
Mata Kiya kini terbuka secara perlahan, memandangi setiap sudut ruangan tersebut.
Rumah sakit? Kok bisa, siapa yang membawaku kemari? Kiya.
Taak!!
" Aauu... Astaghfirullah!!" Dahi Kiya mendapatkan hadiah sentilan yang cukup kuat, dan ia sangat kaget melihat siapa yang sedang berada dihadapannya.
" Kenapa, kaget!!! Basi. Nggak usah kaget, nggak usah ngomel dan nggak usah menghindar lagi. Dasar keras kepala!" Gabriel yang dengan setianya berada disamping tempat tidur Kiya, mulai protes dengan kebiasannya.
" Ee, memangnya ada apa? Anda siapa? Ngomel-ngomel nggak jelas. Ini sudah tindak penganiayan." Tangan Kiya mengelus dahinya yang terlihat kemerahan, akibat dari sentilan tangan Gabriel.
" Ngak usah sok-sok kuat dan tegar, apalagi nggak kenal. Kena suntik rabies, baru tau rasa. " Gabriel semakin mempertegas perkataannya, karena Kiya terlihat berpura-pura dihadapannya.
Mendrngar perkataan Gabriel, Kiya menjadi terdiam. Benar, apa yang Gabriel bicarakan. Berpura-pura kuat dan tegar itu menyedihkan, tak terasa air mata itu mengalir di sudut mata Kiya yang sudab mengembun.
__ADS_1
" Maaf." Kepala Kiya menunduk, dia tidak ingin terlihat menyedihkan.
Ambar yang melihat tingkah kedua cucunya itu, jadi ikutan sedih. Bagaimana Kiya berusaha menutupi rasa ketakutannya dan melawan perasaannya untuk selalu menghindar dan terlihat kuat dihadapan mereka. Namun nyatanya, dia adalah seseorang yang sangat rapuh.
" Sudah, jangan menanggis. Kakak tidak akan membiarkan kamu menanggis lagi, seharusnya kakak yang meminta maaf dan jujur sama kamu dan nenek dari awal. Maafkan kakak." Gabriel menggenggam tangan Kiya, mencoba memberikan ketenangan kepada adiknya yang sangat rapuh.
Terlihat tubuh Kiya kembali bergetar, menanggis sesegukkan. Gabriel merasa sangat sakit melihatnya, tangan itu menepuk-nepuk punggung tangan Kiya.
" Berhentilah menanggis, mulai saat ini. Kakak tidak ingin kau melalaikan kesehatanmu, asam lambungmu kali ini sudah sangat serius Kiya. " Gabriel mengalihkan kesedihan Kiya.
" Berhentilah menanggis, Kiya! Kau bukan anak kecil lagi, otakmu ini kan sangat cerdas. Kenapa tidak kau cari tau dulu kebenarannya, kakak bisa menjelaskan semuanya. Tidak harus dengan cara sperti ini, mengorbankan kesehatanmu sendiri. Lihat nenek, kulitnya semakin keriput karena sikap egoismu itu." Ambar mengkerutkan dahinya, Gabriel sungguh keterlaluan.
" Apa kau bilang, hah! Nenek semakin keriput!! Dasar cucu durhaka, kau ya! Mulutmu itu harusnya nenek masukan merica yang sangat banyak." Ambar tau Gabriel hanya mencairkan suasan, ia pun tak ingin melewatkannya dan ikut dalam permainannya.
" Aaakkhh, Nenek sakit!!! Ampun nek. " Ternyata, Ambar secepat dan sekuat tenaganya menarik telinga Gabriel, hingga terlihat sang empunya meringgis.
__ADS_1
" Masih mau bilang nenek keriput, hah? Dasar cucu durhaka kau, biar saja telingamu ini putus." Ambar semakin kuat menarik telingganya Gabriel.
" Nenek, kasihan kak Gab nek. Telinganya sudah memerah." Kiya membela sang kakak yang terlihat kesakitan, dan akhirnya Ambar melepaskan tangannya dari telinga Gabriel.
" Makanya, jangan suka usil. Nenek mau dilawan."
Mereka pun tertawa, Gabriel pun perlahan-lahan menceritakan kehidupan duniah bawahnya kepada Kiya, sampai akhirnya dia bergabung bersama Azzam.
" Yah, begitulah Ki kurang dan lebihnya. Kenapa kakak membiarkanmu bersamanya? Karena dia bukanlah orang yang sembarangan dalam menyukai wanita, kau sangat beruntung bisa menakhlukkan hatinya. Bahkan dia seperti orang gila, gara-gara kau mengetahui semuanya dan mempergokinya sedang bersama wanita, hahaha." Gabriel menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Ya Tuhan, jangan membahas hal itu kak. Sungguh aku masih belum bisa sepenuhnya menerima hal itu." wajah Kiya kembali menunduk dan mengembun.
Brakk!!!
__ADS_1
......................