
Hening...
Baik Kiya maupun Azzam, mereka berdua masih dalam keadaan saling menatap tanpa suara. Namun perlahan-lahan, Azzam melangkahkan kakinya mendekati Kiya.
" Sayang." Azzam menyapa Kiya perlahan.
Kiya tak bergeming dari tempatnya, kakinya terasa sangat berat sefta lemas dan betul saja. Tubuhnya langsung luruh kebawah, untuk saja tangan Azzam segera menahannya agar tidak terhempas ke lantai.
" Kiya, sayang! Ada apa?" Azzam langsung mengendong dan meletakkan Kiya di atas tempat tidur.
Menepis tangan Azzam dari tubuhnya, Kiya perlahan menarik dirinya dari pelukan itu. Matanya masih enggan untuk melihat wajah Azzam, hatinya masih terasa sakit jika teringat apa yang ia saksikan dan ia dengar saat itu.
" Huh! Maaf. Aku tidak menceritakan yang sebenarnya." Azzam menghembuskan nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
Kiya masih dalam diamnya, berharap Azzam akan menceritakan semuanya yang menjadi rahasianya selama ini kepadanya, tanpa harus dirinya yang bertanya. Cukup egois memang, namun itu memberikan pembelajaran bagi Azzam. Setelah beberapa saat, Azzam tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Akhirnya, Kiya membuka suaranya.
" Aku memang orang baru yang hadir dikehidupanmu mas, tidak banyak tau akan rahasia dan perjalanan hidupmu. Aku juga manusia biasa yang tidak punya kekuatan seperti malaikat untuk menghadapi suatu persoalan, maaf juga mas. Aku terlalu egois, tidak menerima penjelasan terlebih dahulu darimu." Air mata Kiya sudah tak dapat terbendung, dengan menggunakan tangannya ia menghapus aliran air tersebut. Azzam sangat ingin menghapusnya, namun ia tau jika Kiya takkan mengizinkannya.
" Aku mohon, jangan menanggis. Aku memang bukan orang baik, sejak kau hadir. Hatiku terasa sangat damai dan tenang. Merasa dirimu adalah bagian dari hidupku, aku juga terlalu egois sudah membuatmu selalu terluka. Apa orang kotor sepertiku, bisa dan pantas untuk memilikimu? Bahkan untuk berada didekatmu pun, aku sangat tidak pantas." Azzam menundukkan kepalanya, tak terasa air mata itu kembalu menetes. Yang sebenarnya, Azzam adalah orang yang paling susah untuk mengeluarkan air mata.
Kiya mendengar isak tangis dari Azzam, orang kejam itu mengeluarkan air mata. Itu adalah sebuah pertanda, bahwa dia memang sedang rapuh. Perlahan Kiya memberanikan diri untuk menatap wajah pria yang sedang terisak itu, entah pikiran darimana. Kiya memegang tangan Azzam dan mengelus punggung tangannya dengan sangat pelan, hingga Azzam merasa kaget dengan hal itu.
" Mas, kalau tidak keberatan, berbagilah suka dan duka itu kepadaku. Tapi, jangan dipaksakan jika itu terasa berat untuk diceritakan." Memberikan sedikit senyuman, dengan harapan bisa mengurangi kecanggungan diantara mereka berdua.
" Aku tidak bisa menceritakannya padamu, itu adalah rahasia kehidupanku. Namun perlu kamu ketahui, aku memang turun dalam dunia bawah atau biasa orang sebut dengan dunia mafia. Aku akui, akulah salah satu pemimpin yang cukup mereka perhitungkan didalam setiap kelompok yang ada. Berbagai cara dan trik, mereka lakukan untuk menjatuhkanku. Jika memang hal ini membuatmu merasa berat, tidak apa-apa. Aku sudah bisa memakluminya, semoga setelah ini. Kau bisa hidup dengan normal seperti yang lainnya." Azzam melepaskan genggaman tangan Kiya dari tangannya dan meletakkannya di atas tempat tidur.
" Nyawamu juga bisa terancam jika berada didekatku, baiklah. Aku harus pergi, hiduplah dengan tenang seperti ketika kita tidak saling mengenal." Tubuh itu beranjak dari tempat duduk, dengan mengadahkan wajahnya ke arah langit-langit, Azzam mengusap wajahnya dengan telapak tangannya secara kasar. Membalikkan tubuhnya, untuk segera meninggalkan semua yang sudah memberikan kenangan indah dalam hidupnya, walaupun hanya sebentar.
__ADS_1
" Mas!! " Kiya menyebut nama itu dengan sangat lembut. Meraih kembali tangan kekar itu untuk ia genggam, sontak saja hal itu membuat Azzam kaget dan terdiam.
" A ku, aku memaafkanmu mas. Jangan lagi memendam semuanya sendiri, berbagilah." Ucap Kiya dengan memandangi tangan yang ia genggam.
Bagaikan mendapat jackpot hadiah yang sangat luar biasa, wajah Azzam seketika berubah menjadi sangat bergembira. Tanpa sadar, ia langsung membalas genggaman tangan Kiya dengan satu pelukan.
" Terima kasih, terima kasih sayang! " Azzam pun menggelus puncak kepala Kiya dengan perlahan.
" Jangan menanggis mas, masa seorang pemimpin mafia menanggis bombay, hehehe." Kiya menggoda, namun Azzam pura-pura tidak mendengarkannya.
Setelah dua puluh delapan tahun yang lalu, aku menanggis dengan kehancuran keluarga dan kematian kedua orangtuaku. Dan baru kali ini aku menanggis lagi, dan itu karena dirimu Kiya. Aku sangat mencintaimu, jadilah matahari dalam hidupku. Azzam.
Klek!!
__ADS_1
Pintu terbuka...