BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 108


__ADS_3

" Bianca!! Dasar wanita bre****ek kau!" Marsya datang dengan wajah yang begitu emosional, dengan cepat ia menarik rambut Bianca dengan begitu kuatnya, hingga tubuh Bianca terhuyung menuruti arah tangan Marsya.


" Akh! Lepas!! Kau ini kenapa, hah. Lepas!" Teriak Bianca sembari menahan tangan Marsya dari rambutnya.


" Dasar wanita munafik kau! Ternyata, kau mau melenyapkanku, hah! Itu tidak akan terjadi, sebelum kau melenyapkanku. Aku yang akan terlebih dahulu akan melenyapkanmu, camkan itu dikepala kosongmu ini." Marsya langsung mendorong tubuh Bianca dengan begitu kuat, tubuh itu terhempas ke lantai dan membentur tiang peyangga lampu hias yang berada disana.


" Aaaa. Dasar wanita gila!" Bianca mengumpat sikap Marsya kepadanya.


Ternyata, wanita itu sangat menyeramkam sekali. Tampangnya saja seperti orang bodoh, tapi jangan-jangan sia sudah merencakan sesuatu tanpa sepengetahuanku. Akh! Tidak bisa dibiarkan, aku harus secepatnya menyingkirkan wanita itu. Bianca.


Disaat Bianca sedang berbicara dengan Hendra sebelumnya, ternyata Marsya mendengar seluruh pembicaraan mereka berdua. Hal itu memang disengaja oleh Hendra, ia akan begitu senang melihat kedua wanita yang ambisius itu saling bertikai. Marsya sangat geram dan marah dengan apa yang Bianca katakan, selama ini dia sudah sangat dibodohi dan diperbudak oleh Bianca.


" Mari kita buktikan! Siapa yang sebenarnya bodoh, kau atau aku Bianca!! Lihat saja, kau akan kusingkirkan sebelum semuanya itu terjadi." Marsya semakin menggila untuk ambisinya mendapatkan Azzam kembali.


Marsya berlalu dari hadapan Bianca, ia mulai mengatur rencana baru untuk menjalankan apa yang ia inginkan.


......................

__ADS_1


Keesokan harinya, aktivitas kembali seperti sedi kala. Setelah menyelesaikan masalah yang ada sebelumnya bersama anak-anak, Kiya pun mulai memberikan pengertian dan nasihat kepada kedua putera kembarnya. Kini perasaannya sedikit lega, karena kedua puteranya itu sangat pandai membuat dirinya tersenyum.


" Sayang, kenapa wajahmu terlihat sangat pucat, kamu sakit?" Disaat Kiya mulai memasangkan dasi pada kerah kemejanya, Azzam memandangi wajah sang istri dengan perasaan khawatir yang begitu besar.


" Ah, taku tidak sakit mas. Mungkin hanya kurang beristirahat dan banyak kepikiran anak-anak saja. Insyaa Allah nggak apa-apa kok." Kiya menyakini Azzam dengan argumennya.


" Tapi, wajah kami sangat pucat. Apa kita ke dokter saja? Perasaan mas menjadi tidak enak, kita kedokter ya." Azzam sedikit memberikan paksaan agar Kiya mau menerima ajakannya.


" Mas, aku tidak apa-apa. Istirahat sebentar, insyaa Allah akan segar lagi. Waktu istirahatku berkurang, semenjak kamu mengajak berolahraga malam setiap hari. Jadi, biarkan hari ini aku beristirahat seharian ya. Sudah, jangan khawatir mas. Kamu berangkat gih, nanti anak-anak nunguin." Kiya merasa malu untuk mengatakan apa yang mereka berdua kerjakan disetiap malam.


Cup!


Azzam memberikan kecupan pada kening dan puncak kepala Kiya, entah apa yang sudah terjadi pada dirinya hingga menjadi sangat posesif dan protective pada istrinya. Azzam segera menemui anak-anaknya, karena mereka tidak berhenti mengomel jika terlambat untul sarapan.


" Dad! Perutku sudah sangat lapar, daddy lama sekali!" Gerutu Arick dengan menatap Azzam yang baru tiba di meja makan dengan tatapan kesal dan tangan yang bersedekap.


" Kenapa tidak makan saja duluan boy, daddy tadi menemani mommy. Sepertinya mommy sedang tidak sehat, cepat selesaikan sarapan kalian. Nanti, daddy yang akan menghantarkan kalian." Azzam menyeruput teh hangat yang berada dihadapannya.

__ADS_1


Mendengar bahwa mommy mereka sedang tidam sehat, pikiran si kembar mulai meronta. Ansel langsung berdiri dari duduknya dan segera berlari menuju kamar sang mommy, tak mau kalah dari abangnya. Arick pun menyusul kembarannya!


" Heh, mereka sangat posesif dengan mommynya. Lama-lama, posisiku bisa lengser oleh mereka berdua." Azzam bergumam melihat tingkah laku kedua putera kembarnya, yang memang begitu sangat menyayangi mommynya dari pada dirinya.


Tok


Tok


Tok


" Mom, boleh masuk?" Suara Ansel terdengar dari balik pintu kamar Kiya.


Disaat matanya sudah akan terlelap, terdengarlah suara yang sangat Kiya kenali memanggil dirinya. Ketika akan turun dari tempat tidur, kepala Kiya seakan-akan berputar dan rasa sakit yang begitu mencengkram menyerangnya. Berusaha terlihat kuat, agar tidak membuat orang lain khawatir akan dirinya.


" Masuk saja nak." Kiya menjawab dengan posisi tubuh yang duduk bersandar pada ujung tempat tidur.


Ansel dan Arick membuka pintu kamar dan berjalan masuk kedalam kamar tersebut, terlihat dimata mereka jika mommynya memang sedang tidak sehat.

__ADS_1


__ADS_2