
kebahagian kini menghinggapi keluarga kecil Azzam, kedua puteranya sangat membuat gemas. Kiya pun kini sudah sadar dan berangsur pulih, setelah seharian ia tertidur dalam lelahnya.
" Mas, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk baby?" Kiya yang sedang menikmati sarapannya, bertanya kepada sang suami.
" Ehm, mas belum kepikiran sayang. Mas masih fokus untuk kesehatan kalian dahulu, tidak apa-apa kan?" Azzam mengutamakan keselamatan dan kesehatan istri dan anak-anaknya terlebih dahulu, untuk masalah nama untuk babu. Akan Azzam pikirkan setelah keluarga kecilnya itu telah dipastikan tidak terjadi apa-apa.
" Iya mas, tidak apa-apa. Tapi ada baiknya untuk disegerakan, dan masalah aqiqahnya juga. " Kiya takut mereka akan lupa akan kewajibannya sebagai orang tua baru untuk kelahiran babynya.
" Ah, hampir saja lupa. Terima kasih sayang, sudah mengingatkan." Azzam memeluk dan mencium puncak kepala Kiya.
" Mas, jangan menyimpan dendam atas semua yang terjadi. Biarkan semuanya menjadi pembelajaran untuk kita semua, jadikan peristiwa ini sebagai ujian dan kekuatan untuk kita menata hidup di saat ini dan di masa depan." Kiya membalas pelukan suaminya.
" Kita akan sama-sama menjalaninya, sayang."
" Aakkhh! Aku datang disaat yang tidak tepat." Suara yang begitu Kiya kenali, dengan cepat Kiya melepaskan pelukannya. Namun tidak untuk Azzam, ia masih dengan erat melingkarkan tangannya pada tubuh Kiya.
" Mas, ada tamu. Malu, ih." Kiya mendorong dada Azzam, agar melepaskan pelukannya.
" Aih, kita pulang saja. Mata gue sakit, pokemon. Pulang yuk! Bukannya mau lihat ponakan, malah liat mak dan babenya mesra-mesraan." Berry berceloteh, gara-gara melihat Kiya dan bos mereka berpelukan.
Puk!
__ADS_1
" Yiak!!" Kenapa kalian memukulku?!" Berry tidak terima jika ketiga wanita itu memukulnya.
" Dasar nggak ada akhlaknya lu ya, masih bisa-bisanya bilang begitu didepan bos. Mau mampus apa lu, hah!" Eci melotot kepada Berry.
" Sstttt!!!" Nabila dan Ghina menjadi geram dengan ulah kedua manusia yang selalu saja berlawanan arah.
" Kalian! Masuk saja dan jangan membuat istriku kelelahan." Suara Azzam membuyarkan perseteruan diantara ke empat manusia tersebut.
" Mas." Kiya menekan nada bicaranya, agar sang suami tidak membuat sahabat-sahabatnya ketakutan. Akhirnya Azzam pun menjauh dan duduk di sofa, tetap saja memantau keadaan sang istri.
Mereka berempat pun saling berpandangan, menatap satu sama lainnya untuk mengambil keputusan. Lalu mereka berhamburan menghampiri Kiya, tentunya dengan tidak melihat Azzam yang sedang berkerut wajahnya.
" Kiya!!!" Nabila, Eci, Ghina pun segera ingin memeluk sahabatnya tersebut.
" Maaf ya, bos kalian sedang dalam masa sensitif." Kiya dengan tidak enaknya meminta maaf kepada sahabat-sahabatnya atas sikap Azzam yang semakin protective.
" Tidak apa-apa Ki, suami manapun akan bersikap sama seperti bos Azzam ketika istrinya sedang dalan keadaan seperti ini. Oh iya, selamat ya sudah menjadi mommy." Ghina mengelus punggung tangan Kiya.
" Iya ki, selamat ya. Kami sangat senang mendengar kabar, kalau kamu sudah lahiran." Eci menimpali perkataan Ghina.
" Ah, kalian. Aku harus berbicara apa, semuanya sudah kalian borong." Nabila mengkerutkan bibirnya.
__ADS_1
" Nggak usah ngomong kali, langsung peluk saja. Ni, kayak gini." Berry mendekari tenpat tidur Kiya, dan ingin memperlihatkan jika dia ingin memeluknya.
Namun dengan cepat, ketiga wanita tersebut menarik tubuh pria yang rasa malu dan kepekaannya sudah menghilang entah kemana.
" Eh, lu mau dipecat dan dijadiin perkedel ya! Istri bos, mau lu peluk-peluk." Eci mengomel dengan tiada hentinya.
Kiya pun hanya tersenyum dengan sikap para sahabatnya, mereka selalu memberikan warna yang beraneka ragam dalam persahabatan mereka. Lalu mata Kiya menatap suaminya, mata elang itu sudah menajam.
" Mas, bisa bantuin duduk?" Kiya meminta bantuan Azzam, agar sang suami bisa ikut menyati dengan sahabatnya.
Azzam dengan langkah elegannya mendekati sang istri, hal itu membuat ke empat manusia super menjadi ketakutan.
" Suamiku ini, tidak akan memakan kalian. Dia akan aman disampingku, hehehe." Kiya mengenggam tangan kekar itu lalu tersenyum dan Azzam pun membalasnya.
" Maafkan kami bos!" Nabila langsung membuka suara, ia tidak ingin memancing kemarahan bosnya. Karena ia masih ingin bekerja dan tidk mau dipecat.
Kiya pun semakin melebarkan senyum ya, keadaan pun semakin menyatu. Akhirnya, ke empat sahabat Kiya itu bisa membaur dengan situasi yang ada.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
" Masuk"