BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 72


__ADS_3

" Sudah bosan hidup kalian rupanya!" Kenan berteriam dengan lantangnya saat mendapatkan beberapa orang yang menguntit.


Membawa semua orang yang mereka tanggap ke dalam sebuah ruangan yang cukup minim cahaya dan pengap, satu persatu orang tersebut mendapatkan hukuman dari beberapa anak buah Azzam.


" Apa tujuan kalian kemari?!" Tanya Kenan dengan menatap orang tersebut, namun mereka masih kekeh tidak mau membuka suara.


Kraak!!


" Aargghh!" Jeritan dari seseorang yang sudah Kenan beri hukuman, salah satu tangannya patah.


" Katakan!!" Namun, mereka kembali bungkam.


Begitu pun pada Dzac, ia juga memberi hukuman yang cukup. Hasilnya pun sama saja, mereka tetap menutup rapat semua informasi yang ada. Di saat Kenan akan mengeksekusi sang penguntit, tidak sengaja tangannya memutar leher orang tersebut dan ia melihat tanda huruf 'Q'.


" Ba***sat!!! Rupanya pria sialan itu! Matilah kalian, hah!!!" Kenan dengan penuh amarahnya, langsung saja menghabisi nyawa orang tersebut.



Melihat Kenan dengan begitu murkanya menghabisi nyawa orang tersebut, Dzac menjadi bingung dengan hal itu.

__ADS_1


" Hei! Kau kenapa?" teriak Dzac dari kejauhan.


" Habisi saja mereka, tidak perlu kau mencari lagi. Lihat saja tanda di lehernya!!" Tegas Kenan kepada Dzac, yang akhirnya langsung saja Dzac melihat seperti yang Kenan katakan.


" Tanda ini!! Bedebah kalian! Bodoh, bodoh. Bilang dengan bos kalian itu, jangan mengusik nona dan bos kami lagi! Dasar bodoh. Kalian juga habisi yang lainnya, jangan sisakan satu pun." Dzac juga sangat murka saat mengetahui siapa dalang dari hal ini.


Para pengawal yang lainnya juga dengan segera mematuhi apa yang diperintahkan oleh Dzac, dalam hitungan detik para penguntit itu semua telah selesai mereka eksekusi tanpa sisa.


" Ferdinand gila! Kenan, kau beritahu Daffa akan hal ini. Aku takut, mereka akan mengikuti keberadaan nona!" Ujar Dzac dengan nafas yang memburu.


Kenan juga satu pemikiran dengan Dzac, ia langsung menghubungi Daffa dan menjelaskan apa yang teejadi dirumah bosnya. Mereka juga sangat mengkhawatirkan kemanan nonanya, karena musuhnya ini memiliki kegilaan yang di luar nalar manusia normal.


Saat tiba dirumah sakit, dokter Fatimah telah menunggu dengan persiapan medis lainnya. Tubuh mungil itu dibaringkan di atas brankar dan segera dibawa menuju ruang tindakan, Azzam dan Daffa sangat terlihat sangat cemas. Ponsel Daffa yang berbunyi, segera ia menerimanya dengan mengambil jarak dari bosnya. Betapa terlejutnya Daffa mengetahui kejadian kekacauan di rumah bosnya itu, ponsel miliknya segera ia masukan kembali ke dalam saku celananya.


" Tuan." Daffa menjelaskan tentang kekacauan yang terjadi di rumah bosnya tersebut, sorot mata Azzam menajam dan rahangnya menggeretak.


" Akh! Bre****ek!! Apa sebenarnya mau orang gila itu? Kalian tetap perketat penjagaan, dan juga tempatkan beberapa pengawal disini Fa. Ah, kepalaku semakin sakit kalau seperti ini." Azzam mengacak-acak rambutnya dengan sangat kasar, lalu ia menghembaskan tubuhnya untuk duduk pada kursi yang ada.


" Baik tuan." Daffa segera melaksanakan perintah dari tuannya.

__ADS_1


Klek!


Pintu ruangan tindakan terbuka, terlihat dokter wanita itu keluar dari sana dan menghampiri keberadaan dua pria tersebut.


" Tuan!" Sapa Fatimah, ia melihat jika Azzam tengah melamun.


" Ah, dokter. Bagaimana keadaan istri saya?" Azzam segera berdiri dari duduknya dan di ikuti oleh Daffa.


" Untuk sementara, nona akan kita rawat dulu disini untuk bed rest total. Seperti yang sudah saya periksa, nona mengalami plasenta previa. Dimana Plasenta yang menutup jalan leher rahim berisiko menimbulkan perdarahan hebat sebelum atau selama proses persalinan berlangsung. Kita harus menjaga kondisi bayi sampai saatnya harus dilahirkan, dan mencegah kejadian yang tidak di inginkan. Yaitu, lahir sebelum waktunya atau prematur." Penjelasan dokter dengan sangat panjang, agar dapat diketahui secara jelas keadaan pasiennya.


Bagaikan tersengat aliran listrik dengan tegangan tinggi, Azzam menjadi ambruk. Daffa dengan sigapnya menangkap tubuh kekar itu agar tidak terjatuh ke lantai.


" Tuan! Apa anda baik-baik saja?" tanya Fatimah yang melihat Azzam mendadak lemas.


" Tidak apa-apa dok, apa kondisi istri dan bayi saya saat ini baik-baik saja?" terlihat jelas di mata Azzam, jika ia sangat khawatir dan cemas dengan keadaan sang istri.


" Untuk sampai saat ini, keadaan ibu dan bayinya baik-baik saja. Hanya saja, sang ibu harus kita transfusi untuk menganti darah yang hilang. Setelah ini, nona akan kita pindahkan. Baik, saya permisi dahulu tuan." Fatimah pamit undur diri.


" Terima kasih dokter atas bantuannya." Daffa sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kepada dokter tersebut.

__ADS_1


Tuhan! Selamatkan dan lindungilah istri dan anak-anakku. Azzam.


__ADS_2