
" Mom, mommy sakit?!" Ansel terlihat begitu sangat khawatir dengan keadaan Kiya.
" Iya mom, kita kerumah sakit saja mom." Arick pun ikut berkomentar.
" Tidak apa-apa nak, mommy hanya butuh istirahat saja. Kalian sudah sarapan? nanti terlambat kesekolahnya." Kiya tersenyum dengan memaksakan diri.
" Mom!" Ansel begitu sangat khawatir.
" Abang, mommy hanya butuh istirahat sayang. Memang akhir-akhir ini, mommy sangat sulit untuk tidur malam. Do'ain mommy ya, jangan khawatir." Menggenggam tangan si sulung yang begitu dekat dengannya.
" Tapi mom." Perkataan Ansel yang terhenti.
" Boy!!!" Suara Azzam berteriak memanggil kedua puteranya.
" Jangan khawatirkan mommy, daddy sudah memanggil. Sekolah dan belajar yang rajin ya. Abang, Arick berangkatlah nak."
" Baiklah mom." Arick berkata dengan nada kecewa, padahal ia sangat ingin menemani mommynya saat ini.
Begitu pula dengan Ansel, ia seolah-olah engan untuk berangkat ke sekolah. Tapi ia juga tidak ingin mengecewakan mommynya, mereka pun berangkat pergi ke sekolah.
......................
Sesampainya disekolah, Arick terlebih dahulu masuk setelah berpamitan pada daddynya. Namun Ansel dengan wajah dingin, seperti engan untuk melangkahkan kakinya.
" Boy." Azzam menegur Ansel yang masih berdiam diri di dalam mobil.
__ADS_1
Mata itu hanya melirik sang daddy, lalu Ansel menghembuskan nafasnya dengan begitu kasar.
" Jangan kecewakan mommy, belajarlah dengan baik boy. Anggap saja mereka menyukaimu, jika itu masih terjadi. Daddy yang akan menghadapinya, yakinlah dengan perkataan daddy." Azzam menasehati Ansel.
" Baiklah dad, tapi mommy sedang tidk sehat dad. Abang mau menemani mommy." Ansel merengek agar sang daddy mengabulkannya.
" No, no and no. Masuklah, jika tidak ingin daddy marah!" Azzam semakin tidak bisa menahan dirinya untuk marah.
" Ok dad, ok!" Ansel turun dari mobil dengan wajah teramat kesal, ia kemudian menutup pintu mobil dengan begitu kasarnya dan berjalan masuk ke sekolah.
Brak!!
" Ah, anak itu. Bagaimana bisa sifatnya mengcopy paste diriku, kenapa tidak sifat mommynya saja!" Tangan kekar itu mengusap wajahnya dna mendengus kesal.
" Hem." Hanya deheman yang Azzam berikan sebagai jawaban.
Leman menjalankan laju mobil itu dengan kecepatan sedang, menuju perusahaan. Seperti kedua puteranya, pikiran Azzam pun selalu terbayang dengan sang istri. Berusaha untuk fokus dengan pekerjaan, bahkan Daffa pun menjadi heran dengan sikap Azzam.
" Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tegur Daffa, saat Azzam tengah melamun diruang kerjanya.
" Tidak, laporkan perkembangan yang ada." Azzam pun kembali mencoba fokus dengan pekerjaannya, meminta Daffa untuk menyampaikan berbagai laporan mengenai perusahaan.
Disaat Daffa sedang berbicara, melaporkan apa yang Azzam minta. Suara dering ponselnya miliknya berdering, terlihat nama sang penelfon. Merasa heran, Azzam pun segera menerimanya.
" Ada apa?" Azzam menjawab telfonnya.
__ADS_1
" Tuan, nona...." Ternyata Jaka yang menelfon Azzam, ia menyampaikan apa yang terjadi.
Tanpa berfikir lama, Azzam langsung saja berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang kerjanya dengan tergesa-gesa. Daffa semakin tidak habis pikir dengan apa yang terjadi, untuk melepas rasa penasarannya. Daffa menghubungi Jaka menggunakan ponselnya, tapi tidak ada jawaban. Lalu Daffa pun menghubungi penjaga rumah utama.
" Dimana Jaka?" Daffa langsung menanyakan maksudnya.
" Jaka sedang dalam perjalan bersama bik Ipah kerumah sakit, tuan." Jelas sang penjaga kepada Daffa.
" Siapa yang sakit?" Daffa semakin penasaran dengan apa yang terjadi.
" Nona besar, pingsan tuan." Jawab sang penjaga.
" Pingsan?! memangnya kenapa sampai iti terjadi?"
" Saya kurang tau, tuan."
" Baiklah, terima kasih."
" Iya tuan."
Pantas saja, tuan terlihat begitu sangat khawatir. Ada apa dengan nona, sampai pingsan begitu? Akh, nanti akan aku tanyakan lagi. Tuan! Apa aku bisa bersantai sedikit, kenapa kau selalu memberikanku pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya. Huh! Daffa.
......................
Begitu mendapatkan kabar mengenai istrinya, Azzam segera meninggalkan perusahaan dan menuju rumah sakit. Ia mengendarai sendiri mobilnya dengan kecepatan maksimal, pikirannya sudah tidak bisa bernego lagi untuk segera sampai dirumah sakit.
__ADS_1