
Kini, Azzam dan Kiya sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat. Dengan mengemudikan mobilnya sendiri, Azzam menginginkan momen-momen yang indah bersama istrinya. Mobil yang mereka kendarai mulai memasuki perkarangan sebuah rumah, terlihat sangat jelas jika rumah tersebut tergolong sangat mewah.
" Ini rumah siapa mas? " Kiya bingung, kenapa mereka berada disini, apakah ingin menemui seseorang. Kiya masih bermain dengan pikirannya sendiri.
" Sebentar lagi, kamu akan mengetahuinya, sayang. Ayo turun." Azzam semakin terlihat tak tahan dengan muka gemes terhadap istrinya.
Dengan perasaan yang campur aduk, Kiya mengikuti langkah kaki Azzam untuk memasuki rumah tersebut.
" Selamat datang nona !." Sapa Daffa yang menyambut mereka berdua di pintu utama.
" Eh !!." Kiya kaget dengan keberadaan sang asisten suaminya itu disana.
Azzam hanya tersenyum melihat keterkejutan Kiya, dengan menggengam tangan mungil itu. Mereka melanjutkan langkahnya memasuki rumah tersebut, keterkejutan Kiya rupanya masih berlanjut.
" Nenek, kak Gab, Masyaa Allah mas!" mata kiya sudah mengembun, melihat kejutan yang ia dapatkan dari sang suami.
__ADS_1
" Bagaimana sayang." Azzam sangat senang dengan senyuman Kiya. Kiya yang merasa terharu, langsung memeluk tubuh kekar sang suaminya.
" Terima kasih mas, terima kasih." Tanggis kebahagian itu kembali pecah dalam pelukan suaminya.
" Ini semua memang pantas untuk kamu dapatkan, sayang. Ini akan menjadi rumah kita yang baru, dan yang lama biarkan para jomblo itu yang menghuninya. Sapalah dulu mereka." Cup! Azzam mencium kening Kiya sekilas, dan melepas pelukannya.
Memberikan ruang kepada sang istri untuk bisa berkumpul bersama dengan keluarga, sahabat dan yang lainnya. Azzam juga bergabung bersama kelompoknya, membahas sesuatu hal yang teramat penting.
" Apa yang kalian dapatkan?" Dengan meneguk minuman yang berada dalam genggaman tangannya, Azzam menatap pemandangan dihadapannya.
" Benar bos, tapi aku curiga. Dari orang yang aku habisi waktu itu, terlihat seperti tanda pada telinganya dibagian belakang. ' Q ' ya, huruf itu yang aku lihat." Dengan sangat cermat, ia melihat lawannya saat itu. Dzac memang selalu perfectsionis dalam meneliti lawannya, kalau tidak. Mulutnya sudah mengomel entah kemana.
Azzam sedikit berpikir dan menelaah dengan penjelasan dari Dzac dan Kenan sampaikan, ada benarnya apa yang Dzac katakan. Tanda itu juga ia lihat, pada pria yang menyelinap didekat kamarnya waktu itu.
" Daf !!." Azzam ingin mendengar hasil darinya.
__ADS_1
" Heh! kau ini diam saja dari tadi, sariawan apa kau hah?!" Ledek Dzac kepada Daffa.
Daffa tidak mengubris ledekan dari Dzac, hanya saja di mengeluarkan suaranya dengan satu kata.
" Duck !"
Dzac pun melebarkan matanya, ia tau maksud dari perkataan Daffa, memang selalu saja dia mendapatkan julukan seperti itu dari Daffa atas mulutnya yang tak berhenti bicara dan asal nyablak saja. Sama seperti 'duck', yang berisik hampir disetiap saat.
" Maaf tuan, saya hanya merasa ada keganjilan dari kejadian tersebut. Akan saya selidiki dahulu." Jawab Daffa dengan tenang.
" Baiklah, aku akan menunggunya. Bonusnya, kalian bisa menempati rumah itu. Aku tidak ingin istriku memiliki trauma disana, dan terutama kau Dzac. Aku haramkan kau membawa peliharaanmu masuk kedalamnya, jika itu terjadi. Habis kau!!" Seringai Azzam dengan penuh penekanan, hingga orang tersebut pun menjadi merinding.
" Mampus kau!" Bisik Kenan dengan perlahan disamping telingga Dzac.
Beranjak dari tempat tersebut, Azzam berjalan menjauhi bawahannya itu dan ikut bergabung kembali bersama istri dan keluarganya yang lain.
__ADS_1
Q Q Q!!! Seperti inisial dari sebuah nama, berbagai kejadian mulai bermunculan disekitar nona. Semenjak pria itu menganggunya, trus menghilang seperti bukan manusia. Daffa.