
Dengan penuh kegembiraan, Ferdinand membawa tubuh wanita yang baru saja ia ambil secara paksa menuju sebuah kamar yang telah ia persiapkan sebelumnya dan meletakkannya di atas tempat tidur. Ia terus memandangi wajah Kiya yang masih terlelap, dan dengan tangannya ia mulai membelai setiap inci dari wajah mungil nan cantik itu, hal itu membuat sang pemilik wajah merasakannya. Perlahan mata itu terbuka, dan betapa kagetnya ia.
" Akh!" Kiya sontak saja langsung menjauhkan dirinya.
" Sudah bangun sayang?!" Ferdinand semakin mendekatkan dirinya, ia begitu sangat tertarik dengan wanita yang saat ini berada di hadapannya.
" Stop! Jangan mendekat." Tubuh itu semakin mundur hingga tidak bisa bergerak lagi pada sudut ruangan.
" Kenapa? Apa kau tidak menyukaiku, Kiya? Jangan munafik! kau menikah dengan Azzam juga karena harta, bukan! Hahaha, lihatlah! Aku juga tidak kalah kayanya dengan." Ferdinand mengunci pergerakkan Kiya, agar dia tidak bisa menjauh lagi darinya.
" Kau gila!" Kiya meneriaki Ferdinand dengan sangat keras.
" Ya!! Aku memang gila, aku begitu sangat menyukai dan mencintaimu. Dan hal itu kamu yang telah membuatnya sendiri! Jangan salahkan aku, jika harus berbuat seperti ini." Ferdinand mencengkram rahang Kiya dengan sangat kuat, hingga membuatnya meringgis.
" Akh, tidak. Itu hanyalah obsesimu, bukan cinta ataupun perasaan suka. Sadarlah!" Kiya membantah ucapan Ferdinand terhadap dirinya.
__ADS_1
" Heh, obsesi?! Kau bilang ini hanya obsesi?"
Plak!!
" Akh!"
Amarah Ferdinand semakin membesar, setelah mendengar perkataan dari Kiya. Ia merasa tidak terima akan pernyataan tentang dirinya yang hanya terobsesi, bukan perasan cinta. Dengan sangat kuat, ia menampar Kiya dengan kuat. Terlihat adanya memar dan darah di sudut bibir Kiya, mendengar suara teriakan dan jeritan dari bibir mungil itu. Jiwa psikopatnya itu kembali.
Dengan satu kali tarikan, tubuh mungil itu tersentak dan terhempas dihadapannya.Tanpa rasa belas kasihan, Ferdinand mengikat tangan itu menggunakan seutas tali. Membiarkan kakinya tidak terikat, agar menambah keseruan dalam penyiksaan.
" Kenapa? Apa kau mulai menyukaiku, hah. Jawab!!" Tangan Itu kembali mencekik leher kecil dihadapannya.
Kiya pun semakin tersiksa dengan rasa sakit pada perut dan lehernya, asupan oksigen itu terhambat oleh cengkraman kuat pada lehernya.
" Ji jika kau me nyu kai dan men cintai seseorang, kau ti dak a kan membuatnya terluka dan tersiksa." Dengan terbata-bata, Kiya berusaha untuk menghentikan kegilaan Ferdinand terhadap dirinya.
__ADS_1
" Diam kau! Tidak akan aku biarkan kau menjadi milik siapapun terkecuali hanya aku, hanya aku, Kiya!!! Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada satu orang pun yang bisa memilikimu. Camkan itu!!" Ferdinand menarik dan menyeret Kiya dengan sangat keji, tanpa memikirkan keadaan Kiya yang sedang hamil.
" Lepas, tolong lepaskan. Aku mohon." Kiya terus memberontak untuk melepaskan diri, namun kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan seorang pria yang sedang marah.
Rasa sakit yang berasal dari perutnya, membuat Kiya semakin tidak bisa menahannya. Benturan demi benturan mengenai tubuhnya, dengan begitu sadisnya Ferdinand menyiksa dirinya. Tiba-tiba saja mereka berhenti di salah satu ruangan yang sangat minim dengan cahaya, tangan Kiya terikat itu di injak dengan begitu kuatnya. Gesekan yang terjadi menimbulkan luka yang cukup serius, apalagi tangan itu begitu mungilnya.
" Hiks hiks... Sakit!" Kiya hanya bisa meringgis menahan rasa sakit dari sekujur tubuhnya, tanpa Kiya sadari. Aliran darah sudah membasahi pakaiannya pada bagian bawah perutnya, tubuhnya itu kini hanya bisa tergolek lemah di atas lantai.
Baby, bantu mommy supaya kuat ya nak. Kalian juga harus kuat. Mommy yakin, daddy akan menyelamatkan kita. Ya Rabb, selamatkan anak-anakku. Kiya.
" Saatnya aku harus membalaskan dendamku kepada pria la**at itu! Dan kau, tidak akan bisa dimiliki siapa pun Kiya. Kau hanya akan menjadi milikku, walaupun itu hanya jasadmu. Kau tau, pria itu sudah membunuh ayahku! Pria yang kau sebut sebagai suami itu sudah membunuhnya, dan dia juga harus mati. Nyawa dibayar dengan nyawa!" Ferdinand membawa sebuah senjata kecil, itu adalah sebuah pisau.
Mengarahkannya tepat di hadapan wajah Kiya, lalu ia pindahkan dihadapan perutnya. Pisau itu bersentuhan dengan perut Kiya dan mulai membuat sketsa ukiran di atasnya, entah apa yang dipikirkan oleh Ferdinand saat itu.
" Kau boleh membunuhku, jika memang itu membuatmu merasa senang dan bahagia. Tapi, tolong selamatkan anak-anakku. Mereka tidak bersalah dan tidak tau apa-apa dengan semuanya , kejadian ini terjadi hanyalah karena permasalah orangtuanya dan adanya kesalahpahaman." Air mata itu mengalir dari sudut mata yang mulai merasakan lelah menahan rasa sakit.
__ADS_1
" Balas dendam memang akan membuat puas hatimu, tapi itu tidak akan merubah keadaan. Jangan pernah menyimpan perasaan dendam, itu hanya akan menjadi penghalangmu untuk bahagia. Dendam yang terbaik, adalah dengan merubah dirimu untuk menjadi lebih baik. Kau adalah manusia yang baik, Ferdinand. Berdamailah dengan masa lalu, hidupmu adalah hari ini dan seterusnya. Masa lalu hanyalah bayangan dan juga cermin untuk berubah menjadi lebih baik. Aku yakin dan percaya, dan aku juga bersaksi, jika kau adalah orang yang sangat baik. " Setelah mengucapkan hal itu, Kiya yang sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang ada. Ia pun memilih untuk memejamkan matanya.