
Di salah satu perusahaan, Ferdinand sedang duduk dikursi kebesarannya. Dengan melihat beberapa berkas yang berada ditangannya, lalu berkas tersebut ia tutup dan meletakkannya di atas meja.
Dddrrrttt...
Dddrrrttt...
Dddrrrttt..
" Hallo " Ucap Ferdinand.
" Tuan, informan kita mengatakan jika wanita tersebut sedang mendapatkan perawatan disalah satu rumah sakit. " Jelas anak buah Ferdinand dari dunia bawah.
" Sakit??!! Berikan informasinya dan kirimkan secara lengkap kepadaku." Tut tut tut.
Ferdinand merasa sedikit khawatir, mendengar kabar jika Kiya sedang menjalani perawatan disalah satu rumah sakit.
" Heh, kau sakit pasti karena merindukanku kan, Kiya?" Dengan sangat percaya dirinya, ferdinand berucap.
......................
Memandangi layar ponselnya, yang menampakkan salah satu sudut perusahaan di bagian lobby. Azzam Menantikan kehadiran seorang wanita yang sangat ia rindukan dan ia cemaskan. Azzam masih belum melakukan hal yang sebulumnya pernah ia lakukan, yaitu memberikan bodyguard bayangan pada Kuya. Karena ia takut, Kiya masih engan padanya. Sampai dimana jam kerja telah dimulai, wanita yang ia cintai itu tidak menampakkan batang hidungnya.
__ADS_1
Kemana dia? Dari tadi, aku belum melihat kehadirannya. Ini sudab lewat dari jam awal kerja. Apa kejadian kemarin, membuatnya tidak masuk kerja? Azzam.
Azzam beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruangannya, menyelusuri jalan menuju ruangan Ghina. Tanpa permisi, Azzam memasuki ruangan tersebut. Sorot matanya melihat keseluruh sudut ruangan, berharap orang yang ia cintai ada disana. Namun sayangnya, tidak ada satu penghuni pun disana. Dahinya berkerut, rasa penasaran akan keberadan wanitanya, namun sia-sia.
" Tuan! " Ghina menyapa dari balik punggung bosnya, yang terlihat sedang berada didalam ruangan.
" Hem, kalian berdua telat?" Tanya Azzam dengan penuh selidik kepada Ghina, matanya melihat hanya ada dia seorang. Lalu ia menggunakan salah satu triknya agar Ghina memberikan informasi tantang keberadaan Kiya.
" Maaf tuan, saya dari pantry. Kiya belum datang? Ehm, tidak ada pemberitahuan jika dia tidak hadir, tuan." Ghina juga baru menyadari jika patner kerjanya itu belum hadir.
" Tidak ada kabar?!!" Kening Azzam semakin berkerut, akan tetapi ia harus memastikan kabar tersebut.
Tanpa berbicara lagi, Azzam langsung saja menyelonong keluar dari ruangan tersebut dan langsung menghubungi Daffa. Mengambil ponselnya dari saku jasnya, dan menekan tombol hijau.
" Cari keberadaan Kiya, sekarang juga!!" tegas Azzam dengan nada bicara seperti orang yang sedang marah.
" Baik tuan!." Daffa mengkerutkan dahinya, merasa tidak pernah ada selesai-selesainya berurusan jika bosnya itu sedang mode bucin.
Oh Tuhan, apa lagi ini. Kenapa mereka berdua tidak cepat dinikahkankan saja. Ada saja masalah yang mereka ciptakan, dan selalu gue yang kena. Ah! Aku juga manusia bos, butuh istirahat. Daffa.
Daffa yang saat itu sedang dalam perjalan menuju perusahaan, menggerutu dengan sangat luar biasa. Tidak mau bekerja sendiri, Daffa pun menghubungi Kenan dan Dzac.
__ADS_1
" Hallo Dzac, ada kerjaan. Cari keberadaan nona Kiya, sekarang juga. Nggak usah ngomel, lakukan saja. Kerjasamalah dengan Kenan, bos memintanya segera." Daffa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" What? Nona Kiya? Bos udah baikan ya. Memangnya, nona Kiya kemana? Biasanya bos selalu tau, kan dia kerja satu gedung. " Jawab Dzac dengan sedikit penasaran atas perkataan Daffa.
Plaak!!!
" Aahhh!! Sakit kam***et, asal deplak aja lu." Dzac mengusap kepalanya yang kena pukulan dari tangan Kenan, lalu mengambil alih telfon tersebut.
" Ada apa Fa?" Kenan mengulang pertanyaannya.
" Bantu gue cari tau keberadaan nona Kiya, bos mulai dalam mode bucin. Gara-gara manusia la***at Ferdinand!!." Daffa mengeluarkan unek-unek di kepalanya.
" Oooo, oke." Kenan dan Daffa memutuskan pembicaraan mereka.
Kenan melempar ponsel milik Dzac dengan asal-asalan, dengan mata melotot. Dzac langsung mengejar ponselnya yang sudah terbang dengan bebasnya, alhasil. Kepalanya kembali terkena sudut meja!
" Aaakhhh! Dasar teman ba***at kau Kenan!!!" Teriak Dzac dengan lantangnya, hingga suara itu bergema.
Ah, ponselku!! Hampir saja, awas saja kau Kenan. Akan aku balas, dasar teman tidak berakhlak dan beradab kau. Dzac.
__ADS_1