang terjadi. Dan benar saja, hal itu membuat darah Azzam mendidih seketika.
" Dasar ba***an, akh! Habisi saja mereka tanpa harus kalian kasihan, aku sudah begitu muak dengannya." Berang Azzam setelah mendengar penjelasan dari Kenan, dengan begitu amarahnya.
" Baik tuan, akan kami atasi semuanya." Kenan menundukkan sebagian tubuhnya kepada Azzam.
Mereka berdua pun berpencar, Azzam berjalan ke arah tempat yang istrinya tuju. Sedangkan Kenan, ia mengatasi kekacauan yamg terjadi di rumah utama.
......................
Kiya dan Ipah berjalan mengikuti langkah kaki Dzac, namun sepanjang perjalanan itu. Mereka melihat serangan demi serangan yang terjadi diantara pihal lawan dan kelompok suaminya, dengan melawan rasa sakit yang berasal dari perutnya. Kiya berusaha untuk kuat, agar tidak membuat situasi dan keadaan semakin mengkhawatirkan.
Dzac yang berjalan terlebih dahulu, ketika saat akan melanjutkan perjalanan. Mereka dihadang oleh beberapa orang dari pihak lawan, hal itu membuat Dzac terperanggah.
" No nona, bibik takut non." Tubuh Ipah bergetar dengan sangat kuat dan ia memeluk lengan Kiya dengan begitu kuatnya.
" Bik, istghfar ya. Insyaa Allah kita akan selamat, jangan takut ya." Kiya berusaha menyakinkan Ipah.
Akh! Baby, bantu mommy ya. Jangan menyakiti mom saat ini ya nak, kalian anak-anak yang baik. Mommy harap kalian kuat, jangan lemah nak ya. Kita sama-sama berjuang, mommy yakin. Daddy akan segera datang, Ya Rabb! Hanya kepadaMu aku berserah diri dan hanya kepadaMu aku memohon pertolongan. Lindungilah anak-anakku dan juga suamiku ya Rabb. Kiya.
" Nona! Ambil jalan disamping! Aku akan menahan mereka, cepat!!" Dzac berusaha melindungi Kiya dan Ipah dari serangan lawan, terlihat jika Dzac mengalami sedikit kesulitan dalam menahan serangan mereka.
" Ta tapi, kamu bagaimana Dzac?" Kiya takut jika Dzac terluka.
__ADS_1
" Nona, cepat! Larilah kesana!!" Dzac berteriak dengan sangat keras, agar Kiya segera pergi dari sana.
Kiya pun menuruti perkataan Dzac, ia menarik tangan Ipah yang sudah terasa sangat dingin. Mereka berjalan dengan tertatih menelusuri lorong kecil tersebut dan juga minim cahaya. Dzac pun mulai kehabisan tenaga dalam bertarung, satu lawan kesekian banyaknya lawan yang mencoba mengejar nonanya.
Bugh!!
Bugh!!
Dzac beberapa kali terkena pukulan dari lawannya, hingga tubuh itu jatuh. Dengan mengusap aliran darah dari sudut bibirnya, Dzac masih tetap mempertahankan dirinya agar lawan mereka tindak dapat melewatinya dirinya untuk mengejar nonanya. Saat terjatuh pun, Dzac masih mendapatkan serangan yang bertubi-tubi. Ketika lawannya akan menyerangnya dengan senjata tajam, namun Dzac tidak merasakan apa-apa.
" Tuan Gabriel!!" Mata Dzac seketika melebar dan ia segera bangkit dari jatuhnya.
Gabriel dan kelompoknya berdatangan, mereka langsung menyerang balik kelompok yang telah membuat kekacauan. Kekuatan mereka bertambah dengan datangnya bantuan dari kelompok milik Gabriel. Dalam hal ini, Ia mendapatkan kabar berita, jika terjadi penyerangan di rumah utama milik leadernya. Pikiran utama yang ada di kepala Gabriel adalah mengutamakan keselamatan adiknya, Kiya.
" Nona, nona berjalan ke arah sana, tuan!" Dzac mengarahakn Gabriel untuk bergegas menyusul nonanya, disaat Gabriel akan melangkah.
" Dzac!!!" Suara lantang milik sang leader bergema.
" Tuan!" mulut Dzac membeo, saat melihat tuannua sudah berada disana.
" Dimana istriku, kenapa kalian membiarkannya tanpa pengawalan?!!" Amarah Azzam bergejolak, dengan sangat cepat. Gerakan Azzam tak dapat mereka hindari, pukulan telak mendarat pada rahang Dzac.
Bugh!!
__ADS_1
" Azzam! Berhenti!" Gabriel menarik tubuh kekar Azzam.
" Lepas, lepaskan!!" Azzam memberontak dari dekapan Gabriel.
" Daripada kau memukuli Dzac, lebih baik segera mencari Kiya!!!" Gabriel membentak Azzam.
Hal itu membuat Azzam tersadar, jika tujuan utamanya adalah sang istri dan anak-anaknya. Gabriel langsung mengarahkan Azzam untuk melewati jalan yang telah Dzac jelaskan padanya, begitu gelap dan sempit. Pikiran Azzam sudah berjalan kemana-mana mencari keberadaan Kiya.
......................
Berjalan terus menerus, perut Kiya semakin menengang dan sangat menyakitkan. Ia merasa seakan-akan mau melahirkan, tekanan pada perut bagian bawahnya begitu terasa.
" Baby, jangan keluar sekarang nak ya. Mommy mohon, bantu mommy!" Tanggis Kiya pun pecah, ia begitu merasakan sakit yang luar biasa.
" Non nona, kepala bibik..." Belum sempat kalimat itu terselesaikan, tubuh wanita paruh baya itu tergeletak pingsan.
" Bik, bik Ipah. Bangun bik." Kiya semakin merasa cemas dengan keadaan seperti ini, ia ingin menolong Ipah. Namun dari kejauhan, terdengar suara para musuhnya semakin dekat.
Dengan terpaksa, Kiya harus meninggalkan Ipah sendirian disana. Bagaimana pun juga, ia harus bisa menyelamatkan diri dan juga anak-anaknya, Kiya meneruskan perjalanannya dengan menahan sakit pada tubuhnya. Tak terasa, jika kakinya sudah dipenuhi dengan luka dan mengeluarkan darah, Kiya melihat cahaya yang ada di ujung jalan tersebut. Ia pun semakin mempercepat langkahnya, agar bisa mencari pertolongan. Langkah itu terhenti, tatkala ia mendengar suara dari sana.
" Cepat kalian temukan wanita itu! Jika tidak, akan aku ledakkan isi kepala kalian!! Cepat!!" Suara milik pemimpin dari kelompok tersebut sangat jelas terdengar di telingga Kiya.
Tidak, aku tidak bisa kesana. Aku harus mencari jalan lainnya, mereka tidak boleh menemukanku disini. Mas Azzam, kamu dimana mas. Tolong aku, mas. Kiya.
__ADS_1